Artikel

09-Oct-2016

Petrus JS

BERSYUKUR ATAS KARUNIA TUHAN

sumber: http://pimg.chirpstory.com/6d8ca2cc64d5fa5650427a94416590101704e9bf/687474703a2f2f747769747069632e636f6d2f73686f772f6c617267652f637479306b63

Sudah menjadi budaya banyak daerah bahwa orang menucapkan terima kasih jika dibantu, disembuhkan, atau dikaruniai sesuatu oleh orang lain. Jika orang mendapatkan bantuan atau sumbangan dari orang lain lalu tidak berterima kasih, dianggap aneh.

Dalam injil Lukas 17:11-19, Rombongan yang mengikuti Yesus teridiri dari orang Yahudi, baik dari Galilea maupun Samaria. Dari rombongan tersebut ada seorang Samaria yang disembuhkan, yang kembali untuk mengungkapkan terima kasihnya. Ia menganggap penyembuhan yang dialaminya dari Allah, dengan terus terang menyanyikan lagu pujian. Kenyataan bahwa orang yang kembali itu justru orang Samaria, pastilah waktu itu sangat mengejutkan. Yesus kecewa karena dari 10 orang kusta yang disembuhkan, hanya satu yang kembali dan bersyukur atas penyembuhannya. Yang sembilan orang lainnya tidak kembali dan tidak merasa harus bersyukur.

Pada zaman Yesus, orang-orang kusta sangat diasingkan dari masyarakat. Mereka dianggap sebagai ancaman terhadap masyarakat. Yesus menunjukkan kemampuan-Nya untuk mendobrak larangan-larangan sosial untuk membantu orang-orang yang disingkirkan ini. “Kusta” suatu istilah untuk menyebut semua gejala penyakit kulit yang dianggap sangat sulit untuk disembuhkan. Maka dari itu, permintaan orang tersebut menunjukkan imannya yang kuat terhadap Yesus. Dalam Perjanjian Lama, kebersihan lahiriah begitu dipentingkan sehingga orang yang menderita kusta disebut najis atau tidak suci. Mereka itu tidak diperkenankan ikut serta dalam ibadat. Mereka harus tinggal jauh dari pemukiman penduduk karena orang-orang sehat tidak boleh bersentuhan dengan mereka.

Tetapi bagi Yesus, orang-orang kusta dan pendosa bukanlah orang-orang tersingkir yang perlu dijauhi. Mereka justru harus dicintai dan dipulihkan ke dalam kasih Allah dan paguyuban saudara-saudarinya. Bukan kebersihan lahiriah yang utama; manusia pertama-tama harus tahir batiniah. Yesus tidak berdiri di kejauhan seperti seseorang yang takut ketularan. Ia menyentuh orang yang sakit itu.

Dengan mengalami penderitaan dan kematian, Yesus menghancurkan akar segala kemalangan manusia yaitu dosa dan iblis. Yesus memulihkan keutuhan hidup manusia dengan kuasa penyembuhan Allah yang nyata dalam kata-kata dan tindakan-Nya. Setelah disembuhkan, seseorang wajib menjadi pewarta kabar gembira itu kepada orang lain dalam pelayanan kasih. Allah sangat peduli bahwa semua orang tanpa kecuali mengalami kuasa penyembuhan-Nya dan dikembalikan kepada martabatnya yang asli yaitu kebahagiaan dan sukacita dalam Tuhan.

Yesus datang untuk membalikkan pandangan umum pada zjaman itu tentang orang sakit kusta yang tidak boleh disentuh dan harus dijauhi. Orang kusta pun diperkenankan datang kepada Yesus dan mohon kesembuhan dari pada-Nya. Yesus sendiri mengundang siapa saja termasuk orang paling najis pun untuk datang kepada-Nya. Begitu banyak orang tidak mengerti bahwa dirinya diundang datang kepada Yesus untuk disembuhkan. Banyak orang di antara kita menderita karena merasa bebannya tak tertanggungkan. Tidak sedikit orang yang remuk ditimpa kemalangan tanpa ada sesama yang menolongnya untuk keluar dari lembah keterpurukan. Ada banyak juga yang dijauhi sesamanya atau tersingkir karena dianggap berkusta oleh orang lain.

Yesus tidak mengabaikan apalagi menyingkirkan siapa pun. Untuk itu kita menyadari akan kebaikan dan belas kasih Allah, di mana setiap hari kita mendapatkan rahmat dari Tuhan, mendapatkan kehidupan, kesehatan, dan juga berkat rohani dan jasmani dari Tuhan. Kita masih diberi hidup yang sehat. Kita diberi pikiran dan kemampuan untuk mengembangkan hidup kita. Banyak dari kita diberi harta kekayaan, kepandaian, ketrampilan, dan sikap serta sifat yang baik dari Tuhan. Apakah kita selalu bersyukur atas pemberian Tuhan itu? Atau kita sering lupa untuk bersyukur kepada-Nya?

Marilah kita mulai membiasakan diri bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan dan juga berkat yang kita terima dalam keluarga, pribadi, dan pekerjaan kita. Bukankah kalau Tuhan tidak memberi hidup lagi kepada kita, kita tidak akan dapat melakukan apa-apa lagi?

Bagi orang Samaria, penyembuhan mendatangkan “keselamatan”, kesembuhan yang menyeluruh, dan hubungan yang erat dengan Allah. Dengan iman yang tangguh kita mampu mengikuti Yesus dengan setia, di zaman yang penuh dengan berbagai tawaran dunia dan tantangannya. Marilah kita membiarkan Allah menyentuh dan menyembuhkan kita, untuk memulai karya-karya bagi kemuliaan-Nya. Marilah kita sisihkan waktu sejenak setiap hari untuk bersyukur kepada Tuhan!