Artikel

28-Aug-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Ajaran Menjadi PengikutNya

sumber: http://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2016/03/27/jesus-membasuh-kaki-murid-56f6d5ddb37a619c10c69110.jpg?t=o&v=760

Bacaan-bacaan liturgi kita pada hari Minggu ini memfokuskan perhatian kita untuk memandang Yesus sebagai Pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Di dalam bacaan pertama dari Kitab Putra Sirakh, penulisnya mengajak kita untuk merendahkan diri supaya mendapat rahmat dan karunia dari Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan untuk memiliki kebajikan kerendahan hati? Kebajikan kerendahan hati nampak di dalam hidup kita yang konkret terutama dalam pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan. Orang yang rendah hati akan melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan sopan dan memiliki hati yang arif. Kesombongan manusiawi hanya membawa orang kepada kehancuran, kerendahan hati membawa manusia untuk bersatu dengan Tuhan. Orang yang rendah hati juga memiliki kemampuan untuk mendengar bisikan Tuhan di dalam hidupnya.

Di dalam bacaan Injil Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang sebenarnya mencerminkan diriNya sendiri sebagai Pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Dalam suatu perjamuan di rumah seorang Farisi, Yesus berkesempatan untuk mengajar para tamu tentang tempat apa yang hendak mereka tempati atau duduki dan kepada tuan rumah tentang siapa yang hendak mereka undang makan. Tuhan Yesus melihat sebuah kebiasaan yang terjadi saat itu, bahkan sampai saat ini juga, sebuah kecenderungan orang untuk menduduki tempat kehormatan. Ada semacam ambisi turun temurun. Yesus mengatakan supaya jangan menduduki tempat itu karena mungkin ada orang lain yang lebih terhormat dari pada nanti dipermalukan karena disuruh pindah ke tempat yang lain. Contoh ini mau menegaskan sebuah nilai rohani bahwa barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan. Yesus melengkapi pengajaranNya dengan mengatakan kepada tuan rumah itu supaya kalau melakukan perjamuan siang dan malam jangan hanya mengundang rekan-rekan dari kalangan sendiri. Mengapa? Karena rekan-rekan itu akan membalasnya dengan mengundang ke rumah mereka juga untuk makan bersama.

Seharusnya mereka yang patut diundang adalah kaum papa miskin yang nantinya tidak akan mampu membalasnya. Mereka yang diundang adalah orang miskin, orang cacat, orang lumpuh dan orang buta. Orang-orang ini tidak akan balas mengundang makan tetapi Tuhan Allah yang akan membalasnya pada hari kebangkitan. Injil Lukas membaca daftar empat golongan yang disebutnya: "orang miskin, cacat, lumpuh dan buta" sudah tidak asing lagi. Mereka ada dalam masyarakat mereka. Kita sekarang inipun juga mengenal mereka itu dalam masyarakat kita.

Cerita tentang perjamuan ini hanya terdapat dalam Injil Lukas. Yesus menunjukkan pandangan dan sikap-Nya terhadap orang miskin dan orang kaya. Dalam Lukas 14:1 Yesus disebut berada dalam perjamuan makan di rumah seorang Farisi yang penting. Ia memperhatikan keadaan, gaya dan tingkah laku tuan rumah maupun tamu-tamu undangan. Isi perumpamaan ini sangat dalam. Ajaran Yesus pertama : bagi orang yang kaya, kuasa dan merasa 'benar', adalah sangat sukar untuk rendah hati terbuka di hadapan Tuhan. Ia penuh percaya akan dirinya sendiri, akan milik, kehebatan dan keamanannya. Padahal sebenarnya satu-satunya keamanan atau kepastian manusia berlandasan pada hubungan, persahabatan dan pengabdiannya kepada Allah.

Ajaran Yesus kedua dalam Injil Lukas hari ini: orang terbiasa dan dianggap sebagai norma yang normal untuk mengundang orang-orang, yang diharapkan akan membalas mengundang kembali, dengan aneka cara apapun. Tetapi Yesus justru menolak dan memutarbalikkan norma ini. Janganlah mengundang makan orang yang kauharapkan nanti akan sebaliknya membalas mengundang kamu. Sebaliknya, undanglah mereka yang tidak pernah diundang. Undanglah orang miskin dan mereka yang hidup di tepi masyarakat. Justru mereka, yang tidak dapat diharapkan akan mampu membalas atau memberikan sesuatu apapun. Itulah suatu bentuk "etiket Yesus", yang dihidangkan oleh Lukas (semacam "etiket alkitabiah lukanis" atau etiket menurut Lukas ), yang sungguh kristiani. Memang sebagai tuan rumah, kita dapat membuat tamu gembira, ramah tamah, penuh persaudaraan dan merasa diperhatikan. Namun Yesus memperhatikan (Luk 14:12-14), bahwa etiket atau penerimaan maupun penyambutan tamu dapat sangat terganggu atau disalahgunakan, apabila tuan rumah itu mengandaikan balasan, ikatan atau tujuan tertentu . Artinya, tuan rumah yang mengharapkan akan dibalas menerima undangan dari tamu-nya tidak akan mengundang atau menghidangkan makanan/santapan bersama kepada orang-orang, yang tidak dapat membalas! Dalam daftar undangan hanya tertulis nama mereka yang mampu membalas.

Akhirnya kita harus makin tahu, memahami dan menyadari, bahwa Yesus memang datang untuk mencari dan menyelamatkan kaum miskin, dan menyingkirkan orang-orang yang arogan, berlagak, sombong, dan tanpa sadar angkuh terhadap Tuhan, Allahnya. Lantas, apakah menjadi sikap kita sebagai pengikutNya? (RD Yustinus Joned Saputra)