Artikel

07-Feb-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Aku dan Perayaan Ekaristi (2)

sumber: https://c2.staticflickr.com/2/1553/24530845450_d06a6256b7_n.jpg

II. Liturgi Sabda

Dalam Perayaan Ekaristi, Liturgi Sabda mendapat tempat sebelum Liturgi Ekaristi. Urutan Liturgi Sabda adalah: Bacaan Pertama, Mazmur Tanggapan, Bacaan Kedua, Bait Pengantar Injil, Bacaan Injil, Homili, Syahadat dan Doa Permohonan. Mengapa Liturgi Sabda menjadi bagian dalam Perayaan Ekaristi? Dalam Pamflet Liturgi M3 dijelaskan bahwa dalam Perayaan Ekaristi, Kristus juga hadir dalam Sabda Allah yang diwartakan. Sabda itu hidup dan penuh daya berkat adanya kekuatan Roh Kudus. Sabda itu pun menjadi dasar kegiatan liturgis, dan pegangan serta penunjang seluruh kehidupan kita.

Kemudian dijelaskan juga bahwa dalam Liturgi Sabda, sejarah keselamatan yang sudah terekam dalam Kitab Suci diwartakan kembali lewat bunyi kata-kata. Sedangkan dalam Liturgi Ekaristi, sejarah yang sama ditampilkan dengan bentuk lambang-lambang sakramental (roti dan anggur). Kedua bagian utama Perayaan Ekaristi ini membangun suatu tindakan ibadat yang tunggal.

Hal utama yang mendukung bagian ini adalah ‘Saat Hening’. Dalam Liturgi Sabda harus diusahakan sedemikian rupa yang dapat mendorong umat untuk merenung. Saat hening merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa (lihat Pedoman Umum Misale Romawi Baru). Saat hening ini baiklah ditempatkan pada bagian sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua dan sesudah homili.

Bacaan Pertama, Kedua dan Bacaan Injil
Bacaan tersebut diambil dari Kitab Suci resmi yang berlaku di Gereja kita. Bahan dari Kitab Suci sifatnya tak tergantikan. Dalam Pamflet Liturgi M3 dijelaskan bahwa dalam liturgi, kita bertemu dengan Allah. Kita mendengarkan Allah yang bersabda, terutama yang secara Khusus diwartakan dalam pembacaan Kitab Suci. Sabda Allah adalah vital, tak tergantikan bacaan umum mana pun. Untuk perayaan liturgi, bacaan dari Kitab Suci tetap tak tertandingi.

Untuk Ekaristi hari biasa cukup menggunakan dua bacaan, yaitu bacaan pertama dan bacaan Injil. Sedangkan untuk hari minggu atau Hari Raya tetap menggunakan tiga bacaan. Pengecualian untuk Perayaan Malam Paskah. Dalam Perayaan ini disediakan sembilan bacaan. Alangkah baiknya semua bacaan tersebut dibacakan, tetapi apabila tidak, sebaiknya minimal dibacakan tiga bacaan, terutama bacaan dari Kitab Keluaran 14 dan dua bacaan dari Perjanjian Baru.

Bacaan pertama biasanya diambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Dasar teologisnya karena gereja mau menyajikan sejarah keselamatan yang sudah dimulai sebelum Kristus. Pengecualian terjadi selama masa Paskah, dimana bacaan pertama diambil dari Kisah Para Rasul. Kemudian bacaan kedua biasanya diambil dari Surat-surat para Rasul, sedangkan Bacaan Injil dari keempat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Teks bacaan yang ada dalam Perayaan Ekaristi biasanya tidak persis sama dengan Teks yang ada dalam Kitab Suci. Teks tersebut telah diedit untuk keperluan liturgi. Dalam pembacaan Kitab Suci yang dibawakan oleh petugas Liturgi, kita memang tidak diharapkan untuk membaca teks Kitab Suci secara tersendiri. Kita cukup mendengarkan dengan seksama Sabda Allah yang sedang dikumandangkan. Itulah sebabnya kita tidak perlu membawa Kitab Suci saat Perayaan Ekaristi. Teks dalam bentuk selebaran hanya membantu kita merenungkan bacaan Ekaristi sebelum Perayaan Ekaristi dimulai.

