Artikel

11-Sep-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Menjadi Pengampun

sumber: http://www.mirifica.net/wp-content/uploads/2014/12/Mencari-Domba-Yang-Hilang.jpg

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak sadar bahwa kita sering “kehilangan” jati diri sebagai murid Kristus. Bisa jadi perumpamaan Yesus yang diungkapkan Santo Lukas dalam bacaan Injilnya (Luk 15: 1-32) adalah diri kita…. kita yang dilukiskan sebagai domba yang hilang, sebagai dirham yang hilang, atau sebagai anak yang hilang?

Melalui Injil, Kabar Gembira minggu ini, kita juga mendapat penghiburan bahwa Allah itu Maharahim dan Pengampun. Kasih Allah itu tidak mengenal batas. Salah satu sikap Allah yang me-nonjol, bahwa Allah melupakan kesalahan manusia; Allah itu tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia. Allah itu panjang sabar dan suka mengampuni.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini membantu kita untuk memandang Allah sebagai Bapa yang Maharahim. Allah Bapa kita itu kekal dan kasih setianya tidak mengenal batas ruang dan waktu. Ia murah hati terhadap kaum pendosa dan menuntun mereka untuk bertobat dan kembali ke jalanNya. Perumpamaan-perumpamaan yang diberikan Yesus dari Injil hari ini juga membuka wawasan kita untuk memahami kemurahan hati serta kerahimanNya. Bagaimana menjawabi kasih, kemurahan hati dan kerahiman Tuhan? Tuhan menghendaki agar kita rendah hati dan berani mengakui semua dosa dan salah kita di hadirat-Nya. Paulus menginspirasikan pertobatan pribadi kita.

Paulus dalam bacaan kedua mengisahkan kemurahan dan kerahiman Tuhan kepadanya. Ia merasa dirinya sebagai orang berdosa tetapi Tuhan mengasihinya. Oleh karena itu ia bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena telah menguatkannya, karena menganggapnya setia dan mempercayakan pelayanan Injil kepadanya. Tentu saja bagi pribadi Paulus, sulit sekali menangkap dan memahami rahasia kasih Allah yang tiada batasnya. Mengapa demikian? Karena Paulus juga merasa dirinya orang yang rapuh: “Sebelumnya aku seorang penghujat dan seorang penganiaya yang ganas”, singkat kata, Paulus berkata bahwa dialah yang paling berdosa. Paulusmemang lambat mengasihi Allah tetapi Allah tidak lambat mengasihinya. Ia rendah hati dan mengakui kemurahan dan kerahiman Tuhan.

Dalam Bacaan Injil disampaikan tiga perumpamaan. Perumpamaanpertamatentang seorang kaya yang memiliki 100 ekor domba. Ketika membawanya ke padang rumput, ada satu ekor yang tersesat. Ia meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor dan pergi mencari satu ekor yang tersesat. Setelah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya, kembali ke rumah dengan suka cita. Perumpamaankedua,ada seorang Bapa yang murah hati. Ia memiliki dua orang anak. Anak bungsu merasa bebas maka ia menutut warisannya. Bapanya dengan murah hati memberikan yang menjadi haknya. Anak bungsu itu segera pergi dan menghabiskan semua kekayaan itu dengan hidup dalam dosa. Ia akhirnya kembali ke rumah, dan disambut dengan meriah oleh bapanya. Anak yang sulung tetap tinggal di dalam rumah, hidup dari semua harta kekayaan bapanya, tanpa menggunakan hartanya sendiri. Anak sulung lupa diri di hadapan bapanya. Ia bahkan menolak kehadiran adiknya. Tokoh utamanya adalah Bapa yang murah hati kepada si bungsu anaknya yang berdosa dan anak sulungnya yang tidak tahu diri.

Perumpamaanketiga, seorang wanita miskin hanya memiliki uang sepuluh dirham. Satu dirham nilainya sama dengan satu dinar yang sebanding dengan upah kerja sehari. Rumahnya juga sederhana. Ketika ia mengalami kehilangan satu dirham, ia berusaha mencarinya dengan berbagai cara dan ketika menemukannya ia juga bersukacita. Ketiga perumpamaan Yesus ini menunjukkan seorang Allah yang murah hati yang sedang hadir di tengah-tengah kita.

Jika Allah yang kita imani adalah Allah yang pengampun dan murah hati, mengapa kita sebagai pengikutNya tidak meneladan Dia dengan menjadi agen cinta kasih dengan menjadi pribadi pengampun dan murah hati? (RD Yustinus Joned Saputra)