Artikel

24-Jul-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Bagaimana Harus Berdoa

sumber: http://christianitymalaysia.com/wp/wp-content/uploads/2013/11/Praying-Jesus.jpg

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa kita dapat menyapa Allah sebagai “Bapa Kami” yang ada di surga. Allah itu Bapa yang Mahabaik, yang sungguh mengetahui akan kebutuhan kita. Karena Allah itu adalah Bapa kita, maka ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan dalam doa-doa kita:

Pertama: Sebagai anak-anak Bapa yang baik, semestinya bila kita berdoa menaruh perhatian pada ”kepentingan” Bapa. Yesus telah mengajarkan, supaya dalam doa kita, kita memuliakan nama Allah yang kudus, dan memohon agar Kerajaan-Nya tercipta di bumi ini, seperti di dalam surga.

Permohonan kita ini tidak boleh bersifar egois-tis, yang hanya mengingat kebutuhan dan kepen-tingan sendiri. Permohonan kita hendaknya bersifat terbuka, artinya selain untuk demi kepentingan kita; juga mengingat kepentingan sesama, seperti terungkap dalam Bacaan pertama (Kej 18:20-33) dan Injil hari ini. Baik Abraham maupun orang dalam Injil hari ini berupaya bukan hanya untuk memohon keselamatan dirinya sendiri, melainkan untuk “ke-selamatan” orang lain.

Abraham dalam bacaan I masuk dalam tawar-menawar dengan Allah demi keselamatan kota So-dom. Sebab dosa penduduknya sudah keterlaluan! Maka Abraham memohon kepada Allah, “Bagaimana sekiranya ada 50 orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena ke 50 orang benar yang ada di dalamnya itu? Di sini Abraham te-rus menawar: “Jika ada 45… 40… 30… 20.., akhirnya 10 orang yang saleh di kota itu, apakah Engkau akan membinasakan kota itu?”

Dalam Injil dikisahkan, ada seorang pergi ke rumah sahabatnya dan meminta, “Pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan menganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara” (Luk 11:5-7).

Kita sebagai insan beriman, sementara sedang berjuang demi kebutuhan sesama: bagaimana mesti mengarahkan perhatian kita untuk mewujudkan “kepentingan” Allah?

Kedua: Dengan berdoa kita hendaknya senantiasa percaya kepada Bapa. Doa itu mesti menjadi salah satu ungkapan iman kita. Hendaknya kita percaya, bahwa Allah adalah Bapa kita. Yesus berkata: “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya meminta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya sebagai pengganti ikan? Atau, jika ia meminta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kami yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga!” (Luk 11:12-13).

Jadi, kita jangan meragukan permohonan kita. Namun kita perlu juga menyadari bahwa Allah tidak akan meluluskan permohonan kita secara harafiah. Sebab Allah tahu apa yang terbaik bagi hidup kita. Barangkali Allah tidak mengabulkan permintaan kita, persis apa yang kita ucapkan saat itu! Sebab permintaan kita tidak bijaksana, tidak pada saatnya untuk keselamatan kita, bahkan mungkin permintaan kita itu malah bisa mencelakakan kita pada waktu yang datang. Allah itu sungguh Mahatahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Maka, Allah itu akan mengabulkan doa dan permohonan kita dengan cara dan kebijaksanaan Allah.

Ketiga: Kita hendaknya berdoa dan memohon dengan ketekunan, seperti orang yang meminta roti kepada sahabatnya dalam perumpamaan Yesus dalam Injil (Luk 11:1-13; bdk. Mat 6:9-13; 7:7-11). Permohonan yang kita ungkapkan dengan tekun kepada Allah tidak berarti bahwa kita mau mempengaruhi Allah, agar Allah menurti kehendak hati kita. Maksudnya, kita mau menunjukkan, bahwa kita terbuka akan kebaikan, kasih dan anugerah Allah itu. Kita pun mau menunjukkan kesediaan kita untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah sehubungan permohonan kita ini. Sebab kita percaya, bahwa Allah itu Mahatahu apa yang terbaik bagi kita. Karena itu, berdoa itu suatu karunia Allah. Kita tidak bisa berdoa dengn baik, bila tidak dibimbing oleh Roh Allah sendiri. Rasul Paulus pernah menyatakan kepada kita: “Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm 8:26). Memang mesti kita catat, bahwa walaupun kita berdoa dengan prakarsa dan bimbingan Roh Kudus, tetaplah diperlukan usaha, karya dan tindakan manusiawi dari pihak kita.

Saudara yang terkasih, tidaklah tepat bila kita ucapkan doa Bapa Kami, lalu lipat tangan menunggu karunia Allah. Doa itu kita ucapkan dengan mulut, tetapi juga kita mesti melaksanakan atau mengusahakan dalam tindakan. Yesus menganjurkan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mengetuk, bagimya pintu dibukan!” (Luk 11:9-10). Semangat doa kita hendaknya “tahan uji” dan tak kunjung henti, hal ini juga dinasihatkan Rasul Paulus: “Bersukacilah senantiasa. Te-taplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tes 5:16-18).

Kiranya rasa syukur dan sukacita inilah menjadi dasar kehidupan para murid Yesus, dan kita semua untuk terbuka dan berani mengangkat doa permohonan kita tiada kunjung henti. Karena kita percaya, bahwa Allah Bapa yang Mahabaik, kekal abadi kasih setia-Nya, tetap menyediakan dan melimpahkan kasih-Nya di dalam hidup kita. RD. Yustinus Joned Saputra