Khusus untuk bacaan Injil, Dalam Pedoman Umum Misale Romawi Baru no. 60 dijelaskan bahwa Pembacaan Injil merupakan puncak Liturgi Sabda. Liturgi sendiri mengajarkan bahwa pemakluman Injil harus dilaksanakan dengan cara yang sangat hormat. Penghormatan itu diungkapkan sebagai berikut: 1) Diakon yang ditugaskan memaklumkan Injil mempersiapkan diri dengan berdoa atau minta berkat kepada Imam selebran; 2) umat beriman, lewat aklamasi-aklamasi, mengakui dan mengimani kehadiran Kristus yang bersabda kepada umat dalam pembacaan Injil; selain itu umat berdiri selama mendengarkan Injil; 3) Kitab Injil sendiri diberi penghormatan yang sangat khusus.

Mazmur Tanggapan
Mazmur Tanggapan dilakukan setelah bacaan pertama. Mazmur Tangapan ini penting karena menopang permenungan atas sabda Allah. Seperti hakikatnya yang merupakan sebuah nyanyian, maka alangkah baiknya apabila bagian ini dinyanyikan atau didaraskan. Menjadi satu catatan penting bahwa harap dibedakan antara Mazmur Tanggapan dengan Lagu Antar Bacaan. Kita sering terjebak dengan istilah ini. Istilah Lagu Antar Bacaan kadang malah membelokkan makna dan fungsi liturgis yang sebenarnya, yang kemudian berbuntut pada pemilihan lagunya. Karena istilah itu memunculkan kecenderungan memilih lagu seenaknya asalkan sesuai dengan tema bacaan. Sehingga amat baiklah apabila pada bagian ini, kita tetap menggunakan bahan dari buku Mazmur Tanggapan yang secara khusus telah disediakan dan diterbitkan oleh Komisi Liturgi KWI.

Bait Pengantar Injil
Setelah bacaan yang langsung mendahului Injil, dilagukan bait pengantar Injil, dengan atau tanpa Alleluya yang sesuai dengan masa liturgi yang sedang berlangsung. (lihat PUMR Baru no. 62). Pada bagian ini, umat mengambil sikap berdiri dan melagukan bait pengantar Injil. Alleluya dalam bait pengantar Injil haruslah dinyanyikan. Sehingga apabila tidak mampu menyanyikan, sebaiknya tidak dibacakan, atau lebih baik Ritus Perarakannya tidak perlu diadakan. De-ngan mendaraskan atau melagukannya secara sederhana kiranya merupakan jalan keluar terbaik untuk bisa mempertahankan fungsi ‘Alleluya’ sebagai pe-ngiring Ritus Perarakan Bacaan Injil. (lihat Pamflet Liturgi M3)

Homili
Dalam PUMR Baru no. 65 dijelaskan bahwa homili merupakan bagian liturgi yang sangat dianjurkan, sebab homili itu penting untuk memupuk semangat hidup kristiani. Homili itu haruslah merupakan penjelasan tentang bacaan dari Alkitab, ataupun penjelasan tentang teks lain yang diambil dari bahan Misa hari itu, yang bertalian dengan misteri yang dirayakan, atau yang bersangkutan dengan keperluan khusus umat yang hadir. Dasar Biblisnya adalah: pada mulanya Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan “khabar Gembira” kepada segala makhluk (Mrk 16:15). Sejak itulah homili menjadi bagian penting dalam Gereja Kristiani. (lihat Pamflet Liturgi M3). Homili mempunyai tujuan mendekatkan umat beriman pada Sabda Allah. Sabda Allah itu dijadikan inspirasi bagi hidup dan dimaknai terus menerus untuk memupuk semangat hidup kristiani (PUMR no. 41). Perlu juga diperhatikan bahwa setiap homili hendaknya umat tidak perlu membuat tanda salib pada awal homili dan akhir homili. Karena homili bukanlah doa yang biasanya selalu dibuka dan ditutup dengan tanda salib. Seperti telah dijelaskan bahwa Tanda salib dalam perayaan Ekaristi hanya dilakukan dua kali, yaitu saat awal dan berkat penutup.

