Artikel

07-Feb-2016

RD Albertus Kurniadi

Bertolaklah ke Tempat yang Dalam

sumber: https://margonolucas.files.wordpress.com/2014/06/angin-ribut-diredakan.jpg

thomas.keuskupanbogor.or.id - Bertolaklah berarti menyorong, mendorong. Kata ini diangkat oleh Yesus karena memiliki arti yang mendorong orang atau menyemangati orang untuk melakukan sebuah tindakan. Bertolaklah tentunya menuntut kesediaan yang pantas untuk dihayati, dihidupi serta diperbaharui dalam hidup manusia yang konkret.

Bertolak ke Tempat yang Dalam
Kata ini bila direnungkan menjadi kata yang berbuah manis dalam kehidupan manusia, kata ini oleh Mgr. I Suharyo diartikan sebagai kata ajakan sederhana yakni meninggalkan segala kenyamanan hidup. Bertolaklah ke tempat yang dalam diambil menjadi moto tahbisan Mgr. (Alm) Pujo sebagai penyemangat penggembalaannya sebagai uskup.

Dua tokoh uskup ini merenungkan kata perintah dari Yesus yang sama, namun menjadi berani mengalami yang baru. Meninggalkan kenyamanan berarti meninggalkan segala tindakan yang membuat kita merasa stabil, tenang tanpa huru-hara, tanpa perkara. Keadaan stabil membuat manusia mengalami ketenangan, kenyamanan sehingga membuat terlena. Kata meninggalkan kenyamanan berarti membuat kita yang menjalaninya sebuah perjuangan di tengah topan kehidupan yang mendera. Perintah Yesus kepada Petrus “bertolaklah ke tempat yang dalam“ membuat Petrus menyandarkan diri pada Yesus, namun di tengah badai kehidupan yang menerpa hidupnya membuat Petrus jatuh tersungkur di depan Yesus memintanya untuk meninggalkannya, namun Yesus tidak pernah menolak manusia yang bersedia meninggalkan kenyamanan hidup.

Rasa nyaman membuat manusia terlena, terbuai oleh apapun yang dikerjakannya, rasa nyaman bisa membuat manusia kehilangan kreativitasnya karena manusia merasa sudah melampaui itu semua, sudah kehilangan kemampuan untuk menggembangkan diri, sehingga tak merasakan sakitnya jatuh tersungkur.

Sikap Yesus yang tidak menolak tiap pribadi yang jatuh tersungkur dihadapanNya ini membuat petrus bahkan kita semua menjadi pribadi yang semakin bebas merasakan kasih Yesus yang membebaskan, menguatkan manusia. Sikap ini nampak pada dari jawaban Yesus “jangan takut, mulai sekarang kamu akan menjala manusia”. Kata yang menunjukkan pembebasan yang membuat manusia berani untuk memulai dari awal lagi dan lagi. RD. Albertus Kurniadi.