Artikel

29-May-2016

RD Yustinus Joned Saputra

PESTA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/54/7d/ba/547dba1cfeff7c9de1c59999272a4fd0.jpg

Pada hari Minggu kedua sesudah Hari Hari Pentakosta, Gereja merayakan Pesta Tubuh dn Darah Kristus. Di dalam pesta ini, Gereja mengenangkan secara khusus kehadiran Kristus di dalam Ekaristi Kudus. Yesus sendiri menyebut diri-Nya Roti Hidup. “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, iatidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35).

Sebagai tubuh jasmani tidak dapat hidup tanpa makanan, demikian pun halnya dengan kehidupan rohani. Kehidupan rohani tidak bisa berkembang tanpa makanan rohani, yakni menyambut Tubuh dan Daah Kristus. Hidup itu tidak hanya bersifat jasmaniah, tetapi juga bersifat rohaniah. Kebahagiaan hidup manusia terletak dalam menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Ada orang yang kelihatannya memiliki segala-galanya dalam hidup tetapi tidak berbahagia, karena dia tidak memberi makanan kepada kehidupan rohaninya. Manusia senantiasa bergumul dalam kecemasan dan ketakutan untuk mencari arti dan kepenuhan di dalam hidup. Namun arti dan kepenuhan hidup itu hanya dapat ditemukan di dalam Kristus, yang hadir di dalam Ekaristi Kudus.

Kita pantas “bersyukur” bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh hadir melalui perjamuan Ekaristi Kudus. Tuhan Yesus sungguh-sungguh memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan ilahi bagi kita.

Kata “Ekaristi” berasal dari kata bahasa Yunani, “eucharistein” berarti “bersyukur”. Jika kita merayakan Ekaristi, itu berarti kita bersyukur. Kita bersyukur atas karya penyelamatan, penebusan dan pemulihan yang Tuhan lakukan bagi kita, umat-Nya. Dengan demikian, kita perlu memahami, mengapa bagian yang paling penting dalam Perayaan Ekaristi adalah “Doa Syukur Agung”. Sebab kalau tidak ada “Doa Syukur Agung”, tidak ada Ekaristi!

Doa Syukur ini menjadi doa seluruh umat beriman (dalam hal ini hanya didoakan oleh Imam, pemimpin perayaan Ekaristi, dan diikuti umat beriman dalam batin). Dalam Doa Syukur Agung itulah, roti dan anggur dikonsekrit Imam, dan menjadi Tubuh dan Darah Kristus, yang kemudian disantap segenap umat beriman yang mengambil bagian dalam peayaan Ekaristi.

Dalam LG art 11, ditegaskan “Sakramen Ekaristi itu menjadi sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani.”Mengapa Ekaristi disebut sumber dan puncak iman umat Katolik? Sebab dalam perayaan Ekaristi Kudus itu terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, Roti Paskah kita yang hidup. Berkat Tubuh-Nya sendiri, yang kini dijadikan hidup dan pemberi hidup oleh Roh Kudus. Yesus menawarkan hidup-Nya kepada manusia (Konsili Vatikan II:Dekrit tentang Pelayanan & kehidupan para Imam,Prebyterorum Ordinis, 5).

Dengan mengikuti Perayaan Ekaristi, kita dipanggil untuk mengambil bagian dari Dua Meja yang dipersiapkan, yaitu Meja Sabda Tuhan (Liturgi Sabda); dan Meja Perjamuan Tubuh dan Darah Kristus (Liturgi Ekaristi). Dalam Konstitusi tentang Liturgi ditegaskan: perayaan Ekaristi dapat dikatakan terdiri dari Dua Bagian: Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya itu sangat berkaitan erat satu sama lain, sehingga merupakan satu tindak ibadat, atau merupakan satu kesatuan (KVII: Konstitusi tentang Liturgi, Sancrosanctum Concilium, 56).

Yang menjadi persoalan: apakah kita sungguh mengimani bahwa yang kita santap dalam Komuni Kudus itu adalah benar Kristus. Konsili Trente menegaskan: “Oleh konsekrasi, roti dan anggur terjadilah perubahan seluruh substansi roti ke dalam Substansi Tubuh Kristus, Tuhan kita. Dan seluruh substansi anggur ke dalam Substansi Darah Kristus. Perubahan ini Gereja Katolik menamakan secara tepat dalam arti sesungguhnya Perubahan Hakiki [transsubstansiasi]” (DS 1642).

Ajaran iman ini dipegang teguh Gereja Katolik; dan kita dapat memahami dan menghayati misteri ini hanya dalam iman. Dengan mata inderawi kita melihat Sakramen Ekaristi sebagai roti dan anggur, tetapi dengan mata iman kita percaya, kita mengimani Hosti dan Anggur itu Tubuh dan Darah Kristus.

St. Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja (1225-1274) berkata: “Tubuh dan Darah Kristus yang sebenarnya hadir dalam Sakramen Ekaristi, tidak dapat ditangkap dengan indra kita, tapi hanya oleh iman kita yang bersandar pada otoritas ilahi.” Kendati misteri trans-substansiasi ini hanya bisa ditangkap dengan iman, namun pernyataan berikut ini bisa membantu kita untuk memahami misteri itu.

Kita mesti percaya akan Sabda Yesus: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" (Luk 22:19). Santo Sirilus berkata: “Jangan kamu ragu-ragu apakah itu benar, melainkan terimalah Sabda Penebus itu dalam iman. Ia adalah kebenaran, jadi Ia tidak menipu.” Yesus tidak mengatakan: “Inilah roti” tetapi “Inilah Tubuh-Ku.”

Apakah Hosti yang kita makan waktu Komuni hanya merupakan lambang Tubuh Kristus? Roti dan Anggur yang telah dikonsekrir menjadi Tubuh dan Darah Kristus, bukan sekedar lambang belaka, karena roti dan anggur sungguh telah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Seperti telah ditulis St. Yohanes dari Damaskus: “Roti dan Anggur bukan melambangkan Tubuh dan Darah Kristus, sama sekali tidak! Melainkan sungguh Tubuh Kristus yang kudus. Sebab Kristus sendiri mengatakan: “Inilah Tubuh-Ku”; dan bukan “Inilah yang melambangkan Tubuh-Ku.” Dan “Inilah Darah-Ku”, bukan “Inilah yang melambangkan Darah-Ku?” (The Orthodox Faith, IV [PG 94, 1148-1149). (RD Yustinus Joned Saputra)