Artikel

28-Feb-2016

RD Albertus Kurniadi

Sabda Yesus yang Membuatku Subur

sumber: https://reflectionsofgracehome.files.wordpress.com/2013/04/talkingwithjesus.jpg

Dalam perjalanan kita segalanya berasal dari sebuah obrolan. Obrolan terjadi dimana saja kapan saja, tanpa pandang bulu. Ada yang ngobrol berjam-jam, ada yang ngobrol diwarung kopi, dll. Semuanya asyik mengobrol dengan varian yang berbeda-beda. Ada obrolan yang membangkitkan semangat, ada obrolan yang membangkitkan amarah. Obrolan dengan Yesus diangkat dari tataran biasa atau pengalaman sehari-hari menuju pengalaman iman.

Obrolan Yesus
Dalam masa Prapaskah ini, ajakan untuk akrab dengan Yesus menjadi orientasi sederhana yang dituntut dari olah rohani kita. Keakraban dengan Yesus ini nampak dalam sikap kita yang membiarkan diri untuk memiliki banyak waktu untuk ngobrol bersama Yesus. Obrolan dengan Yesus nampak dalam doa pribadi dan mendengarkan firman.

Doa berarti kita mengangkat segala perjuangan hidup kita kepada Yesus secara lebih intens. Dengan demikian manusia pendoa adalah manusia yang mencintai Yesus serta mengetahui keterbatasan dirinya dan menyerahkan keterbatasan itu pada Yesus yang melengkapinya.

Mendengarkan firman berarti manusia yang bermati raga itu, yang melakukan olah rohani itu memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengobrol dengan Yesus dengan mendalam dan dirinya dibersihkan, diberi pupuk sebagai tambahan kekuatan dirinya dalam menggarungi jaman. Obrolan dengan Yesus terjadi dengan penerimaan sakramen-sakramen gereja, mengikuti pendalaman iman masa prapaskah.

Dalam bacaan minggu prapaskah ke tiga ini nampak bagaimana Allah yang ngobrol dengan manusia lewat pengalaman hidup sehari-hari, pengalaman kongkret. Dalam pengalaman terlihat pengalaman iman dihadirkan, pengalaman kerapuhan ditegakkan, serta disempurnakan secara istimewa. Keistimewaan nampak dalam sebuah permohonan yang diungkapkan orang pada saat sedang ngobrol itu “biarlah dia ini tumbuh selama satu tahun lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepada nya. Maka ngobrol dengan Yesus sebagai upaya menumbuhkan iman, ditengah berbagai macam pengalaman hidup manusia serta berbagai macam pergulatan hidup bersama dengan saudara yang lain. Obrolan dengan Yesus ini membuat manusia diingatkan kembali akan Kerahiman Illahi yang menyertai kehidupan manusia serta membuat manusia menjadi pribadi yang merdeka. Kerahiman Illahi ini nampak dalam pengalaman kerapuhan manusia, dimana kerapuhan menggajak manusia untuk terbuka terhadap kasih Allah yang tidak memperhitungkan besar kecilnya kesalahan manusia, melainkan keberanian manusia untuk mengalami kerahiman itu dalam kesehariannya yang menuntunnya pada pengalaman kemerdekaan. RD. Albertus Kurniadi