Homili pada umumnya dilakukan oleh Imam pemimpin perayaan Ekaristi. Ia dapat juga menyerahkan kepada Imam konselebran ataupun kepada Diakon, tetapi tidak kepada seorang awam. Imamlah yang membawakan homili karena ia adalah pribadi Kristus (in persona Christi) dan sekaligus juga merupakan pribadi Gereja (in persona Ecclesiae). Saat berhomili, Imam harus mampu mewartakan khabar gembira dan Kristus sebagai pusat, bukan mewartakan dirinya sendiri.

Tetapi kadangkala kita heran pada suatu perayaan Ekaristi menyaksikan seorang awam, Suster atau Frater berbicara setelah bacaan Injil. Mengapa mereka diperbolehkan berbicara? Perlu adanya penjelasan langsung, bahwa apa yang dilakukan oleh mereka bukanlah homili. Bisa jadi mereka sedang berbagi pengalaman atau berkotbah. Apakah kotbah dengan homili berbeda? Inilah yang selama ini membuat kita bingung membedakan antara keduanya. Kita sering salah kaprah mengartikan keduanya. Menurut Pamflet Liturgi M3, homili itu bermakna sakramental, menghadirkan Allah, sedangkan kotbah tidak. Homili hanya dilakukan dalam perayaan liturgi dan selalu berdasarkan pada bacaan-bacaan dari Kitab Suci atau dari teks liturgi yang telah ditentukan dalam penanggalan Liturgi Gereja. Homili adalah hak Imam tertahbis. Sedangkan kotbah boleh dilakukan oleh siapa saja, dilakukan di luar perayaan liturgi resmi dan tidak harus berdasarkan Kitab Suci yang tertera pada penanggalan Liturgi yang berlaku dalam Gereja Romawi.

Syahadat/Pernyataan Iman
Maksud pernyataan iman atau Syahadat dalam perayaan Ekaristi ialah agar seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi sabda Allah yang dimaklumkan dari Alkitab dan dijelaskan dalam homili. Dengan melafalkan kebenaran-kebenaran iman lewat rumus yang disahkan untuk penggunaan liturgis, umat mengingat kembali dan mengakui pokok-pokok misteri Iman sebelum mereka merayakannya dalam Liturgi Ekaristi (PUMR Baru no. 67).

Syahadat ini dapat dilagukan atau diucapkan oleh Imam bersama dengan umat pada hari minggu dan pada hari raya. Untuk perayaan-perayaan khusus yang meriah, syahadat ini dapat juga diucapkan.

Doa Umat
Bagian terakhir dalam Liturgi Sabda ini dimaksudkan supaya umat menanggapi sabda Allah yang telah diterima dengan penuh iman. Lewat doa ini mereka memohon keselamatan semua orang, dan dengan demikian mengamalkan tugas Imamat yang mereka peroleh dalam pembabtisan. Pada umumnya urutan ujud-ujud dalam doa umat ialah: 1) untuk keperluan gereja; 2) untuk para penguasa negara dan keselamatan seluruh dunia; 3) untuk orang-orang yang sedang menderita karena berbagai kesulitan; 4) untuk umat setempat. Akan tetapi, pada perayaan khusus misalnya pada perayaan Sakramen Krisma, pernikahan atau pemakaman, ujud-ujud tersebut dapat lebih dikaitkan dengan peristiwa khusus tersebut (PUMR Baru no. 70).

Dalam doa permohonan, biasanya terdapat intensi-intensi pribadi yang dibacakan, namun sebaiknya intensi tersebut digabungkan dengan ujud yang bertema sama dan yang bertema sama. Tidak ada keharusan untuk dibacakan intensi pribadi dalam doa umat. Maka tidak seharusnyalah siapa pun yang memohon intensi itu menuntut untuk dibacakan secara publik (lihat Pamflet Liturgi M3).

Bersambung Minggu Depan………...