Artikel

04-Dec-2016

RD Yustinus Joned Saputra

Persiapkanlah Jalan bagi Tuhan

sumber: http://4.bp.blogspot.com/--RO4hnP65CE/UwQ1YrD6jMI/AAAAAAAAAL4/K20Ki54ONsw/s1600/14.jpg

Injil Minggu ini bersuara lantang: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga (Allah) sudah dekat!” (Mat 3:2). Kita diajak Sang nabi terakhir, Yohanes Pembaptis untuk “mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan Yesus, dengan cara meratakan jalan bagi ke-datangan Tuhan, agar kedamaian itu menjadi nyata” dalam hidup kita. Ini berarti kedatangan Tuhan meminta persiapan yang seimbang dalam bentuk pertobatan, yaitu dengan mengakui dosa kita agar pantas menyambut Tuhan dalam hidup kita. Sikap pertobatan merupakan tindak-persiapan menyambut Tuhan Yesus dalam Roh Kudus, sekaligus kita bangun Kerajaan Allah, yang kelak menjadi visi misi Yesus!

Menarik untuk kita perhatikan bahwa seruan “tobat” ini senantiasa kita renungkan pada Masa Advent dan Masa Prapaskah. Mengapa? Sebab tidak cara lain yg lebih baik untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus selain bertobat.

Bertobat juga berarti menyiapkan jalan untuk Tuhan, meluruskan hati kita dan memusatkan pikiran kita agar senantiasa berorientasi dan tertuju kepada Tuhan Yesus. Bertobat berarti meninggalkan cara hidup yang lama dan mengganti dengan cara hidup manusia baru.

Bagaimana pertobatan itu bisa kita laksanakan secara konkret dan nyata?

·Pertobatan dapat diungkapkan antara lain dengan “mengaku dosa”, di hadapan Allah dan disaksikan oleh Imam-Nya, dengan mengakui bahwa diri kita membutuhkan pengampunan dari Allah. Dan kita percaya bahwa pertobatan itu akan mendatangkan kasih, kerahiman dan pengampunan Allah…

·Agar “pengakuan dosa” kita mendatangkan rahmat pengampunan Allah, kita perlu membuka hati, bersikap rendah hati dan jujur, dan tanpa berdalih di hadapan Allah.

·“Pengakuan dosa” pada zaman Yohanes Pembaptis bukanlah Sakramen Pengakuan Dosa, seperti yang kita terima sekarang ini. Maka, jika kita pada zaman sekarang mau menerima rahmat pengampunan Allah, kita mesti menghadap kepada Imam untuk menyambut “Sakramen Tobat”.

Perlu kita perhatikan, tidak sedikit orang mengira: pertobatan itu ha-nya terletak di dalam perasaan belaka, atau harus diwujudkan dengan “linangan air mata”. Apa memang demikian? Perasaan bisa membantu dan mendorong untuk mengalami pertobatan, tetapi ukuran untuk menilai apakah seseorang sudah bertobat atau belum?

·Pertobatan itu harus nampak dalam tindakan dan perbuatan hidup kita: perubahan cara berpikir, cara hidup dan bertingkah-laku. Dengan kata lain, pertobatan mesti “berbuah”, yaitu berupa tingkah laku dan cara hidup yang baru.

Dalam injil Mateus dinyatakan: “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat 3:8). Buah pertobatan semestinya nampak dalam hidup bersama maupun hidup pribadi kita. Wujud dan bentuk konkret bagi setiap orang tidak sama. Maka baiklah dalam “tempus adventus” ini kita nyatakan sikap, tingkah-laku dan kehidupan kita untuk menantikan kedatangan Tuhan Yesus, sambil kita bertanya dalam hati kita masing-masing: “buah-buah pertobatan apakah yang dapat saya hasilkan untuk saat sekarang ini, untuk tahun ini?”

Pada saat ini kita juga mengingat akan akibatnya, jika kita tidak bersedia bertobat dan melakukan metanoia, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api!” (Mat 3:10).

Lantas bagaimana sikap kita selama masa Adven?

Kita bisa mengambil sikap: menyediakan waktu untuk memahami isi dan amanat bacaan Kitab Suci selama masa Adven; ikut serta dalam perjamuan Ekaristi secara lebih sadar, peka dan semangat merupakan pratanda sikap yang positif. Selama adven kita juga dapat meningkatkan semangat berdoa, berkomunikasi lebih intensif dengan Tuhan. Masa Adven hendaknya kita isi dengan kegiatan yang mengarahkan sikap, pikiran, hati dan hidup kita kepada Tuhan Yesus, yang kedatanganNya kita nantikan.

RD. Yustinus Joned Saputra.