Artikel

21-Feb-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Menuju Kehidupan Baru

Bagaimana perasaan kita bila kita tahu bahwa tidak lama lagi kita akan mengalami penderitaan yang sangat berat. Sebab penyakit itu tidak bisa dielakkan dan kita mengetahui batas umur kita! Apakah yang mesti kita lakukan? Mungkin kita akan mencari orang yang dapat mendampingi dan memberikan peneguhan serta pengharapan!

Ketika Yesus mengetahui saat penderitaan-Nya, Yesus menerima sebuah tanda harapan. Di atas sebuah bukit, ketika Yesus sedang berdoa, kemuliaan Allah terpancar dalam diri-Nya. Yesus berubah rupa dan suara Allah terdengar dari atas awan. “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” (Luk 9:35).

Bacaan Injil minggu ini menceriterakan peristiwa dalam pengalaman para murid yang terpilih, yakni mengalami Tuhan Yesus yang berganti rupa di gunung Tabor. Reaksi Petrus, yang akan mendirikan kemah kontras dengan suara dari langit agar mendengarkan sabda Tuhan. Maka, Masa Prapaskah ini mesti kita jadikan saat untuk melihat arah dasar kehidupan bersama Yesus. Bukan hanya untuk mencari kemuliaan, melainkan juga untuk mengalami, bahwa penderitaan bisa berarti bagi mereka yang mendengarkan rencana dan kehendak Allah.

Pada hari Minggu Prapaskah kedua ini, Gereja menyaksikan kisah transformasi, yaitu peristiwa perubahan yang terjadi di atas gunung Tabor. Ini merupakan titik balik dalam kehidupan Yesus. Pada saat Yesus dibaptis di sungai Yordan, Yesus menjadi sadar akan peran dan misi-Nya, ketika Ia mendengar suara dari langit: “Engkaulah Putera-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22).

Sejak saat itu, Yesus PD, Percaya Diri! Situasi menjadi berubah dan berbeda. Banyak orang memusuhi Yesus. Maka Yesus pergi ke atas bukit untuk berdoa dan menemukan diri dari segala sesuatu yang menimpa diriNya. Begitulah cara yang dilakukan Yesus, bilamana pergi menyendiri ke atas bukit. Yesus dapat bertemu dengan dua orang besar dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Yakni Musa dan Elia dalam kemuliaan. Dalam hidupnya, Nabi Musa dan Elia mengalami permusuhan dari orang-orang yang ingin mereka tolong.

Di atas gunung itu, kedua tokoh ini berbicara dengan Yesus tentang perjalanan Yesus ke Kota Yerusalem. Perjalanan Yesus itu ibarat perjalanan Musa dari Mesir menuju Tanah Terjanji yang penuh dengan masalah, kesulitan, dan penderitaan. Perjalanan itu juga sama dengan perjalanan Nabi Elia menuju Gunung Karmel, tempat Elia mesti melawan nabi-nabi palsu (1 Raj 18).

Di Kota Yerusalem Yesus akan mengalami penderitaan: sengsara, disalibkan, dan wafat di kayu silang itu. Kendati demikian, Golgota bukanlah akhir dari segala-galanya. Sebaliknya, seperti Laut Merah adalah pintu gerbang untuk memasuki Tanah Terjanji. Demikian pula Golgota bagi kita pengikut Yesus merupakan “pintu gerbang” menuju kehidupan baru! Sekali pun Yesus mesti wafat di kayu salib, tetapi pada hari ketiga, Yesus akan bangkit dari antara orang mati. RD. Yustinus Joned Saputra