Artikel

13-Mar-2016

RD Albertus Kurniadi

Lempar Batu

sumber: http://www.headstone.pe.kr/07_receive_JESUS/meditation/image/forg1_11_whore.jpg

Dalam kebiasaan dunia, dalam media kaca tertangkap situasi jaman yang gaduh dengan berbagai pertarungan tidak jelas. Satu sama lain saling melempar batu sembunyi tangan. Banyak hal yang akhirnya memicu pada konflik dan gengsi. Konflik dan gengsi ini melahirkan sandiwara tak berpangkal dan berujung.

Lempar Batu ala Yesus
Lempar batu sembunyi tangan merupakan acara ritual menggarahkan orang pada sikap arogan. Arogansi ini nampak ketika kata dilemparkan pada pihak lain, kata yang dilempar sering kali mengungkapkan balasan ataupun reaksi dari pihak lain.

Dalam bacaan kali ini Yesus dihadapkan dengan peritiwa macam ini, ada wanita yang kedapatan berzinah. Berdasarkan hukum setempat wanita ini harus mati dengan lempar batu, tapi Yesus melemparkan sebuah kebijaksanaan tertinggi yaitu sebuah tulisan yang terbaca oleh banyak orang “barang siapa tidak berdosa hendaklah ia yang pertama melempar”.

Sebuah lemparan sederhana yang membuat orang banyak merefleksi atas hidup yang dijalaninya itu. Sebuah refleksi yang mengajak manusia berjumpa dengan dirinya sendiri. Sebuah lemparan sederhana yang membuat orang banyak berefleksi atas hidup yang dijalaninya itu. Sebuah refleksi yang mengajak manusia berjumpa dengan dirinya sendiri, jumpaan dengan dirinya sendiri ini membuat manusia mengalami sebuah kesadaran baru tidak melihat orang dari sisi gelap tetapi juga melihat orang dari manusia sebagai citra Allah.

Di sisi lain, kata-kata yang dituliskan oleh Yesus ini mengajak wanita berdosa ini untuk melemparkan masa lalunya, pelemparan masa lalu ini bukan untuk dilupakan tetapi sebagai peringatan bagi manusia bahwa peristiwa hidup manusia yang melukai hati Allah dan sesama, dihapus oleh Allah dengan mengajak manusia untuk “pergilah dan jangan berbuat dosa lagi”.

Kata pergilah dan jangan berbuat dosa lagi merupakan sebuah kepercayaan serius yang diberikan Allah kepada manusia,kepercayaan yang mengandung resiko tidak kecil jangan berdosa lagi. Kata pergi mengandung sebuah kepercayaan bahwa saya dan saudara diajak untuk menemukan hidup baru serta berani untuk memperjuangkan hidup baru itu dalam seluruh kehidupan manusia,betapa tidak, kata pergi mengandung sebuah tawaran untuk berani meninggalkan kenyamanan,kenikmatan yang membuat manusia terlena.

Rasa tidak nyaman membuat manusia berjumpa dengan perjuangan, strategi, ketidakpastian. Di mana kesemuanya itu membuat manusia mendaur ulang apa yang dipikirkannya itu menjadi lebih berwarna dan berfariasi. (RD. Albertus Kurniadi)