Artikel

01-May-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Renungan Minggu Paskah VI

sumber: http://3.bp.blogspot.com/-e42-SCykwAA/UEDSrdR7uXI/AAAAAAAAA4Q/vk3wuwY7_c8/s1600/070410_153409_familybeforethecross.jpg

Lukas dalam bacaan pertama dari Kisah para Rasul mengisahkan bagaimana peran pentingRoh Kudus dalam mengatasi masalah pastoral Gereja purba. Setelah hari raya Pentekosta, para rasul memiliki keberanian untuk mewartakan kebangkitan Kristus di Yerusalem. Banyak orang percaya kepada pewartaan para rasul sehingga menimbulkan kebencian dan penolakan dari para pemimpin Yahudi. Situasi semakin sulit ketika tampilnya Saulus dengan segala kekejamannya. Pada saat itu banyak murid Tuhan meninggalkan Yerusalem dan pergi ke tempat jauh untuk mewartakan kebangkitan Kristus. Situasi berubah ketika Saulus bertobat menjadi Paulus. Ia dengan kuasa Roh Yesus melakukan perjalanan Misioner bersama Barnabas dan berhasil membawa banyak orang kepada Kristus. Persoalan pastoralnya adalah ketika mereka kembali ke Antiokhia. Mereka berjumpa dengan orang-orang yang berasal dari Yudea dengan ajaran baru: “Jikalau kamu tidak di sunat menurut adat istiadat yang di wariskan Musa, kamu tidak dapat diselamatkan”. Akibat ajaran ini adalah kebingungan di dalam komunitas kristen di Antiokhia, Siria dan Kilikia. Paulus dan Barnabas juga beberapa penatua dikirim ke Yerusalem untuk membicarakan hal ini. Sesampai di Yerusalem, Barnabas dan Paulus masih menerima pernyataan yang sama dari orang-orang farisi yang sudah mengikuti Kristus.

Dalam sidang umum di Yerusalem, Roh Kudus membimbing para rasul dan para penatua sehingga menghasilkan keputusan yang bijaksana yakni orang-orang kristen yang bukan dari Yahudi tidak diwajibkan untuk mengikuti hukum Taurat sebab iman kepada Kristus itu sendiri sudah cukup untuk keselamatan. Untuk itu para peserta sidang memilih Paulus, Barnabas, Yudas alias Barsabas dan Silas untuk kembali ke Galilea, Siria dan Kilikia dan mensosialisasikan hasil sidang umum di Yerusalem

Yohanes dalam bacaan kedua dari Kitab Wahyu menjelaskan penglihatan yang ia alami tentang Yerusalem baru yang turun dari surga. Ia melihat perkembangan gereja dalam perspektif duniawi dan surgawi. Gereja dibangun di atas dasar keduabelas rasul oleh Yesus sendiri. Konsekuensinya adalah Allah menjadi segalanya bagi Gereja. Orang-orang yang ditebusNya, para kudus mengambil bagian dalam cahaya kekal yang tidak lain adalah kemuliaan Tuhan sendiri. Visi Yohanes menyadarkan kita akan penebusan berlimpah yang dikerjakan Yesus bagi dunia.

Yesus di dalam bacaan Injil hari ini memberikan wejangan-wejangan perpisahan. Ia memberikan tiga janjiNya kepada para rasul dan kita semua yang percaya kepadanya. Janjipertama, Tuhan akan datang dan tinggal bersama orang yang mengasihi dan mengikuti SabdaNya. Betapa indahnya kasih Tuhan bagi semua yang percaya kepadaNya. Apakah anda mengasihi dan mengikuti Sabda Yesus. Berbahagialah engkau karena Tuhan akan bersemayam di dalam dirimu. Janji kedua, Yesus mengutus Penghibur yaitu Roh Kudus.Roh Kudus diutus Bapa atas nama Yesus. Tugas Roh Kudus atau Penghibur adalah mengajar segala sesuatu dalam nama Yesus dan mengingatkan Sabda Yesus kepada mereka yang percaya kepada Kristus. Janji ketiga, Damai. Yesus mengatakan bahwa Ia menitip damaiNya kepada manusia yang percaya kepadaNya dan damai yang Ia berikan tidak sama dengan yang dunia tawarkan kepada manusia. Damai titipan Tuhan patut diberikan kepada orang-orang lain.

Banyak orang mudah gelisah dan takut menghadapi persoalan hidupnya, tetapi barangsiapa mau menuruti firmanNya dengan sungguh akan mengalami damai sejahtera di dalam hidupnya. Siapa pun pasti pernah mengalami persoalan atau masalah dalam hidupnya, tapi hanya sedikit dari mereka yang mampu bertahan dengan situasi tersebut. Tidak sedikit pula yang melarikan diri ke perbuatan lain yang justru semakin membahayakan hidup mereka. Yesus meminta kita untuk mencari dan datang kepadaNya. Di dalam Yesus ada ketenangan hati dan damai sejahtera. Selalu ada damai bagi kita para kekasihNya.

"Tinggallah di dalam Dia maka kita akan merasakan ketenangan hati dan damai sejahtera di dalam hidup ini". RD. Yustinus Joned Saputra