Artikel

17-Jan-2016

RD Yustinus Joned Saputra

"Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/da/Giotto_-_Scrovegni_-_-24-_-_Marriage_at_Cana.jpg

Pesta perkawinan pada umumnya dipersiapkan dengan baik serta cermat agar pada hari “H” atau hari pesta yang direncanakan sungguh mengesan serta tidak memalukan. Salah satu perwujudan bahagia dari yang mempunyai pesta adalah menjamu para tamu sebaik mungkin antara lain dalam hal konsumsi atau makan-minum. Akan sangat memalukan jika dalam perjamuan pesta perkawinan sampai terjadi kekurangan konsumsi atau makan-minum. Itulah yang terjadi dalam pesta perkawinan di Kana, dimana Yesus bersama Bunda Maria juga hadir. Pemilik pesta atau pengundang tidak tahu bahwa para pelayan kebingungan karena kehabisan minuman anggur sebagai salah satu menu utama yang harus disuguhkan. Tidak boleh terjadi bahwa pengundang pesta dipermalukan karena kekurangan anggur, tetapi apa yang dapat dikerjakan oleh para pelayan untuk mengatasinya? Bersyukurlah Bunda Maria dan Yesus hadir di dalam pesta tersebut, sehingga kehadiranNya dapat menyelamatkan: mujizat perdana dikerjakan oleh Yesus dengan ‘mengubah air menjadi anggur yang terbaik’.

“Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh2:3-5)

Dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari maupun kegiatan pesta khusus seperti pesta perkawinan kiranya peranan ibu/perempuan sungguh penting atau vital. Kaum ibu atau perempuan kiranya dianugerahi kepekaan lebih daripada laki-laki, dan pada umumnya dalam berbagai macam kegiatan mereka berperan di belakang atau sebagai pendukung dan pendorong atau motivator. Begitulah yang terjadi dalam diri Bunda Maria, teladan umat beriman; ia peka, melihat sesuatu yang dapat dikerjakan demi keselamatan sesama. Sebagai teladan umat beriman, Maria percaya bahwa Yesus, “Anaknya”, dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan situasi, karena Ia adalah Penyelamat Dunia. Mujizat pertama dikerjakan oleh Yesus dengan mengubah ‘air menjadi anggur’ dan mujizat ini dapat terjadi dengan kerjasama para pelayan yang harus menyediakan bahan serta melaksanakan apa yang dinasehatkan Bunda Maria serta melaksanakan perintah Yesus.

“Air berubah menjadi anggur” berarti di dalam hal yang biasa terdapat yang luar biasa atau yang tidak enak menjadi lebih enak dan nikmat. Dan itu semua dapat terjadi hanya karena kasih karunia Allah yang butuh kerjasama manusia untuk mewujudkannya. Kasih karunia Allah senantiasa siap-sedia dan tanpa batas waktu, ruang maupun situasi, yang butuh untuk ditingkatkan dan diperdalam adalah kesiap-sediaan manusia untuk mewujudkan kasih karunia tersebut. Dari pihak kita manusia dibutuhkan ‘kepekaan untuk melihat’ dengan meneladan Bunda Maria serta ketaatan terhadap sabda atau perintah Yesus. Kepekaan untuk melihat dan ketaatan rasanya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Dengan menghayati ‘kepekaan untuk melihat dan ketaatan’ akan terjadilah mujizat-mujizat dalam kehidupan. Maka marilah kita buka mata hati dan budi kita serta kita persembahkan kehendak dan cara bertindak kita pada perintah Tuhan.

Untuk dapat melihat dan taat dengan baik memang dibutuhkan keutamaan kerendahan hati, maka marilah kita tingkatkan dan perdalam juga keutamaan kerendahan hati dalam hidup sehari-hari. Dalam hal kerendahan hati kita juga dapat belajar dari Yesus dengan merenungkan dan mencoba untuk menghayati sabda ini : “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil2:5-7). “Menjadi sama dengan manusia” rasanya juga telah dihayati oleh Bunda Maria maupun Yesus yang sama-sama menjadi tamu dalam pesta perkawinan di Kana waktu itu. Mereka tidak duduk di ‘tempat terhormat’ melainkan menjadi satu dan sama dengan yang lain, dan dengan demikian dapat ‘melihat dengan awas dan tepat’ apa yang harus dikerjakan demi keselamatan sesamanya. Rasanya dengan menghayati ramai-ramai apa yang sama di antara kita juga akan terjadi ‘mujizat-mujizat’, air menjadi anggur, yang tidak enak menjadi enak dan nikmat. (RD. Yustinus Joned Saputra)