Artikel

17-Apr-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Gembala yang Baik

sumber: https://katarinahalimloves.files.wordpress.com/2012/04/jesus_12.jpg

Yesus dalam bacaan Injil minggu ini berperan sebagai gembala yang baik. Yesus sungguh-sungguh menjadi gembala dan domba-domba me ngenal suaraNya. Sang Gembala yang Baik me ngenal mereka satu persatu dan mereka juga me ngikutiNya. Konsekuensi mendengar Yesus adalah memperoleh anugerah hidup abadi sesuai yang telah dijanjikanNya. Yesus sebagai gembala baik melindungi domba-domba dari musuh-musuh. Pada umumnya para musuh adalah pribadi-pribadi yang ada di sekitar domba-domba. Bapa di surga berperan memberikan anak-anak manusia kepada Yesus untuk dianugerahi hidup kekal. Ketika anak-anak manusia ada di dalam tangan Bapa maka tidak ada kuasa apapun yang memisahkan mereka dari kasih Bapa di Surga. Mengapa? Karena Yesusdan Bapa adalah satu. Yesus dengan tegas mengatakan: “Aku dan Bapa adalah satu”.

Gembala atau pemimpin yang baik memang memiliki tugas mulia. Ia selalu hadir di tengah-tengah orang kepunyaanNya. Dampak kehadiranNya adalah orang merasakan pembaharuan hidup. KehadiranNya membuat banyak orang mau mendengar dan berubah di dalam hidupnya. Yesus sendiri sebagai gembala baik bahkan memilih titik yang ekstrim yakni wafat di kayu salib sebagai tanda persembahan diriNya bagi keselamatan umat manusia. Satu hal lain yang kiranya tidak bisa kita lupakan adalah Yesus tidak melakukan tindakan sebagai gembala sendirian. Ia sendiri mengakui bahwa diriNya melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa dan Bapa sendiri menarik semua orang kepada Yesus untuk diselamatkan.

Apa yang harus kita lakukan? Sikap gembala baik dari Yesus merupakan ungkapan kepedulian Allah bagi setiap pribadi. Yesus sudah diutus Bapa maka setiap pribadi harus menerima dan percaya kepadaNya. Bagi orang yang mengalami panggilan istimewa juga diajak untuk pertama-tama percaya kepada Yesus sehingga dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Diharapkan agar orang-orang terpanggil itu setia dalam panggilannya. Domba yang setia akan memiliki hidup kekal.

Yohanes dalam bacaan kedua mengisahkan penglihatannya. Ia melihat suatu kumpulan orang banyak yang tidak terhitung banyaknya dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa. Mereka semua berdiri di hadapan takhta dan Anak Domba dengan mengenakan jubah putih dan daun-daun palem ada di tangan mereka. Mereka adalah para kudus yang telah menyerahkan dirinya secara total bahkan melalui kemartiran. Mereka layak untuk masuk surga dan melayani Tuhan siang dan malam. Yohanes pada akhirnya mengatakan bahwa orang-orang itu tidak akan menderita lagi. Anak Domba akan menjadi gembala dan menuntun mereka kepada air kehidupan.

Visi Yohanes ini mau mengatakan juga bahwa untuk melakukan pekerjaan Tuhan sebagai gembala saat ini bukanlah hal yang mudah. Para Rasul sendiri mengalami penolakan dan penganiayaan. Adalah sukacita besar di surga ketika seorang utusan tetap setia bahkan sampai menjadi martir. Paulus dan Barnabas mengalami penolakan ketika mereka mewartakan injil dari Antiokhia ke Pisidia. Namun Paulus dan Barnabas tetap berani mewartakan kasih Kristus bukan lagi kepada mereka tetapi kepada bangsa-bangsa lain. Dengan mengebaskan debu di kaki di daerah itu mereka lalu pergi mewartakan Injil di Ikonium. Roh Kudus tetap bekerja dan memberi sukacita kepada orang-orang yang percaya di Antiokhia. Hal yang kiranya penting untuk kita refleksikan adalah Tuhan menghendaki agar semua orang diselamatkan, bukan hanya satu bangsa khusus.

Mari kita mendoakan panggilan-panggilan khususnya kaum muda untuk melayani dan menjadi Gembala bagi Gereja. Gereja membutuhkannya banyak orang muda untuk mempersembahkan diriNya dalam pelayanan-pelayanan dan dalam usaha melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Kita berdoa bagi keluarga-keluarga muda untuk membaktikan diri, mendidik anak-anak dan memperkenalkan panggilan Tuhan bagi mereka.RD. Yustinus Joned Saputra