Artikel

05-Feb-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Aku dan Perayaan Ekaristi (1)

sumber: https://c2.staticflickr.com/2/1712/24802249196_8e2f8889cb_n.jpg

thomas.keuskupanbogor.or.id - Seringkali kita datang dan hadir mengikuti Perayaan Ekaristi dari awal hingga akhir, namun apakah kita mengetahui apa itu liturgi Perayaan Ekaristi?. Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis. Perayaan Ekaristi merupakan puncak karya Allah menguduskan dunia dan puncak karya manusia memuliakan Bapa melalui Kristus, Putera Allah, dalam Roh Kudus. Perayaan Ekaristi sendiri mengandung 4 bagian yakni Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup

I. Ritus Pembuka

Tujuan ritus ini adalah untuk mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan umat supaya dapat mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak. Lalu, apa saja isinya ? Isi dari Ritus Pembuka yaitu:

Perarakan masuk, apa itu artinya dan bagaimana ?
Setelah seluruh umat berkumpul dan siap memulai Perayaan Ekaristi, Imam bersama dengan para pelayan liturgi melakukan perarakan masuk. Lebih bagus lagi jika Imam dan para petugas liturgi berjalan perlahan memasuki ruang dari pintu utama gereja diringi oleh nyanyian pembuka. Perarakan masuk diharapkan meriah, namun jika tidak ingin membutuhkan waktu yang lama maka Imam didampingi oleh putra altar atau sendirian dapat langsung masuk melalui ruang sakristi.

Susunan perarakan itu sendiri ada aturannya. Susunan sederhana misalnya; pembawa salib pancang (kalau ada) didampingi oleh pembawa lilin, lalu diikuti para misdinar atau putra altar dan pembawa dupa. Formasi ini dapat juga diubah lagi, misalnya pembawa dupa berada paling depan diikuti oleh pembawa lilin yang mengawal salib, kemudian para pelayan Misa atau misdinar lainnya, petugas bacaan (lektor), para petugas pembagi komuni (prodiakon), para Imam Konselebran (kalau ada dan merupakan Misa meriah), dan yang terakhir adalah Imam Selebran sebagai pemimpin Misa.

Dalam liturgi, Imam adalah wakil dari pribadi Kristus(in persona Christi). Saat ia bergabung dengan jemaat dalam perarakan masuk, seluruh komunitas liturgis menyatu menjadi tampilan kehadiran Kristus. Jadi di situ umat yang berhimpun menyambut kehadiran Kristus di antara mereka.

Untuk apa ada Nyanyian Pembuka ?
Upacara liturgi menjadi lebih agung bila dirayakan dengan nyanyian meriah, bila dilayani oleh sejumlah petugas dan bila umat berpartisipasi secara aktif”(SC 113). Musik liturgi Gereja selalu melayani teks dan tindakan liturginya. Oleh karena itu, Nyanyian Pembuka menjadikan Perarakan Masuk terasa meriah dan agung, serta anggun. Tujuan dari Nyanyian Pembuka adalah :

Nyanyian Pembuka dapat dibawakan silih berganti oleh paduan suara dan umat atau bersama-sama. Yang sangat penting di sini adalah seluruh umat diajak untuk terlibat di dalamnya. Panjang dan lamanya nyanyian hendaknya disesuaikan dan selaras dengan lamanya perarakan. Nyanyian Pembuka boleh menggunakan teks nyanyian lain asal sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya sudah disahkan oleh Konferensi Uskup. Tema nyanyian juga harus disesuaikan dengan misteri liturgi yang dirayakan pada saat itu. Sebelum menjatuhkan pilihan pada suatu teks nyanyian, terlebih dahulu kita baca baik-baik syair atau teks nyanyian sebagai pengiring perarakan masuk.

Bagaimana Penghormatan Altar ?
Setibanya di panti Imam; Imam, Diakon dan para pelayan menghormati Altar dengan membungkuk khidmat (Jika tabernakel kosong), masing-masing sesuai dengan urutan prosesinya. Kemudian menempatkan diri pada tempat-tempat yang telah disediakan. Sementara itu Imam mengelilingi altar dengan mendupainya, jika ada salib pancang, salib didupai terlebih dahulu baru setelah itu altar. Kemudian Imam mencium altar sebagai tanda penghormatan. Altar merupakan lambang Kristus sendiri. Ada dua macam penghormatan altar, yaitu :

  1. Membungkukkan badan di depan altar
  2. Menciumnya pada bagian tengah. Biasanya cara yang kedua dilakukan hanya oleh orang tertahbis yakni diakon, imam, dan uskup.

Tanda Salib dan Salam
Setelah ritus penghormatan altar kemudian Imam bersama dengan seluruh umat membuat tanda salib. “Dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin” sebagai Tanda Salib pertama yang dibuat oleh umat dalam Misa. Umat cukup membuat Tanda Salib sebanyak dua kali selama misa yaitu pada saat pembuka dan Berkat pengutusan. Sesudah Imam membuat Tanda Salib, umat diharapkan untuk menjawab “Amin” secara bersamaan. Kemudian Imam menyampaikan salam kepada umat sebagai suatu pernyataan bahwa Allah hadir di tengah-tengah mereka. Rumusan salam juga berbau Ilahi karena seolah Allah sendiri yang hadir menyapa mereka melalui wakil-Nya, sang Imam.

