Artikel

31-Jan-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Kuat Menghadapi Penolakan

Pengajaran Yesus di Nazaret diselingi reaksi orang-orang di sekitarNya. Perkataan Yesus: Nubuat Yesaya dinyatakan-Nya sudah genap. Ketika mereka mendengar itu, timbul reaksi orang-orang itu: Membenarkan dan mengherankan. Reaksi itu membangkitkan pertanyaan retorik: bukankah Ia ini anak Yusuf? Perkataan Yesus menimbulkan kemarahan orang-orang Nazaret. Lalu mereka mengusir Yesus, bahkan berusaha membunuh-Nya. Tetapi Yesus lolos, “berjalan lewat dari tengah-tengah mereka lalu pergi” (Luk 4:30). Sebenarnya penampilan Yesus mau menunjukkan puncak pernyataan, pewartaan dan janji para Nabi. Kehadiran Yesus membawa Kabar Baik dan memberikan pandangan baru bagi mereka, yang miskin dan tertindas; mereka yang menderita, buta dan terbelenggu (cfr. Luk 4:18-19). Kemiskinan dan penderitaan mereka itu memiliki “nilai”.

Di Kapernaum Yesus dikagumi karena karya-Nya yang menakjubkan (cfr. Luk 4:23), sebaliknya di daerah-Nya sendiri Ia ditolak. Mengapa? Apakah mereka itu terlalu mengenal-Nya? Atau karena mereka itu tidak mampu “memberikan penilaian yang memadai” terhadap ajaran dan karya-Nya? Agaknya Yesus hanya diterima sebagai Pribadi yang “sensasional”, tidak sebagai Pribadi yang membawa penentuan bagi hidup mereka.

Penolakan terhadap Yesus oleh bangsanya sendiri ternyata membawa arah bagi kehidupan yang tidak ringan; tetapi juga membuka arah baru bagi perkembangan warta gembira. Pewartaan Kabar Gembira menjadi warta bagi seluruh bangsa manusia. Bagi Lukas, Gereja itu semestinya bersifat universal.

Saudara-saudara, manusia sering menyangka orang dari segi lahiriahnya saja. Yang gemerlapan dan sensasional, itulah yang diminati. Demikian dalam kehidupan beragama dan kehidupan rohani, yang aneh-aneh itulah yang menarik. Misalnya, dalam upacara ritualnya, didemonstrasikan “tanda-tanda menajubkan”, “meramal nasib orang”, kendati sia-sia di dalamnya, tetapi itulah yang memberi sensasi besar! Orang mudah menolak yang esensial, dan mudah menerima yang sensasional!

Dalam injil diceritakan bagimana Yesus ditolak di kampung halaman-Nya sendiri; mereka sangat kenal Dia. “Bukankah Dia, anak Yusuf si tukang kayu itu?” Yesus itu orang biasa saja, anak Nazaret. Kalau Dia luar biasa atau hebat, coba Dia buat suatu “tanda heran”, seperti yang dibuat-Nya di Kapernaum dan di kota-kota lain.

Yesus mendapatkan penolakan, karena mereka hanya mau Yesus yang sensasional. Yesus yang mampu “buat tanda yang mengherankan”. Yesus pun tidak menyesal ditolak orang-orangNya sendiri. Tidak ada nabi yang dihormati di kampung halamannya sendiri. Maka Yesus berbalik kepada bangsa-bangsa lain! Memang seorang nabi atau Utusan Allah mendapat misi yang lebih luas; suatu misi yang tidak dapat dibatasi pada kalangan sendiri. Ia harus pergi mewartakan sabda hukuman dan berita keselamatan Allah di tempat lain juga. Seorang nabi mempunyai misi “lintas batas” dengan implikasi bahwa tidak dapat diklaim dan diborong oleh bangsa tertentu atau oleh umatnya sendiri.

Allah memilih sejumlah orang sebagai sarana dan penyalur rahmat, agar melalui mereka semua orang memperoleh berkat dan rahmat Allah itu. Ketika memilih Abraham, Allah mengatakan kepadanya, “Engkau akan menjadi berkat bagi banyak bangsa.” Demikian halnya dengan Gereja, Konsili Vatikan II mengatakan: “Gereja merupakan sakramen keselamatan dunia, suatu tanda dan sarana yang ditetapkan Allah demi keselamatan segala orang dan bangsa pada segala zaman” (LG 1).

Kita perlu belajar dari pengajaran injil hari ini: pilihan dari pihak Allah merupakan suatu penugasan. Seberapa pun besarnya penolakan asalkan kita benar, mengapa harus takut?. Santo Lukas mau menegaskan bahwa tugas kenabian orang beriman ialah memperhatikan umat manusia agar dapat merasakan tawaran kasih dan keselamatan Allah. Orang yang dipilih Allah tidak dipilih untuk dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, dan tidak untuk melakukan apa yang menjadi kesukaannya sendiri, tetapi untuk menjalankan satu tugas perutusan demi kepentingan dan keselamatan banyak orang. Sebagai bangsa dan pribadi yang sudah terpilih, kita diutus untuk menjadi terang, garam dan ragi masyarakat kita. Semoga berkat Tuhan selalu menyertai pelayanan Anda! Amin.