Artikel

24-Apr-2016

RD Albertus Kurniadi

Iman Berdaya Pikat dan Berbela Rasa

sumber: https://1969j.files.wordpress.com/2014/05/wpid-paul__silas.png

Hari Sabtu ini, halaman parkir gereja Santo Thomas Kelapa Dua Depok, dipenuhi hingar bingar warga Santo Thomas yang ingin bersepeda ria. Sebuah antusiasme yang luar biasa. Ada ragam sepeda yang siap berangkat, ada tawa dan kepanikan anak muda, namun semua serba semangat, semua serba pasti saya bisa, saya mampu, bersama Anda saya pasti bisa.

Iman Bersepeda

Sepeda santai digelar dalam rangkaian acara 25 tahun peziarahan iman dalam keluarga besar Santo Thomas, Kelapa Dua Depok. Bukan soal sepedanya tapi soal gowesan pertama sampai gowesan terakhir menjadi bukti iman yang berdaya tahan. Tidak mudah memang untuk bisa sampai pada garis akhir. Dalam perjalanan gowes ini nampak berbagai kata, berbagai macam bentuk pertolongan yang diberikan peserta ataupun panitia yang menandakan satu kesatuan, menandakan sikap berbela rasa satu dengan yang lain, yang entah kapan bisa terjadi lagi.

Dalam bacaan pertama kita melihat bagaimana Paulus dan Barnabas dengan jujur mengatakan keterbatasan mereka untuk melayani banyak murid Kristus, mereka memilih dari tengah umat beriman untuk menjadi teman seperjalanan, menemani umat, menyemangati umat, mengatur mereka dengan senang, bukan dengan tangan besi, tapi dengan hati.

Dalam bacaan Injilpun kita berjumpa dengan Yesus, mengalami satu keharmonisan dengan para Murid-Nya, ada ketidaknyamanan Yesus dengan para murid pada saat makan, murid yang mencelupkan roti ke dalam piala melakukan penghianatan karena bujukkan iblis.

Dalam terang Kitab Suci ini, saya mengajak anda semua untuk berefleksi bahwa yang namanya murid Yesus tidak berhenti pada pembaptisan, yang namanya murid Yesus tak berhenti pada pelantikan pengurus DPP dan DKP. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan, ada banyak hal yang bisa dilaksanakan sebagai bekal iman kita. Iman tak hanya dilihat dengan tanda-tanda materi belaka, tapi melainkan perlu dilaksanakan dengan tindakkan nyata, bukan pula dengan predikat DPP dan DKP, karena predikat ini pun bisa menjadi ajang penghianatan, karena dilantik sudah, didoakan oleh uskup sudah, namun tak ada gerakan untuk menujukkan predikat itu maka tak ada artinya.

Menjadi teman seperjalanan bagi umat beriman memang tidak mudah, banyak konflik, banyak ketegangan. Menjadi teman seperjalanan membuat saya mengalami berbagai macam kenikmatan karena pengurus boleh belajar, pengurus boleh mencicipi yang dihadiahkan pada pengurus. Pengurus tak perlu pandai, tak perlu pandai bicara, tetapi punya waktu untuk menemani, berbincang, menggowes apa yang perlu digowes, apa yang perlu diperbincangkan. Dan itulah kerangka 25 tahun peziarahan iman yang dirayakan. (RD Albertus Kurniadi)