Artikel

30-Oct-2016

RD Albertus Kurniadi

Zakheus yang Luar Biasa

sumber: http://4.bp.blogspot.com/-7x-9qxUh0sw/VJK80zBdv-I/AAAAAAAABOo/YGFSZo3_tss/s1600/zakheus.jpg

Iman semua orang berkembang karena pengalaman, yang mengantar manusia pada perjumpaan istimewa dengan Tuhan. Perjumpaan ini akhirnya membawa manusia pada arus hidup yang memungkinkannya memperjuangkan hidupnya hingga paripurna.

Zakheus dalam bacaan hari ini digambarkan sebagai pemungut cukai yang bertindak di luar batas kemanusiaan. Dia menarik pajak secara tidak manusiawi. Sikap Zakheus ini menjadi sarana pembelajaran bagi kita, pembelajaran bagaimana Allah menaruh belas kasihan kepada setiap orang dengan cara luar biasa. Cara Allah mendidik manusia bukan kisah sandiwara, yang membuat manusia terperangah. Tetapi Allah memanggil manusia untuk meresapi dan merengkuh kasih-Nya dalam kehidupan nyata.

Kisah Zakheus yang mereguk kasih Allah ini nampak pada keberanian Zakheus untuk berlari melihat seperti apa Yesus itu. Tidak hanya berlari tapi juga memanjat pohon, lalu diikuti dengan kata-kata, “Setengah dari apa yang kupunyai akan kuserahkan pada orang miskin”.

Apa yang dilakukan oleh Zakheus menjadi kisah pembelajaran bagi manusia, yang terletak pada minat Zakheus untuk keluar dari rutinitas hidupnya, keluar dari rasa amannya dengan segala konsekuensinya. Keberanian Zakheus ini ditunjukkan dengan berlari, memanjat pohon, berbicara secara pribadi dengan Yesus dan mempersilakan Yesus untuk bermalam di rumahnya, serta berkomitmen hidup yang baru.

Keberanian untuk keluar dari zona aman ini membutuhkan niat dan komitmen yang tinggi. Keluar dari zona aman berarti berani meninggalkan yang lama, yang membuatnya terperangkap namun tak terasa sebagai pengalaman benar atau salah. Keberaniannya berlari di tengah kerumunan orang merupakan hal yang luar biasa. Memanjat pohon dengan mempergunakan seragam dinas lebih luar biasa lagi. Berbicara secara pribadi dengan Yesus di tengah kerumunan orang bahkan sampai mengajak Yesus bermalam di rumahnya adalah kenekatan yang luar biasa. Keberanian dan kenekatan ini menjadi awal Zakheus mengalami kematangan hidup rohani.

Kematangan hidup rohani ditampilkan dalam adegan-adegan sederhana di mana kerapuhan hidup yang dialami oleh Zakheus tidak dianggap sebelah mata oleh Yesus. Karena Zakheus rela menelanjangi kerapuhan ini di depan Yesus dan mempersembahkannya lewat wawan hati dengan Yesus. Tindakan ini menjadikan Yesus sebagai teman seperjalanan, yang berarti menjadikan saya dan Anda sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk berbagi hidup. Kenyataan inilah yang mengkristal dalam niatan yang selalu memberikan kita keberanian untuk melangkah menata hidup agar lebih bermakna. RD Albertus Kurniadi