Artikel

25-Sep-2016

RD Albertus Kurniadi

Lazarus Zaman Kini

sumber: http://penakatolik.com/wp-content/uploads/2016/02/mimbar-lazarus-dan-orang-kaya-hidup-katolik.jpg

Kisah Lazarus menjadi kisah aktual, tajam dan terpercaya. Ini nampak pada kisah serta banyaknya komentar yang tak pernah usang, yang membuat manusia terjaga atas hidup yang akan datang. Tiap zaman selalu menghasilkan banyak orang terpinggirkan, yang kalah oleh berbagai bentuk pertarungan dunia yang menawarkan kenikmatan dan penindasan. Orang yang terpinggirkan membawa serta berbagai konsekuensi atas kehidupan. Bagaimana kita membawakan kehidupan kita?

Membawakan Hidup

Kisah Yesus yang dibacakan pada Minggu Biasa XXVI membuat kita bertanya sederhana penuh arti. Kisah Yesus mengusik kita untuk melihat sejauh mana relasi batin yang kita bangun selama ini. Relasi batin menjadikan kita menerawang ke masa depan yang penuh harapan. Hal ini menjadi satu modal apakah karya yang kita lakukan selama ini membuat kita mengalami sukacita atau kehampaan atas hidup.

Pertanyaan ini sengaja diajukan karena setiap pekerjaan yang kita lakukan berimbas pada kepuasan batin yang mengarah pada spiritualis hidup. Banyak orang berkarya dari terbit hingga terbenamnya matahari sampai-sampai tak lagi mengetahui apa yang dikerjakannya dan untuk siapa semuanya ini? Itulah borok pertama. Ke-tidakmengertian ini akhirnya membuat serangkaian tindakan pengamanan, yakni rumah yang besar dikelilingi oleh pagar tinggi dan ribuan pegawal, barang-barang yang serba lux, berpergian tanpa arah dan tujuan serta tindakan lainnya.

Kehampaan menciptakan manusia yang enggan untuk memikul tanggung jawab. Rasa enggan ini terakumulasi dalam tindakan manusia yang tak mampu mengembangkan aneka macam talenta, sehingga tantangan dianggap sebagai persoalan terbesar. Lalu manusia melihat tantangan sebagai beban kehidupan dari pada anugerah.

Dalam kisah akhir Lazarus ini, ia menerima berbagai macam berkat sedangkan orang kaya mendapat berbagai macam tantangan. Berkat yang diterima Lazarus adalah boleh menikmati hidup dalam keabadian. Si kaya mendapat keadaan yang serba terbalik dari lazarus.

Berbagi berkat antara si kaya dan si Lazarus mengajari manusia dunia modern ini bukan untuk menguasai melainkan membuat manusia memiliki keberanian untuk mengembangkan diri. Dalam bahasa para Bapa gereja, subsidiaritas. Kata subsidiaritas mengandung satu kekuatan yakni apa yang kita berikan pada orang lain tidak bertujuan menciptakan ketergantungan atas apa yang diterimanya ini. Ketergantungan menciptakan kehampaan baru yang lebih luas. Kehampaan pertama terlihat dari identitas diri orang hampa yang semakin tak tampak, dengan tindakan mengulurkan tangan pada yang memberi. Menjadi hampa karena orang yang mengulurkan tangan pada orang lain ini membuatnya selalu tergantung dan jumlah yang diberikan pun selalu bertambah.

Kehampaan kedua nampak dari sikap pasrah pasif. Sikap ini menciptakan situasi di mana manusia tak membangun harapan-harapannya. Harapan inilah membakar manusia untuk bergerak maju.

Sikap subsidiaritas dikembangkan dalam tahun kerahiman Illahi ataupun jubelium kerahiman. Dengan kerahiman Allah meneguhkan dan membebaskan manusia untuk berkembang dan berbagi berkat. Hal ini nampak dari apa si kaya yang memberi tahu sanak saudaranya tentang kehidupan yang akan datang, namun percaya akan pemberitaan para nabi.

Sikap inilah yang diartikan sebagai tindakan kerahiman Allah, belas kasih Allah yang membuat manusia mampu tersadar atas tindakan yang bertentangan dengan kebaikan Allah. Kerahiman Allah ini tetap meresap dalam diri manusia dan menanti tindakan manusia untuk terbuka terhadap daya kerahiman itu serta mewartakan belas kasih itu dalam kata dan tindak-annya. Banyak santo dan santa yang mengalami kerahiman Allah ini menggerakkan dan mengispirasi orang untuk mewartakan kerahiman itu sampai titik akhir hidup mereka. Beranikah kita untuk menerima kerahiman Allah itu hingga membuat kita berani bergerak dan berbuat untuk mewartakan sabda Allah? RD. Albertus Kurniadi