Artikel

28-Jan-2016

Tatik

Melintasi Jurang dengan Salib

sumber: http://3.bp.blogspot.com/-S2n-fVXhHC8/TVdtBIw5XjI/AAAAAAAAAMQ/eoYpW4VUsuU/s1600/8.jpg

Thomas.keuskupanbogor.or.id - Seorang pria harus menanggung banyak cobaan, kesulitan, dan kesengsaraan dalam hidupnya. Pada saat depresi berat ia bertanya kepada Tuhan, mengapa ia terus-menerus terkena penderitaan dan rasa sakit. Tuhan menjawab pertanyaannya dalam mimpi.

Ia melihat kerumunan besar orang bergerak maju menuju surga bersamanya. Setiap orang membawa salib kayu. Kemudian ia memeriksa salibnya dan melihat bahwa salibnya lebih panjang dari orang lain yang berjalan bersamanya. Ia ingin mengurangi bebannya. Ia melihat sebuah gergaji di jalan yang dilaluinya. Lalu ia memotong sebagian kaki salib dengan menggunakan gergaji itu. Akhirnya ia bisa berjalan lebih cepat dengan beban yang ringan dan dalam suasana hati yang lebih baik.

Surga kebahagiaan terlihat dari kejauhan. Pria itu bergerak cepat untuk mencapai tujuannya lebih dulu. Tiba-tiba ia melihat jurang yang sangat dalam. Rekan-rekan seperjalanannya terlihat menempatkan salib yang mereka bawa di antara bibir jurang, jadi seperti jembatan hingga memudahkan mereka berjalan di sepanjang salib itu untuk menyeberangi jurang. Salib mereka ternyata sesuai dengan panjang antar-bibir jurang untuk menyeberangi jurang tersebut.

Tapi, salib yang dimiliki oleh pria itu terlalu pendek untuk membantunya menyeberangi jurang. Pria itu berdiri sendiri, tak berdaya, dan putus asa. Sementara semua orang lain telah dengan mudah menyeberangi jurang menggunakan salib mereka sendiri dan bergegas mencapai tanah yang dijanjikan. Ia menyesal karena telah memendekkan salibnya.

Hidup bukanlah tempat tidur mawar, tetapi jalan berduri. Tuhan memberi kita beban, dan Dia juga memberikan kita bahu. Kita seperti kantong teh. Kekuatan kita terungkap hanya ketika kita masuk ke dalam air panas. Batu sandungan dan batu loncatan hanyalah berbeda pada cara kita menggunakannya. Kesulitan adalah guru terbaik.

William Arthur Ward berpendapat, “Kesulitan menyebabkan beberapa orang memecahkannya, lainnya berhasil memecahkan rekor.” Katanya lagi, “Orang-orang hebat mengatasi kesulitannya dan mencapai ketinggian dengan prestasi memutar kesulitan menjadi kemenangan, kegagalan menjadi harta, kemunduran menjadi keberhasilan, hambatan menjadi peluang, dan beban menjadi berkat. Mereka menolak terhambat oleh cacat, kecewa dengan asa, diatasi dengan lawan, mengalahkan kekecewaan, atau hancur oleh bencana.”

Yesus berkata, “Barang siapa tidak memikul salibnya, dan mengikuti langkah-langkahKu, tidak cocok untuk menjadi muridKu.” (Mat 10:38, Luk. 14:27). “Jika ada yang ingin ikut denganKu, ia harus melupakan diri, memikul salib-Ku dan mengikuti Aku.” (Mat. 16:24, Mrk 8:34, Luk. 9:23).

Sementara Santo Paulus mengatakan, “Saya menganggap bahwa apa yang kita derita sekarang ini tidak dapat dibandingkan sama sekali dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Rom. 8:18).