Artikel

15-May-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Babak Baru dalam Perutusan

sumber: http://3.bp.blogspot.com/-ZrekGKbR59A/VWFgkW23hiI/AAAAAAAAD0c/7WtMFYe5KiM/s1600/pentakosta.jpg

Selama masa Paskah, para murid sering berkumpul bersama. Suatu ketika Yesus berdiri di tengah mereka dan berkata: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21) Setelah itu Yesus memberi kekuatan dan menghembusi mereka sambil berkata: “Terima Roh Kudus” (Yoh20:22). Kendati demikian para murid belum berani bersaksi tentang iman mereka.

Peristiwa Pentakosta ini membuka babak baru dan mengubah kehidupan iman para Rasul. Roh Kudus yang telah dijanjikan Yesus turun dan hidup didalam hidup para Rasul. Sehingga mereka punya daya, kemampuan dan keberanian untuk bersaksi tentang iman mereka di hadapan banyak orang (Kis 2:2-4). Memang secara fisik Yesus tidak hadir bersama para Rasul, tetapi Roh Kudus itu menjadi penggerak, menghalau rasa cemas, bimbang, dan takut akan orang Yahudi.

Pada saat dibaptis kita menerima Roh Kudus dan kita diberikan daya kekuatan untuk berani bersaksi tentang iman kita akan Yesus yang bangkit. Namun Roh Kudus yang telah kita terima sering kurang kita sadari dan tidak kita hidupkan! Kita kerap mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri. Saat kita mengandalkan kekuatan sendiri, kita mudah menjadi lemah, cemas, bimbang dan terjatuh dalam pencobaan.

Roh Kudus yang kita terima saat dibaptis (Kis 1:15), dan kita terima ketika menerima sakramen Krisma menggerakkan roda kehidupan iman, karya dan pelayanan kita. Demikian iman kita tetap kokoh dalam menghadapi berbagai perkara, yang bisa menggoyahkan dan membuat kita jatuh tak berdaya. Karena itu, daya Roh Kudus yang kita miliki harus difungsikan secara optimal, agar hidup beriman kita tidak mandeg, tetapi terus mengalir, berkembang dan berbuah.

Pada saat ini kita boleh menerima dan percaya Sabda Tuhan: ”Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13). Dalam bab berikutnya Yesus mengatakan lagi: ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran” (Yoh 14:16-17). Roh Kebenaran itulah Roh Kudus, yang akan menjadi daya kekuatan bagi hidup beriman kita.

Berkat Roh Kudus, kita dijadikan anak Allah (Rom 8:14), sehingga kita memanggil-Nya: “Ya Abba, ya Bapa!” Dan “tidak seorang pun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3). Ungkapan iman ini bukan semata-mata hasil usaha kita, melainkan pertama-tama karena Anugerah Roh Kudus. Berkat Roh Kudus itulah kita semakin terbuka akan Karunia-karunia lain, yang dipercayakan kepada kita, agar dipergunakan untuk pembangunan Jemaat Yesus Kristus. Dengan cara itulah Roh Kudus memperkaya Gereja, Umat Allah.

Berkat Karunia Roh Kudus, kita mampu melihat kebhinekaan dalam kesatuan, seperti dilukiskan Paulus (1 Kor 12). Kendati kita memiliki tugas dan kemampuan yang berbeda, tetapi kita bersama dan bersatu dalam pengabdian, demi kesejahteraan seluruh tubuh Gereja. Disini tidak ada perhitungan untung-rugi, apabila kita berhadapan dengan berbagai perkara untuk meningkatkan dan mewujudkan iman, harapan dan kasih, sebagai keutamaan teologal yang telah ada di dalam hidup kita.

Marilah kita mengkondisikan, supaya iman-kepercayaan kita tidak kerdil, tetapi hidup, kreatif dan berdaya-guna. Karena itu, kita mesti bertumbuh dalam Doa, hidup subur dalam Firman, berkembang dalam Komunitas dan berbuah dalam Karya, Pelayanan dan Pengabdian. Kita sadar bahwa hidup kita ini digerakkan, dihidupi dan diberi orientasi oleh Roh Kudus, oleh Karunia Roh Allah yang kita terima. Inilah Buah Roh Kudus itu: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri”. (RD. Yustinus Joned Saputra)