Artikel

04-Sep-2016

-

Mengenalkan Kitab Suci pada Anak

sumber: https://3.bp.blogspot.com/-AunPdwq3Lsg/V1gMCj4i8MI/AAAAAAAANjA/oNht_RJNQJcCXZvttmBDoxPP-CjuKL3IQCLcB/s1600/Cover%2BBKSN%2B2016A.jpg

Banyak keluarga belum menjadikan Kitab Suci sebagai bacaan rohani dan tuntunan hidup mereka, bahkan banyak yang tidak pernah membaca Kitab Suci secara pribadi. Padahal, setiap orang yang percaya kepada Kristus dan dibaptis, dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan. Ia dipanggil untuk menyatakan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa Kristus adalah Anak Allah yang datang untuk menyelamat-kan manusia dari kekuasaan dosa dan untuk membawanya masuk dalam kebahagiaan surgawi.

Untuk itulah Dia mempersembahkan diri di kayu salib sebagai kurban untuk menghapus dosa manusia. Karena telah dikasihi oleh Kristus dengan kasih yang paling besar, yaitu dengan menyerahkan nyawanya untuk keselamatan kita, kita pun dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama. Karena Kristus telah mengurbankan diri untuk menghapus dosa kita, kita pun dipanggil untuk melawan kecenderungan untuk berdosa dan berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Semua ini dilandasi dengan relasi pribadi kita dengan Kristus yang telah mengasihi dan menyelamatkan kita.

Agar dapat menjalankan tugas yang dipercayakan oleh Kristus itu, kita perlu membuat persiapan. Pada hari Minggu ini Tuhan Yesus mengingatkan kita agar kita mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh jika ingin mengikuti-Nya. Jangan sampai kita seperti orang yang mendirikan menara, tetapi uangnya tidak cukup, sehingga tidak dapat menyelesaikan pekerjaan itu. Jangan sampai kita seperti raja yang mau maju berperang hanya dengan sepuluh ribu melawan raja yang datang dengan dua puluh ribu prajurit.

Mengingat pentingnya tugas itu, setiap pengikut Yesus perlu mempersiapkan diri. Jangan sampai kita menerima baptisan dan membaptis anak-anak kita dan menjadi pengikut Kristus, tetapi tidak berani memberi kesaksian tentang Kristus dan mewartakan sabda-Nya. Untuk itu, di dalam keluarga para orangtua harus membantu anak-anak untuk mempersiapkan diri untuk berani menjadi saksi Kristus. Orangtua bersama dengan anak-anak mereka harus bertindak sebagai orang yang membuat perhitungan sebelum mendirikan menara sehingga dapat menyelesaikannya dan seperti raja yang membuat perhitungan sebelum maju berperang.

Persiapan dilakukan di dalam keluarga karena keluarga merupakan tempat benih-benih iman disemaikan dan dikembangkan. Dari orangtua mereka, anak-anak mendengar tentang Tuhan dan mulai membangun relasi pribadi dengan Dia. Dari teladan yang diberikan oleh orangtua, anak-anak belajar untuk hidup sesuai dengan iman akan Kristus.

Keluarga yang mengemban tugas utama sebagai komunitas yang saling mengasihi, mengambil bagian dalam pelayanan di dalam Gereja, dan ikut membangun masyarakat. Kita mendambakan terciptanya keluarga-keluarga ideal seperti keluarga kudus dari Nasaret, yang hidup dalam ketaatan pada kehendak Allah. Kita berusaha agar keluarga-keluarga Katolik tekun mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah dan meneruskan iman Kristiani kepada anak-anaknya. Hanya dengan demikian, seluruh keluarga dapat menjadi saksi Kristus yang selalu siap sedia mewartakan Sabda-Nya.

Dalam pembinaan iman di dalam keluarga, Kitab Suci, sumber iman Kristiani, menjadi sarana utama. Ibadah yang dilakukan di dalam keluarga merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak dan untuk mendidik dalam iman akan Tuhan. Dalam ibadah itu orangtua mengajak anak-anak untuk membaca Kitab Suci dan menjelaskan isinya kepada mereka. Di dalam Kitab Suci kita dapat berjumpa dengan Allah yang seharusnya dipercaya dan diandalkan oleh manusia.

Selain itu, kita dapat belajar bagaimana harus menyerahkan diri kepada Allah yang sejati dan mengandalkan-Nya. Hanya dengan membaca Kita Suci, kita dapat bejumpa de-ngan Allah yang kita imani dan dapat mengenal-Nya dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, orangtua menjadi pewarta Kabar Gembira Kristus bagi anak-anak mereka.

Seperti Gereja, keluarga menjadi tempat di mana Injil diteruskan dan dari mana Injil bercahaya (EN 71). Perlu disadari bahwa masa depan pewartaan Injil sebagian besar bergantung dari Gereja rumah tangga (FC 52).