Artikel

03-Jul-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Kita Diutus untuk Melayani

sumber: http://4.bp.blogspot.com/-biOxZ5RzQt0/Udjqs4Ao-GI/AAAAAAAACis/lG9E7GMwAxo/s1600/Yesus-mengutus-70-murid.jpg

Minggu ini di dalam bacaan Injil, kita mendengarkan: bagaimana Tuhan tidak hanya mengutus ke 12 rasul setiap desa dan rumah untuk menyampaikan damaiNya kepada orang-orang yang mereka jumpai. Sabda Tuhan pada hari ini sangat kaya maknanya. Kita pertama-tama diingatkan tentang panggilan untuk menjadi utusan (rasul). Para utusan yang akan menjadi pekerja adalah milik Tuhan yang disiapkan secara istimewa untuk menuai. Para utusan ini melakukan semua tugas atas nama Yesus Putera Allah. Para utusan juga disiapkan untuk menjalani hidup sederhana, tekun dan siap menderita dalam mewartakan damai sejahtera dari Tuhan. Namun demikian Tuhan juga tetap setia mendampingi dan menyertai semua karya dan pelayanan mereka sebagai utusanNya. Kedua, Tuhan sangat baik. Ia mengasihi dan menyelamatkan umatNya. KasihNya dilakukan seperti seorang ibu menunjukkan kasihnya kepada anaknya. Ketiga, hal terpenting dalam kebersamaan sebagai utusan Tuhan adalah menjadi ciptaan baru. Dalam arti para utusan Tuhan mengalami pertobatan radikal di dalam hidupnya. Para utusan Tuhan hendaknya menjadi orang kudus.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menghadirkan Allah laksana seorang ibu yang baik. Tuhan baik dengan umatNya dan menghibur mereka yang sudah mendiami Yerusalem. Itu sebabnya melalui nabi, Tuhan mengharapkan umatNya untuk bersukacita dan bersorak sorai bagi Yerusalem. Orang-orang yang berkabung diharapkan bergirang. Mengapa? Karena Tuhan menjanjikan keselamatan. Tuhan mengalirkan keselamatan seperti sungai. Umat Allah akan menyusu, digendong, dibelai dan dihibur.

Nabi Yesaya mau mengatakan realitas manusia dengan pengalaman manusiawi: pengalaman penderitaan dan kemalangan, pengalaman di sakiti, ditolak oleh orang-orang yang dekat. Pengalaman-pengalaman manusiawi ini hendaknya tidak menjadi penghalang bagi manusia untuk berjumpah dengan Tuhan yang tidak lain adalah Kasih itu sendiri.Ketika melihat situasi manusia seperti iti, Ia akan berusaha menghibur umat kesayanganNya. Maka tugas manusia adalah mewartakan karya agung Tuhan, karya keselamatan yang berasal dari Tuhan.

St. Paulus dalam bacaan kedua memberi peneguhan kepada jemaat di Galatia. Persoalan yang tengah dihadapi gereja purba yang sedang berfkembang saat itu adalah semangat nasionalisme dan religious. Dalam arti masih ada pemilahan: orang Yahudi, Yunani, Romawi dan orang-orang asing, orang bersunat dan tidak bersunat. Paulus melihat hal ini sebagai tantangan tersendiri baginya dalam melayani jemaat di Galatia. Oleh karena itu ia bersaksi: “Saudara-saudara, aku sekali-sekali tidak bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”. Prinsip Paulus adalah menderita bagi Kristus maka segala perbedaan di dalam tubuh jemaat itu tidak berguna. Hal terpenting adalah menjadi ciptaan baru. Mengapa menjadi ciptaan baru? Karena Paulus juga merasa bahwa di dalam tubuhnya terdapat tanda-tanda milik Yesus.

Dalam injil diungkapkan, Yesus menugaskan 70 orang murid berdua-dua mendahaluiNya pergi ke tiap kota, desa dan tempat yang akan dikunjungi Yesus. Yesus berkata: “Panenan memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit. Sebab itu mintalah kepada Tuan yang empunya panenan, agar Ia mengirimkan pekerjaan-pekerja ke panenan-Nya itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah srigala“ (Luk 10:2-3). Ladang yang merupakan gambaran umat manusia, sudah siap dipanen menjadi Kerajaan Allah. Di sini diperlukan orang-orang yang mengolahnya. Ke 70 murid yang diutus Yesus untuk mendahului-Nya, melambangkan semua orang di segala jaman yang membantu dalam usaha menuai Kerajaan Allah. Dalam hal ini, teristimewa pasangan suami isteri Kristiani: ditugasi untuk mendampingi dan membimbing segenap putera-puterinya, agar mereka itu menjadi pribadi yang berkepribadiaan Kristiani, berjiwa Kristiani, dan mampu menjalankan tugas pelayanan seperti yang diharapkan oleh Tuhan Yesus. RD. Yustinus Joned Saputra.