Artikel

05-Jun-2016

RD Albertus Kurniadi

Mengusung Ego Bagai Mayat

sumber: https://catatanseorangofs.files.wordpress.com/2014/09/james_tissot_the_resurrection_of_the_widows_son_at_nain_700.jpg?w=570&h=416

Mengusung merupakan tindakan yang dilakukan oleh manusia berupa mengangkat diatas bahu atau membawa secara bersama-sama. Sebuah tindakan sederhana namun memiliki arti yang luar biasa dalam hidup manusia. Tindakan ini mengandung arti penghormatan. Saat ini tindakan sederhana ini jarang dilakukan oleh orang karena berbagaimacam alasan, maupun keterbatasan yang dimilikinya.

Mengusung Ego

Dalam perjumpaan kali ini, Yesus menjumpai kita dengan perjumpaan duka. Kedukaan nampak saat Yesus berdialog dengan seorang janda yang me-ngusung anaknya ke pemakaman. Peristiwa ini menarik perhatian Yesus karena bisa jadi perumpaman ini menjadi simbol yang membahasakan gerak Yesus yang turun menyapa manusia yang terbuka hatinya untuk menerima rahmat Illahi dan sabda Illahi yang menentramkan.

Menerima rahmat Illahi dan sabda Illahi nampak pada perjumpaan Yesus dengan janda yang kehilangan anak semata wayangnya. Kedukaan bisa jadi bukan karena jenasa anaknya tetapi sikap si janda yang terkungkung oleh penderitaan yang hebat. Penderitaan yang hebat sering kali mengacaukan hidup manusia, membuat gerak langkah manusia untuk membangun semangat hidup tak ada lagi. Pen-deritaan menyedot pikiran, asa manusia bahkan se-ring kali membuat manusia tak mampu untuk menyusun langkah-langkah kecil untuk melanjutkan peziarahan hidupnya.

Yesus menghampiri usungan Jenazah itu, Yesus menghampiri penderitaan manusia itu serta membuka pembicaraan itu dengan kata-kata sederhana “jangan menangis”. Sapaan jangan menangis membuka kesadaran manusia, mengagetkan manusia. Orang menangis sering kali melibatkan asa manusia karena manusia mengalami kedukaan yang mendalam, kedukaan melibatkan seluruh kesadaran manusia.

Sapaan sederhana ini membuat manusia tersadar ada orang lewat yang sejak awal memperhatikan tangisan yang dialami si janda ini, sehingga sapaan ini membuatnya terkagetkan. Terkagetkan dengan sapaan Yesus tidak membuat janda ini lari, menutup diri tetapi memberi perhatian kepada orang yang menyapanya. Keterbukaan dan keterarahan hati si janda ini menciptakan sebuah ruang yang terindah di mana si janda ini membuka hatinya untuk sabda Yesus. Sabda Yesus inilah yang akhirnya mengagetkan si janda, mendobrak hati si janda, menggugat si janda untuk bangkit. Sabda yang di dengarkan oleh si janda ini mendobrak secara perlahan lahan meresap ke dalam asa manusia secara istimewa. Di sinilah kerahiman Allah meraja dengan cara yang istimewa, Allah menghampiri kehidupan manusia dalam keadaan apapun, baik manusia itu siap menerimanya maupun tidak. Kerahiman Illahi nampak dalam sabda yang diperdengarkanya serta kerahiman ini sangat nyata dalam keadaan di mana Allah mengampuni manusia dan membuat manusia menemukan harapan baru dalam diri manusia. RD. Albertus Kurniadi