Artikel

08-May-2016

RD Albertus Kurniadi

Komunikasi dari Hati

sumber: http://b-i.forbesimg.com/theyec/files/2013/09/Forbes111.jpg

Dalam kehidupan, komunikasi menjadi hal yang menarik untuk diamati. Bukan saja berhenti pada kata mengamati melainkan menjadi sarana untuk meninjau ulang atas apa yang kita lakukan setiap hari. Kini komunikasi menjadi peristiwa yang menampilkan siapa kita di hadapan orang lain. Banyak orang tak sadar akan hal itu karena semua ditrabas, tidak diindahkan hanya untuk kepentingan sendiri saja.

Komunikasi Kerahiman

Bicara tentang komunikasi saat ini rasanya berat, berat bukan karena modelnya yang banyak tapi soal mentalitas orang zaman sekarang. Banyak orang tidak menyadari bahwa komunikasi menampilkan keberadaan diri, karena komunikasi menjadikan orang untuk menyampaikan buah pikiran, menyampaikan gagasan, guna membangun dan memerdekakan. Peristiwanya dekat dengan kita, ketika penghitungan cepat berlangsung melahirkan banyak team yang mengklaim diri “paling” di antara yang lain, hasilnya pun membuat orang bingung. Ketika ada bencana yang satu mengabarkan bla,bla,bla,bla, yang lain mengabarkan cie,cie,cie,lantas siapa yang menyampaikan kebenaran? Karena banyak yang menghadirkan perpecahan dan peluang untuk mencurigai satu dengan yang lain. Banyak yang akhirnya apatis dengan segala macam bentuk pewartaan media.

Warta lingkungan pun menjadi terkena biasnya. Banyak informasi yang tak sampai dengan tepat karena orang hanya mendengar dan melaporkannya setengah- setengah, bisa juga ada unsur pribadi entah kecewa, entah perseteruan berita yang disampaikan berada dalam tingkat ambisius dan tendensius. Informasi diterima setengah-setengah karena saya tidak hadir, saya hanya mendengarkan laporan dari berbagai pihak saja.

Tahun ini adalah tahun Jubelium Kerahiman, saat yang tepat untuk mewarnai komunikasi kita dengan kerahiman. Maksudnya dalam menyampaikan usulan, menyampaikan pendapat ataupun menyatakan dirinya hendaknya kita menyampaikan persaudaraan, kita menyampaikan kasih yang membuat orang yang menerimanya mengalami pembaharuan. Sebab ketika kita berjumpa dengan orang lain, orang lain bukan musuh kita, orang lain bukan orang yang pantas kita kalahkan tetapi mereka adalah orang yang menghantar saya pada padang rumput yang hijau. Mereka bukan musuh melainkan sesama yang membawa dan memerdekakan kita, sebab dari mereka yang kita jumpai ada pelajaran berharga, ada pesan perdamaian yang dimainkannya. Dengan demikian kita akan menyampaikan Kerahiman Illahi yang membawa orang pada kehidupan karena kita didewasakan dan diberkati dengan hal baru.

Dalam media kita berjumpa dengan komunikasi yang menyampaikan sebuah kerahiman. Kerahiman yang tidak langsung diterima, tetapi mengundang decak kagum, mengundang beda pendapat, mengundang pertentangan. Ada motor besar yang dihadang oleh pengendara sepeda, ada motor yang dihadang oleh anak kecil. Tindakan ini membuat kita tersadar bahwa komuniasi yang terjadi saat ini ada yang tidak pas, ada yang kita lupakan yaitu menyapa orang sebagai saudara dengan tidak menunjukkan sikap arogan kita, saya lebih tua saya lebih pantas menerima penghormatan dari saudara. Sapaan itu kita ganti dengan saya dan Anda adalah saudara, teman seperjalanan yang menghantar saya pada surga. RD. Albertus Kurniadi.