Artikel

18-Sep-2016

RD Robertus Eeng Gunawan

Menggunakan Harta Kekayaan

sumber: https://margonolucas.files.wordpress.com/2013/09/yesus-21-sep.jpg

Saudara-saudari pasti pernah menonton film atau sinetron. Dalam beberapa film dikisahkan tentang seseorang yang sebelumnya kaya, tetapi kemudian menjadi miskin, bahkan menjadi melarat.

Biasanya ada beberapa penyebab dari kemiskinan-nya, di antaranya ialah sikap suka memboroskan uang demi kesenangan diri sendiri. Sikap boros ini merupakan bentuk ke-tidakmampuan orang dalam mengelola atau menggunakan uang.

Bacaan Kitab Suci hari ini, terutama bacaan Injil mengisahkan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur.

Yesus, melalui perumpamaan ini meng-ajarkan lagi tentang penggunaan kekayaan secara benar. Yesus mempertentangkan kecerdikan dari anak-anak dunia dengan anak-anak terang.

Kecerdikan bisa dipakai untuk hal-hal yang jahat. Itulah yang dipakai oleh anak-anak dunia, seperti bendahara yang tidak jujur itu. Tetapi Yesus mengajak agar dalam mengejar keselamatan para murid mempergunakan kecerdikan itu untuk hal-hal yang baik. Kecerdikan juga menunjuk pada kemampuan dalam menjalankan tugas apapun yan gdiberikan dengan penuh tanggung jawab.

Memang kalau kita perhatikan, bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta dunia yang kita miliki, melainkan pada kemampuan kita dalam mengusahakan kebahagiaan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Harta duniawi bukan sesuatu yang jahat, melainkan menjadi rahmat bagi kita apabila itu digunakan demi kerajaan surga. Misalnya, lewat kepedulian kita terhadap kaum yang menderita atau berkekurangan. Ada banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan kita. Adalah panggilan kita sebagai pengikut Kristus untuk mengupayakan kebahagiaan bagi mereka.

Godaan untuk menjadikan harta benda sebagai tujuan hidup dan bukan sarana mengabdi Allah membuat orang kehilangan keselamatan. Untuk itu, setiap pribadi dipanggil untuk mengabdi Allah dengan sepenuh hati dan menjadikan harta sebagai sarana mengabdi-Nya. Dengan cara ini orang akan mampu bersikap benar terhadap harta kekayaan. Sikap yang benar itu dapat mulai terwujud dalam kesetiaan melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan kepedulian pada sesama. Belajar dari seruan Injil hari ini: setia dalam perkara-perkara kecil, menjadi kesempatan untuk mengalami rahmat Allah yang lebih besar.

Merenungkan tentang harta duniawi yang ada pada kita adalah berkat yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita untuk mengerjakan rupa-rupa kebaikan. Maka, kalau kita mendapatkan harta yang cukup atau berlimpah, pakailah itu untuk kemuliaan Allah dalam rupa-rupa hal yang baik, dalam pelayanan terhadap Tuhan dan orang-orang di sekitar kita. (RD Robertus Eeng Gunawan)