Artikel

11-Dec-2016

Petrus JS

Gaudete – Bersukacitalah!

sumber: http://www.lingkungan-cb.com/pages/articles/images/c5b15fc38a2e9b1a63d9af07b33c6a6d.jpg

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat, demikian isi antifon pembuka yang membuat hari ini, Minggu Adven III, dikenal sebagai hari minggu Gaudete/sukacita. Ungkapan tersebut sekaligus juga merupakan ajakan untuk bersukacita dalam menyambut kedatangan Tuhan. Mari kita bersama merenungkan kisah berikut ini.

Seorang bapak tua sedang duduk di bangku sebuah taman. Ia melihat seorang anak laki-laki dengan pakaian yang sudah lusuh, juga duduk di ujung bangku itu. Wajah anak itu terpekur, terlihat tangannya mengelus-elus perutnya. Bapak tua itu bertanya pada anak laki-laki itu, “Kenapa kamu, Nak?”

Anak laki-laki itu menjawab, “Tidak apa-apa, Pak.”

Bapak tua itu segera mengerti, ia beranjak dari tempat duduknya, dan pergi. Tidak berapa lama, ia kembali ke bangku itu dengan membawa sebungkus nasi, yang langsung diberikannya pada anak laki-laki itu. “Makanlah, Nak,” kata bapak tua itu.

Mata anak laki-laki itu berbinar-binar. Di-bukanya bungkusan nasi itu, dan dengan lahap, seperti sudah berhari-hari tidak makan, ia me-nyantap nasi bungkus itu. Namun, setelah beberapa suap, anak laki-laki itu kembali membungkus nasi itu, dan hendak beranjak pergi.

Bapak tua itu heran melihatnya, ia berpikir, “Mengapa nasi itu tidak dihabiskannya? Wah, tidak tahu terima kasih anak ini, nasi masih banyak itu akan dibuangnya? Wah..wah..”

Bapak tua itu lantas bertanya pada anak laki-laki itu, “Lho.. kenapa tidak sekalian dihabiskan? Gak enak ya, atau gak suka? Tidak baik lho menyisakan atau membuang makanan.”

Jawaban anak laki-laki itu sungguh mencengangkan, “Separuh dari nasi bungkus ini saya sisihkan untuk adik saya yang di rumah, Pak, supaya nanti dia juga dapat makan makanan enak dengan lauk yang enak sekali ini, Pak!”

Demikianlah sukacita yang tidak akan dirampas, bukan pertama-tama dengan memintakan satu nasi bungkus lagi untuk adiknya yang di rumah, tetapi anak laki-laki itu membagi miliknya yang disukai dan diperlukan, untuk adiknya yang dicintai.

Nubuat nabi Yesaya yang kutipannya diambil untuk bacaan Minggu Adven III ini menunjukkan situasi baru yang ideal, penuh kegembiraan, dan damai sejahtera. Padang gurun menghasilkan bunga mawar yang indah, orang sakit akan sembuh, dan ada kegembiraan besar serta kemuliaan Tuhan akan nampak bahkan Allah datang sendiri untuk menyelamatkan. Bagi orang Kristiani situasi itu terpenuhi dalam Tuhan Yesus Kristus. Ketika murid-murid Yohanes diutus untuk bertanya apakah Yesus itu yang akan datang, Ia memberi jawaban dengan menunjuk apa yang terjadi, yaitu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan orang miskin diberi kabar baik.

Apa yang disampaikan Yesus itu sesuai dengan yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Sebagai persiapan untuk menyambut Hari Raya Natal, kita dingatkan akan iman itu, yaitu percaya akan Yesus yang adalah wujud nyata dan sekaligus pemenuhan karya penyelamatan Allah bagi manusia. Allah sendiri bertindak dalam karya penyelamatan itu. Maka pertama-tama, semua orang Kristiani, seperti Yohanes Pembaptis, bertugas untuk memperkenalkan Kristus sebagai pemenuhan nubuat para nabi dan penyelamat itu.

Menunggu dan berharap saja tidaklah cukup, bahkan sebenarnya mengingkari tugas dan tanggung jawab kita. Karenanya, perlulah bertanya kepada diri sendiri manakah bentuk keikutsertaan saya dan manakah peran nyata yang telah saya ambil demi makin terwujudnya keselamatan itu?

Marilah bersukacita menyambut Tuhan dalam hati kita. Marilah bersukacita menyambut Tuhan bersama dengan keluarga kita. (Petrus JS)