Artikel

07-Aug-2016

Inspirasi Batin

Menghayati Kekatolikan

sumber: http://rcmagz.com/wp-content/uploads/2012/06/j0400053-620x413.jpg

Menghayati kekatolikan dalam semangat kawanan kecil yang diberkarti, atau sebagai garam dan terang dunia, dapat diupayakan dengan berbagai cara. Keterlibatan di tengah masyarakat dan komunitas lintas iman menjadi wahana nyata. Kesempatan memberi perhatian kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel juga dapat dilaksanakan dengan berbagai kemungkinan. Kesadaran bahwa penyandang tunarungu dan tu-nawicara dapat mengalami sukacita dalam kebersamaan dengan yang lain serta berkiprah dalam kegiatan komunitas/lingkungan memerlukan ketajaman hati y ang disambung dengan gerakan. Munculnya tokoh atau pemimpin dalam kegiatan dan keberpihakan seperti ini dapat menggerakkan orang lain untuk turut peduli dan berbakti.

Kesadaran sebagai kawanan kecil yang diberkati juga dapat diupayakan dengan terlibat dalam pembangunan masyarakat desa. Perhatian pemerintah pusat hingga pemerintah daerah melalui kucuran dana desa perlu disambut dengan antusias dan baik. Umat Katolik perlu melibatkan diri dalam komunitas atau organisasi formal sehingga dapat ikut menentukan kebijakan public atau ambil bagian dalam rembuk desa. Keahlian dalam mengelola keuangan secara transparan dan akun-tabel, kepiawaian mempertanggungjawabkan proyek dengan LPJ yang akurat dan teruji, serta cap lain yang positif pada diri umat Katolik semoga menggerakkan keterlibatan yang bertanggung jawab. Kepercayaan yang didukung dengan kemampuan yang memadai ini menjadi jurus ampuh untuk terlibat bersama yang lain dengan cara bertanggung jawab.

Keberanian menggali lagi nilai-nilai Pancasila dan mewujudkannya dalam sikap hidup sebagai landasan bersama akan menyatukan hati dan budi dalam keindonesiaan. Wujud kemanusiaan, persatuan, dan keadlian sosial begitu nyata dan dekat dengan pengalaman keseharian kita. Hal ini dapat diwujudkan dan mendapat maknanya yang istimewa pada hari-hari menuju peringatan kemerdekaan Indonesia melalui kibaran Merah Putih dan kesemarakan keakraban dengan aneka lomba dalam semangat kebangsaan. Cita-cita “menjadi desa mandiri tanpa korupsi” misalnya, dapat diekspos dan diupayakan dalam lomba antardesa atau perumahan. Bingkai peringatan kemerdekaan Indonesia menjadi pintu masuk yang mengatasi sekat keyakinan karena kita Bhineeka Tunggal Ika. Jangan takut, hai kawanan kecil! (Inspirasi Batin)