Artikel

20-Nov-2016

Petrus JS

Yesus, ingatlah akan daku, apabila Engkau datang sebagai Raja

sumber: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/126902c0.jpg

Hari Minggu ini kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam untuk menutup seluruh tahun liturgi Gereja. Kristus adalah Raja Semesta Alam tetapi sifat ke-Raja-an-Nya sangat berbeda dengan Raja manapun di dunia ini.

Bagi banyak orang Raja itu tidak lebih dari tokoh di masa lalu atau sosok yang kita peroleh dari buku atau melalui media informasi lainnya. Raja selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kekayaan, dunia glamor dan selebritis. Pada hari ini, Raja macam apakah Kristus yang hadir di hadapan kita? Dia tampil sebagai seorang penjahat yang dituntut hukuman mati. Dia dimahkotai duri, dipakaikan jubah ungu untuk mengolok-olok Dia sebagai Raja palsu. Dia diperhadapkan kepada Pilatus yang mewakili kekuasaan duniawi. Dimana letak kekuasaan dan ke-Raja-an Kristus?

Kerajaan Kristus bukanlah kerajaan duniawi yang mengandalkan kuasa, uang dan kehormatan. Kerajaan-Nya adalah kerajaan cinta, pelayanan, dan kebenaran. Dalam kerajaan itu kita telah di-lahirkan kembali dan bertumbuh sebagai saudara-saudari Kristus dan putera-puteri Allah Bapa di surga. Tidak jarang kita melarikan diri dari kerajaan itu dan berpaling kepada kuasa-kuasa duniawi karena menghindari pengorbanan dan salib. Tetapi kasih Allah dalam Yesus yang tersalibkan tidak kalah oleh pengkhianatan Pilatus, saya, Anda dan siapa saja. Sebab kemuliaan raja di dunia yang tertinggi sekalipun tidak akan dapat dibandingkan dengan kemuliaan Tuhan di Surga.

Allah menghendaki agar kita mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya, sebab Ia membuat kita “layak mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam Kerajaan Terang” (Kol 1:12). Sebab oleh jasa Kristus yang telah menebus dosa-dosa kita di kayu salib, kita telah dipindahkan dari kuasa kegelapan menuju kerajaan-Nya. Namun karunia istimewa ini yang kita terima saat Baptisan, harus kita jaga terus. Kita perlu berjuang untuk hidup sesuai dengan pang-gilan kita sebagai anak-anak Allah. Tantangan yang kita hadapi dalam kehidupan saat ini mengingatkan kita seberapapun besar kesusahan, pende-ritaan, bahkan penganiayaan yang kita hadapi, tidak akan sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima, jika kita tetap setia kepada Kristus. Sebab Kristus telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, segala kejahatan dan bahkan si jahat itu sendiri, dan pada akhir zaman kemuliaan-Nya akan dinyatakan dengan sempurna.

Injil Lukas menyampaikan undangan berupa penegasan dan jaminan. Kepada sang penyamun yang bertobat. Tuhan menjamin siapa saja yang berkehendak baik, yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk bertobat dan lebih lagi yang bersahabat dengan Dia untuk berada bersama-sama dengan Dia.

Di akhir tahun liturgi dan di Hari Raya Kristus Raja ini, marilah kita masuk ke ruang batin kita, sejauh mana kesetiaan kita dalam iman dan sejauh manakah kita mewujudkannya dengan kasih. Sebab berbeda dari para raja di dunia, Kristus menunjukkan “kemuliaanNya” justru dalam pelayanan-Nya, kemiskinan-Nya, dan pengorbanan-Nya, demi kasih-Nya kepada kita umat manusia.

Sudahkah kita mengikuti teladan Yesus Sang Raja kita ini? Sudahkah kita hidup sederhana, mau melayani dengan iklas tanpa pamrih dan rela berkorban demi kasih kepada sesama? Sebab jika kita berbuat demikian, kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai Raja di hati kita, dan kemuliaan-Nya pun telah dapat kita alami di dunia ini. Santo Ambrosius mengatakan, “Tuhan selalu memberi lebih banyak daripada yang kita minta. Penjahat itu hanya meminta supaya Yesus mengingatnya, tetapi Yesus berkata, ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ Intisari kehidupan adalah hidup dengan Yesus Kristus. Dan di mana Kristus berada, di sana Kerajaan-Nya ditemukan”.

Marilah kita mendoakan perkataan yang sama ini dengan tulus, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Dan semoga Tuhan Yesus menjawabnya seturut kemurahan hati-Nya. (Petrus JS)