Artikel

20-Mar-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Pelayanan

sumber: http://www.guestling.esussex.dbprimary.com/esussex/primary/guestling/arenas/websitecontent/web/palm-sunday-jesus-christ-on-donkey%281%29.jpg?width=640&height=480&scale=LIMIT_MAXSIZE

Pemberkatan dan perarakan palma dimaksudkan sebagai tanda penyadaran bagi kita mengenai keterlibatan hidup kita dalam hidup Yesus. Kita diajak untuk mengikuti peziarahan Yesus memasuki kota Yerusalem, yang menentukan nasib-Nya: dalam kesengsaraan, dan juga dalam kemuliaanNya! Yesus sendiri mempersiapkan perjalanan itu dan menjadikan perjalanan hidup manusia yang bermuatan rencana keselamatan Allah. Artinya dalam perjalanan itu, tangan Allah tetap berkarya untuk menggandeng semua bangsa manusia untuk masuk ke dalam kebahagiaan dan keselamatan-Nya!

Mengapa Yesus tidak naik kuda, tetapi naik keledai? Kuda itu simbol kekuatan. Kuda itu adalah binatang untuk berperang. Kuda itu bagaikan takhta untuk para pembesar. Sebaliknya, keledai adalah binatang-perdamaian. Keledai itu binatang yang biasa dipakai para petani atau rakyat kecil. Yesus rela merendahkah diri bagaikan keledai yang Ia naiki itu. Artinya Yesus rela dicambuk, didorong dan ditendang, seperti biasanya orang perbuat terhadap keledai. Yesus pun rela difitnah, diejek, didera, dimahkotai duri dan disalibkan demi terlaksananya rencana karya keselamatan BapaNya!

Bukankah Yesus itu Raja Damai? Dalam diri Yesus dan dalam hati-Nya, memang ada damai: damai dengan Allah; damai dengan manusia dan damai dengan dunia! Yesus siap menciptakan damai sejati untuk semua orang yang mau bergabung dengan diri-Nya.

Pesan yang disampaikan bacaan Minggu Palma ini ialah hidup di zaman sekarang mungkin sulit sekali menghargai pelayan. Dalam Filipi 2:6-11, Paulus mengutip sebuah madah yang biasa digunakan dalam ibadah pujian keagungan Yesus dan pelayanan-Nya bagi manusia. Dalam madah itu terungkap betapa besar pelayanan Yesus bagi manusia menurut keyakinan iman Kristiani. Yesus telah menyerahkan diri dan hidup-Nya bagi pengembangan hidup bersama, dan bagi kehidupan banyak manusia. Penyerahan diri-Nya nampak tuntas dalam kematian-Nya di salib (Flp 2:6-8). Dalam kematian itulah seseorang ditantang untuk menegaskan sikapnya yang paling dasar. Yesus menyerahkan diri dan hidup-Nya bagi Allah dan demi kepentingan hidup banyak manusia.

Kematian Yesus merupakan sebuah titik balik bagi kehidupan baru. Allah yang berkuasa atas kehidupan itu akhirnya menerima kematian Yesus sebagai sebuah persembahan yang berkenan kepada-Nya. Karena itulah Yesus dimuliakan menjadi sesembahan bagi semua orang, yang mau menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Penyerahan diri kepada Allah itu bagi Yesus dan juga bagi setiap pribadi Kristen bukanlah hal sampingan, melainkan sebagai sebuah persembahan. Yesus memilih sikap dasar melayani. Sikap inilah yang paling tepat untuk menampilkan Allah yang memiliki kuasa atas hidup dan kehidupan ini.

Bagi kita, umat Kristiani misteri Allah mestinya juga bisa dirumuskan dalam pelayanan kita terhadap sesama dalam semangat cinta kasih. Kita sebagai insan Kristiani, diharapkan untuk terbuka dan berani melayani dengan dua dimensi pelayanan: pelayanan kepada Allah dan pelayanan terhadap sesama kita. Marilah dalam kehidupan sehari-hari kita tumbuh-kembangkan spiritualitas pelayanan dalam lingkungan komunitas hidup kita, mulai dari keluarga, lingkungan, wilayah, stasi, paroki dan di tengah masyarakat kita. RD. Yustinus Joned Saputra