Artikel

12-Jun-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Segala Dosamu telah Diampuni

sumber: http://1.bp.blogspot.com/-p0_xd0sGvDE/UbyITau71zI/AAAAAAAACEM/Qt6PJ0B-joA/s1600/Cium+kaki+Yesus.jpg

Dalam Lukas 7:1-8:3 kita mendengarkan bagaimana ucapan dan sikap Yesus terhadap seorang Farisi bernama Simon, yang mengundang Yesus makan di rumahnya. Dan bagaimana ucapan dan sikap Yesus terhadap perempuan pendosa yang menyelonong masuk ke dalam perjamuan yang diadakan Simon si orang Farisi itu…. Rupanya Yesus lebih terkesan dan memuji perempuan pendosa itu daripada Simon orang Farisi, yang menganggap dirinya saleh, suci dan benar

Di setiap peristiwa penting, orang cenderung mau tampil terhormat di depan banyak orang. Kemauan ini merupakan kemauan yang baik. Namun kemauan itu menjadi jelek dan berbahaya apabila orang mau tampil lebih daripada yang sebenarnya. Jika demikian, kita tidak jauh dengan orang Farisi yang duduk semeja dengan Yesus, tetapi tidak terbuka dan jujur mengakui, bahwa dirinya perlu pertolongan. Kita tidak ingin tampil begitu di hadapan Allah selama perayaan Ekaristi dan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, kita mau belajar rendah hati, jujur dan mengakui keberadaan kita di hadapan Allah. Kita juga bisa belajar dari sikap perempuan yang bertobat: berlutut, menyeka dan mencium kaki Yesus. Yesus melihat, bagaimana perempuan itu dengan segenap hatinya, beriktiar untuk kembali dalam pangkuan kasih-Nya. Saudar terkasih, marilah kita persiapkan hati kita, agar layak mengambil bagian dalam karya penyelamatan Tuhan.

Injil menampilkan kisah Yesus yang diurapi wanita pendosa. Kejadian yang mengharukan itu menunjukkan bahwa Yesus memberikan kesempatan dan kemungkinan baru bagi orang berdosa tapi mau bertobat. Memang Yesus adalah membenci dosa, tetapi bukan orang berdosa. Di hadapan Yesus orang berdosa mendapatkan perhatian, kasih dan sapaan-Nya…

Dalam injil dilukiskan Yesus itu adalah seorang nabi; dan dikisahkan Yesus menaruh perhatian orang bukan Yahudi, boleh dikatakan “orang ka- fir” (Luk 7:1-10). Lalu Yesus tampil sebagai “Eliza Baru” yang membangkitkan orang mati (Luk 7:11-17); dan sebagai “Nabi” yang dapat disandingkan dengan Yohanes Pembaptis (Luk 7:18-35). Yesus tampil sebagai Nabi yang menampakkan kasih dan kerahiman Allah bagi orang berdosa (Luk 7:36-50). Dalam Injil tadi juga dipersoalkan: “Apakah Yesus itu sungguh seorang Nabi yang mau diperlakukan demikian oleh seorang pendosa?” Ditanyakan: “Siapakah Dia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” (Luk 7:49). Namun satu hal yang jelas : Seluruh hidup Yesus menjadi tanda kasih dan kerahiman Allah kepada manusia. Yesus itu bukan anti pendosa, melainkan membenci dosa!

Bagi orang berdosa Yesus itu bukan hanya harapan baru, melainkan menjadi kenyataan yang menciptakan kehidupan dan dunia baru. Apakah pengampunan yang membahagiakan ini tercermin dalam kehidupan orang beriman Kristiani, dalam perilaku mereka terhadap sesama?

Terhadap orang yang berdosa itu sikap Yesus tidak tanggung-tanggung. Yesus berkata: “Segala dosamu telah diampuni!” Pernyataan ini mau menyatakan: “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni" (Luk 7:47-48). RD. Yustinus Joned Saputra