Tindakan memberi salam bagusnya dilakukan oleh Imam dengan berdiri di depan kursi Imam, karena kursi Imam merupakan simbol kewibawaan seorang pemimpin, baik sebagai gembala, pengajar, maupun pemimpin doa atau ibadat. Tetapi sering kita temui di banyak gereja Imam melakukan tindakan ini di depan altar atau mimbar. Sebenarnya, altar digunakan untuk Liturgi Ekaristi dan mimbar untuk Liturgi Sabda.

Kata Pengantar
Kata pengantar diberikan untuk mengantar umat atau jemaat untuk mengetahui tema atau misteri Misa yang akan dirayakan saat itu. Kata pengantar bukanlah homili atau khotbah karena kata pengantar merupakan rumusan tema bacaan misa yang ada kaitannya dengan pesan homili nanti. Jika kata pengantar terlalu panjang, maka akan membuat resah umat. Bagian akhir dari kata pengantar adalah ajakan pada umat untuk meneliti batin, menjelang pernyataan tobat. Kata pengantar disampaikan oleh Imam selebran atau pelayan lain yang dianggap berwibawa. Sebaiknya kata pengantar dipersiapkan dengan baik terlebih dahulu agar ketika tiba saatnya untuk menyampaikan kata pengantar pesan yang disampaikan berkaitan dengan tema bacaan Misa dan homili

Ritus Tobat, Tuhan Kasihanilah
Tujuan dari ritus tobat adalah mengajak umat untuk mengakui dan memohon pengampunan atas segala dosa. Pernyataan tobat dimulai dengan suasana hening, kemudian umat menyatakan tobat dengan rumus pengakuan umum.Setelah itu, imam memberikan absolusi. Perlu diperhatikan, bahwa absolusi ini tidak memiliki kuasa pengampunan seperti halnya dengan absolusi dalam Sakramen Tobat. Dalam absolusi ini, umat tidak perlu membuat tanda salib untuk menanggapi absolusi dari Imam. Sehingga Imam pun tidak perlu memberikan penumpangan tangan atau memberikan berkat yang seringkali membawa umat untuk membuat tanda salib.

Pada hari minggu, khususnya selama Masa Paskah, pernyataan tobat dapat diganti dengan pemberkatan dan perecikan dengan air suci untuk mengenang pembaptisan (lihat Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR), no. 51). Pernyataan tobat, biasanya dilanjutkan dengan Tuhan Kasihanilah. Seruan ini dapat diucapkan sekali, atau diulang-ulang sesuai dengan rumusannya atau lagu yang dinyanyikan.

Kemuliaan, Gloria
Kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman Kristen Kuno. Dalam Pedoman Umum Misale Romawi no. 53, dijelaskankan, bahwa lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anak domba Allah, serta memohon belaskasihanNya. Dasar Biblis madah ini adalah dari Injil Lukas 2 :14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya”. Madah ini sebaiknya dinyanyikan bersama-sama dengan umat. Namun tidak menutup kemungkinan kalau madah ini dinyanyikan bergantian antara umat dengan koor atau hanya dinyanyikan oleh koor. Madah ini dinyanyikan dengan berdiri tegap, tidak menyandarkan tubuh, tidak bersilang kaki, tidak santai. Sikap itu dihindari supaya kita dapat memuji dan memuliakan Allah dengan hormat, tulus dan gembira.

Madah ini dapat juga dibacakan/didaraskan secara bergantian antara umat dengan umat (bukan antara Imam dengan umat) atau bersama-sama. Sesuai dengan sifatnya yang meriah, seharusnya madah ini tidak cukup hanya dengan dibacakan, karena akan mengurangi fungsi liturgisnya. Madah Kemuliaan biasanya dinyanyikan setelah Tuhan Kasihanilah. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa madah ini dinyanyikan sebagai lagu pembukaan (khususnya untuk Misa Natal), atau apabila nyanyian ini terlalu panjang, dapat dinyanyikan setelah umat menyambut komuni (sebelum Doa Sesudah Komuni). Dalam sisi tahun liturgi, madah ini dinyanyikan pada hari Minggu (kecuali masa Adven dan Prapaskah), hari Raya dan Pesta serta perayaan yang setingkat.

Doa Pembuka
Doa ini merupakan bagian terakhir dari rangkaian Ritus Pembuka. Dalam doa ini, Imam mengajak umat untuk hening sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan, dalam dalam hati mengungkapkan permohonannya masing-masing. Doa ini dimulai dengan ajakan “Marilah Berdoa” dan kemudian hening. Doa Pembukaan mengungkapkan inti perayaan liturgi pada hari yang bersangkutan. Berdasarkan tradisi gereja tua, doa ini diarahkan kepada Allah Bapa, dengan pengantaraan Putra, dalam Roh Kudus, dan diakhiri dengan penutup Trinitas atau penutup panjang, seperti: Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau, dalam persatuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, kini dan sepanjang masa. Umat memadukan hati dalam doa pembukaan, dan menjadikannya doa mereka sendiri dengan aklamasi. Amin.

Catatan penting dalan Doa Pembukaan adalah, bahwa doa ini bersifat ‘presidensial’, hanya Imam yang berhak membawakannya, sedangkan umat hanya mengucapkan kata amin. Sehingga perlu dihindari untuk mengajak umat terlibat dalam membacakan doa ini, kecuali ajakan untuk menyatakan ‘Amin’.

Bersambung Minggu Depan………...