Artikel

16-Oct-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Minggu Evangelisasi

sumber: https://www.google.co.id/search?hl=id&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1252&bih=583&q=yesus+dan+murid-muridnya&oq=yesus+dan+murid-muridnya&gs_l=img.3...3814.10911.0.11033.32.20.0.0.0.0.835.835.6-1.1.0....0...1ac.1.64.img..31.1.833...0.L8Mr_42nVGw#imgrc=Y3Ghca6AmOX1ZM%3A

Umat Allah adalah manusia pendoa. Injil hari minggu ini menekankan pentingnya kehidupan doa. Hari ini Gereja memasuki Hari Minggu Biasa ke 29 yang bertepatan dengan Hari Minggu Evangelisasi.

Kita diajak berdoa untuk pelaksanaan tugas penginjilan (evangelisasi), yang merupakan perutusan bagi setiap murid Kristus. Maka tiap pribadi yang telah dibaptis digabungkan dalam pelaksanaan tugas penginjilan. Dalam bacaan I diungkapkan tentang “nilai dan kuasa doa” selama dalam perjalanan pembebasan umat Israel. Karena mereka itu mesti berperang melawan suku Amalek. Berkat Allah dan doa mereka peperangan itu dimenangkan oleh bangsa pilihan Allah, yang disalurkan melalui Nabi Musa.

Dalam bacaan ke II ditegaskan kembali bagaimana para Rasul berjuang dengan kekuatan dan kuasa Allah. Para Rasul dipanggil dan diutus Allah untuk melaksanakan tugas perutusan di tengah Jemaat. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim 4:2). Perikop ini mau mengingatkan Timotius untuk tetap berpegang pada kebenaran yang telah ia terima dan yakin serta mengingat semua orang yang sudah mengajarkannya. Di samping itu Timotius juga dingatkan untuk mencintai Kitab Suci sebagai sumber hikmat. Kitab Suci sendiri adalah tulisan yang diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Semua ini membantu kita untuk selalu berbuat baik. Mewartakan Sabda adalah sebuah tugas panggilan bagi kita semua. Paulus meminta supaya selalu siap sedia untuk mewartakan Sabda, baik atau tidak baik waktunya.

Sedangkan Injil Lukas 18:1-8 menampilkan perumpamaan ‘bagaimana murid-murid Yesus harus senantiasa berdoa’. Perumpamaan tentang hakim yang jahat dan janda yang dibelanya juga mau mengatakan kepada kita tentang Allah sebagai pembela umat kesayangan yang selalu setia dan berharap kepadaNya. Allah tidak hanya sebatas mendengar dan mengabulkan doa tetapi Ia menjadi pembela umat pilihanNya dalam pengadilan terakhir pada saat kedatangan kembali Yesus Kristus. Kalau saja hakim yang jahat mau membela sang janda dengan motivasinya yang negatif, apalagi Allah Bapa yang mahabaik. Dia akan membela umat yang berharap kepadaNya dan dalam waktu lambat atau cepat Ia pasti membelanya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Di pihak manusia, kita mengambil semangat sang janda. Janda itu figur pribadi yang lemah, tetapi tekun memohon kepada yang berkuasa yakni Tuhan sendiri untuk membelanya. Kita harus banyak berdoa sehingga dapat menumbukan iman kita kepada Tuhan. Tanpa doa, iman kita menjadi kerdil.Ketekunan berdoa itu diperlukan dalam kehidupan iman. Dengan memelihara hidup doa, kita mau menunjukkan bahwa kita memiliki hubungan pribadi dengan Allah. Berkat rahmat sakramen Baptis, dan dilengkapi dengan sakramen Krisma, kita diutus menjadi ‘misionaris’ Tuhan. Kita dipercayai untuk menjadi saksi Kristus dengan mewartakan Injil, Kabar Baik dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Memang demikian pernyataan Paus Yohanes Paulus II dalam ensikiknya, Redemptoris Missio, (Tugas Perutusan Sang Penebus) - “Gereja pada dasarnya bersifat misioner”. Artinya setiap umat Allah yang sedang berziarah di dunia ini mesti menyadari dirinya dipanggil untuk pelayanan misioner, yaitu untuk melakukan tugas perutusannya yang pertama dan utama: mewartakan Injil.

Selayaknya Pada Hari Minggu Evangelisasi ini menjadi kesempatan bagi para murid Kristus untuk saling mendoakan dan memberikan dorongan kepada setiap pribadi, kelompok atau komunitas Kristen, agar semakin sadar dan memahami tugas pertama dan utamanya. Dalam Lumen Gentium 1 dinyatakan: “Gereja adalah sakramen keselamatan dunia”. Ini berarti Gereja diutus untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi dunia.

RD. Yustinus Joned Saputra.