Artikel

06-Nov-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Rahasia Iman: Percaya akan Kebangkitan Badan

sumber: http://www.suarawajarfm.com/wp-content/uploads/2015/11/Yesus-dengan-orang-Saduki.jpg

Ketidak-percayaan orang-orang Saduki akan realitas kebangkitan disangkal Yesus. Orang yang mendasarkan imannya pada indera, kerap lupa bahwa indera manusia hanya bekerja karena ada jiwa yang menghidupi dan mengarahkannya. Pengalaman indera mata, telinga, rasa dan peraba itu bisa dibatasi oleh manusia untuk meraih dan memperoleh kesimpulan inderawi saja.

Dalam injil Luk 2:27-38, kita temukan pandangan Perjanjian Baru tentang kebangkitan badan atau kebangkitan orang mati. Perikop injil Lukas ini cukup menjelaskan, Perjanjian Baru percaya kepada kebangkitan badan. Kepercayaan itu bukan buatan para Penginjil, melainkan pengajaran sebagai warisan dari Tuhan Yesus sendiri.

Cukup jelas pula, bahwa orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan badan, kendati Kitab kedua Makabe bab 7 telah menunjukkan kepercayaan akan rahasia iman itu. Hal ini antara lain disebabkan orang-orang Saduki membatasi diri untuk percaya hanya pada hal-hal dan ajaran yang tertulis dalam 5 Kitab Taurat.

Orang-orang Saduki yang dikisahkan dalam injil Lukas 20:27-38; tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Orang-orang Saduki yang ditampilkan Lukas adalah wakil-wakil sebuah Partai Politik dalam Yudaisme. Para anggotanya, termasuk para Imam, bahkan imam-imam yang kaya dan terkenal. Nama Saduki, bisa kita kaitkan dengan Sadok dan Zadok, yaitu kepala imam-imam pengganti Abyiatar (1Raj 2:35; 4:4). Abyiatar (Ibr: Bapak yang memberikan kelimpahan); dialah putera Ahimelekh, satu-satunya imam yang terlepas dari pembataian Saul di Nob. Abyiatar mengungsi dan minta perlindungan pada Daud dgn membawa Efod (1Sam 22:20-23) dan menjadi imamnya (2Sam 8:17).

Mereka itu lebih mengutamakan sikap hidup yang bebas dan berbau duniawi. Mereka mengakui Taurat, tetapi dalam sikapnya yang konservatif, mereka membuang ‘tradisi nenek moyang’; mereka membuang penjelasan tradisional dan perkembangan hukum. Mereka itu jelas tidak mengakui kebangkitan orang mati (Mrk 12-18), yang dua abad sebelumnya telah disinggung dalam Kitab Daniel (12:2-3). Hal ini dibenarkan oleh Kisah Para Rasul: “Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya” (Kis 23:8).

Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Saduki : Yesus menunjukkan pemikiran salah kaum Saduki, yang menyamakan hidup di bumi dengan hidup ‘di dunia yang lain’. Di dunia ini orang kawin (kaum pria) dan dikawinkan (kaum wanita). Bukanlah demikian di “dunia yang lain itu”, yaitu di masa sesudah kebangkitan. Hidup orang yang sudah mengalami kebangkitan, berlangsung di tingkat lain daripada di dunia ini. Relasi antar-manusia yang bangkit tidak berdasarkan pada keputeraan jasmani lagi, tetapi keputeraan ilahi. Mereka yang sudah bangkit atau dibangkitkan, tidak akan mati lagi! Buat apa merepotkan diri dengan keputeraan jasmani atau ‘hak waris’?

Menurut “hukum levirat”, seorang suami yang mati sebelum istrinya punya anak, haruslah “mewariskan” istrinya itu kepada saudaranya laki-laki. Lantas, diajukan sebuah kasus fiktif, yakni bahwa ada seorang wanita yang menikah secara berturut-turut dengaan 7 pria bersaudara. Maka, muncul masalah: bila ada kebangkitan orang mati, manakah pria yang harus menjadi “suami” wanita itu, bila mereka kelak bersama berada di surga?

Yesus menegaskan: kebangkitan orang mati benar akan terjadi. Dan menanggapi kasus fiktif berdasarkan “hukum levirat” itu Yesus menegaskan bahwa perkawinan hanya ikatan yang ada selama sumai dan istri hidup di dunia fana ini. Di alam baka nanti tidaklah ada ikatan perkawinan. Maka, juga tidak ada masalah dengan wanita yang selama hidup di dunia ini telah menikah 7 kali. Di surga, ikatan perkawinan itu tidak ada lagi!

Dengan jawaban ini jelas, menurut Perjanjian Baru, kebangkitan badan itu tidak berarti hidup lagi seperti sebelum mati. Kebangkitan badan itu berarti peralihan ke hidup surgawi, hidup seperti para malaikat dan hidup sebagai anak-anak Allah. Inilah Sabda Yesus: “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36). Artinya sejak manusia dibangkitkan, hubungan kekeluargaan mereka itu diganti dengan hubungan yang baru. Anak-anak kebangkitan menjadi ‘anak-anak Allah’. Mereka itu mirip malaikat-malaikat!

Allah kita adalah Allah orang-orang hidup. Ia berkuasa atas hidup, Ia dapat memberi kepada dan mengambil kehidupan dari siapa pun. Dalam Sakramen Baptis Allah menanamkan benih kehidupan baru yang kekal, yang tidak dapat binasa. Dan Yesus menjadi saudara kita berkat Baptisan itu; dan Ia menjanjikan, Allah akan membangkitkan semua orang yang Bapa percayakan kepada-Nya.

Lain dari itu, Yesus berbicara juga tentang layaknya orang-orang dibangkitkan, mengambil bagian dalam kehidupan kekal yang membahagiakan. Karena itu, Yesus menekankan tanggung-jawab moral manusia di dunia ini, yang sering ditekankan Nabi Musa dalam pengajarannya. Tanggung-jawab itu tidak dapat dihindari dan akan menjadi salah satu penentu saat penghakiman Allah. Semua orang akan bangkit atau dibangkitkan, tetapi tidak semua orang yang dibangkitkan itu akan menikmati kehidupan bahagia. RD. Yustinus Joned Saputra