Artikel

10-Jul-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Menjadi Sesama yang Sesungguhnya

sumber: http://www.gpibyudea.org/userdata/renungan/thumbnail/thumb_660d5642e37759c8d7e77997048ca883_adaptiveResize_852_420.jpg

Pada Minggu ini, kita mendengar kisah Yesus dalam Injil Lukas yang menampilkan perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati. Sebelumnya dikisahkan bahwa ada seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya tentang syarat untuk memperoleh hidup kekal. Yesus tidak memberi persyaratan apa pun kepadanya, tetapi karena dia seorang ahli taurat maka Yesus bertanya tentang apa yang sudah dia ketahui dan baca di dalam Hukum Taurat pada setiap pagi dan sore. Ahli Taurat itu mengutip Ul 6:4-5 dan Imamat 19:18 yang mengatakan tentang mengasihi Tuhan di atas segala-galanya dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Dengan mengutip perikop-perikop ini, sang ahli Taurat berpikir bahwa ia sudah hebat. Yesus dengan tegas mengatakan kepadanya, “Perbuatlah demikian maka engkau akan hidup”.

Ahli Taurat ini pintar maka upaya membenarkan dirinya juga tinggi. Ia bertanya lagi kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Sekali lagi Yesus tidak langsung menjawabnya tetapi Ia memberi perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati terhadap seorang Yahudi yang sedang sekarat karena dirampok. Dikisahkan bahwa ada tiga orang yang melihat pende-ritaan si korban. Orang pertama yang melewati tempat itu dan melihatnya adalah seorang imam yang siang dan malam melayani Tuhan di dalam Bait Allah. Karena tugas kudus ini maka ia hanya boleh melihat tetapi tidak dapat menyentuh mayat apalagi najis kalau berdarah (Bil 19:11-16). Orang kedua yaitu seorang Lewi juga melakukan hal yang sama. Ia juga tidak mendekat tetapi menjauhi dirinya dari orang sekarat dan berdarah.

Orang ketiga adalah seorang Samaria yang sedang melakukan perjalanan. Sejarah menunjukkan bahwa pada waktu itu orang-orang Samaria dan Yahudi adalah musuh bebuyutan. Orang Samaria memiliki Kitab Taurat Musa tetapi dia memiliki opsi untuk melayani orang yang sangat membutuhkannya. Oleh karena itu, orang Samaria tanpa nama itu mendekati orang Yahudi, musuh bangsanya yang sekarat, menyapa dengan lembut kemudian mengobatinya. Ia juga mengantarnya ke tempat penginapan dan berjanji untuk membiayai seluruh pengobatannya. Pada akhir kisah ini, Yesus bertanya kepada ahli Taurat itu, “Siapakah dari ketiga orang ini yang menjadi sesama?” Dengan yakin ia menjawab: “Orang yang memiliki rasa belas kasihan kepadanya”. Yesus berkata kepadanya, “Pergi dan perbuatlah demikian”.

Kisah Injil ini memang menarik perhatian kita semua. Mengapa demikian? Pada saat ini banyak orang lebih suka mengatur dunia dengan kata-kata (verbal) dan cende-rung menjadi primordial. Memang banyak orang mengetahui kekhasan hidup kristiani yakni mengasihi Tuhan dan sesama. Namun permasalahannya adalah orang hanya bisa mengetahui tetapi sulit untuk melakukannya. Hidup kristiani yang benar ditandai bukan dari segi kemampuan untuk mengetahui hukum cinta kasih tetapi kemampuan untuk melakukan hukum cinta kasih dalam hidup yang nyata. Demikian juga tentang pertanyaan siapakah sesamaku manusia. Persoalan yang dihadapi adalah bukanlah pengetahuan tentang siapakan sesamaku tetapi bagaimana diri saya dapat menjadi sesama manusia. Orang Samaria dipuji sebagai sesama karena ia memberi dirinya untuk saudara yang sedang sekarat, yang secara manusiawi adalah musuhnya. Yesus di dalam perikop injil ini sebenarnya mau mengatakan diriNya sebagai sesama bagi umat manusia yang menderita.

Menjadi sesama bagi manusia adalah kehendak Tuhan bagi setiap orang. Dialah yang menguasai seluruh hidup kita dan meletakkan meterai kasihNya di dalam hati kita. Meterai kasih itu yang membuat kita bertumbuh dalam kasih dan memiliki kemampuan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Meterai kasih itu juga yang membantu kita bertumbuh menjadi sesama bagi orang lain. RD. Yustinus Joned Saputra