Artikel

08-Jan-2017

RD Justinus Joned Saputra

Hari Raya Penampakan Tuhan

sumber: http://i712.photobucket.com/albums/ww123/negeribangau/PenampakanTuhan5_zps0d0c3618.jpg

Dalam Injil Mateus 2:1-12 dikisahkan ada tiga tipe orang yang dilukiskan kepada kita dengan hati, sikap dan motivasi yang berbeda, bahkan bertentangan terhadap Yesus yang baru lahir.

Ketiga sarjana dari Timur melihat tanda dari langit. Sebab hati dan budi mereka terbuka, mereka dapat menafsirkan tanda itu secara tepat sebagai tanda kelahiran Penebus. Ketiga sarjana itu pergi dan meninggalkan keluarga, pekerjaan dan hartanya, lalu berangkat untuk satu perjalanan yang beresiko tinggi dan penuh bahaya, yaitu mencari bayi ilahi yang dilahirkan itu.

Raja Herodes adalah pribadi penguasa yang egois, yang hanya mengenal satu keinginan, bagaimana dia dapat mempertahankan kuasanya. Ia terkejut oleh kemungkinan adanya seorang calon Raja Yahudi yang dilahirkan. Hal ini bisa membahayakan kuasanya. Nampaknya Herodes mau ‘mencari’ kebenaran itu, tetapi dalam kenyataannya ia hanya mau menggunakan kebenaran itu untuk mencari keuntungan bagi dirinya, dengan berusaha mematikan Raja Kebenaran, yang dianggap membahayakan dirinya.

Para imam dan ahli taurat di Yerusalem tahu kebenaran. Mereka bisa memberikan jawaban yang benar mengenai tempat kelahiran Mesias. Tetapi pengetahuan mereka tidak menghasilkan tindakan nyata. Hati mereka tertutup. Mereka tidak pergi ‘mencari’ Anak ilahi yang dilahirkan itu. Mereka hanya memberikan informasi kepada orang lain. Mereka hanya tinggal di rumah. Mereka itu tetap bertahan pada kebiasaan lama, perilaku lama dan budaya hidupnya seperti sebelumnya. Maka kendati Mesias sudah lahir, tidak terjadi perubahan apa-apa dalam hidup mereka itu….

Ketiga tipe orang tadi dengan sikap dan motivasi hidupnya merupakan cerminan bagi kita.Kita bisa melihat diri dan memeriksa diri. Bagaimana sikap kita terhadap peristiwa Natal Yesus? Apakah kita egois seperti Herodes, yang hanya menggunakan kesempatan mencari keuntungan bagi diri sendiri; atau kita malah “menyalah-gunakan” kebenaran dan agama demi keuntungan pribagi kita? Dengan demikian, sadar atau tidak sadar, cepat atau lambat kita akan menodai iman kita kepada Yesus Kristus.

Apakah hati kita tertutup seperti para imam dan ahli taurat? Apakah kita mau seperti mereka yang mengetahui kebenaran dengan baik, tetapi tidak mau mengubah hidup kita sehari-hari? Ataukah kita penuh kerinduan akan Yesus, Sang Raja Damai; dan dengan tekun, rendah hati dan membuka hati mencari Yesus. Jikalau sudah menemukan, kita bersedia menghormati dan menyembah-Nya?

Pesta penampakan Tuhan sering disebut dengan istilah bahasa Yunani: Epifani. Ada pula yang menyebut “Pesta Tiga Raja”. Sebab ada anggapan: orang Majus, orang bijak atau sarjana dari Timur itu adalah Raja. Mereka datang untuk menyembah Raja atas segala Raja, yang baru lahir di Betlehem. Dengan kisah ketiga orang Majus itu mau mengungkapkan keyakinan Gereja bahwa Yesus itu adalah Raja semesta alam, bukan hanya bagi bangsa Yahudi atau golongan tertentu. Sebab keselamatan itu ditawarkan Allah bagi semua bangsa, termasuk juga bangsa kafir. Kedatangan orang-orang Majus itu menjadi langkah awal terpenuhinya nubuat para nabi atas kota Yerusalem. Mereka sampai di Betlehem dan menemukan bayi Yesus, karena bimbingan bintang. Itulah tujuan orang Majus. Ketiga orang Majus adalah lambang setiap manusia yang selalu mencari kebenaran. Tindakan mencari itu berlaku juga bagi orang yang tidak berharta; berkondisi tidak aman dan nyaman hidupnya; juga mereka yang dilanda bencana banjir, tanah longsor,dsb.

Mereka yang “mencari” bintang itu bergerak dan bertindak berkat rahmat Allah, yang dilambangkan sebuah bintang besar. Mereka itu “mencari” suatu yang baik dan berguna. Mereka itu “mencari” yang bernilai luhur di hadapan Allah. Dialah pribadi yang bisa mengantarnya pada kehidupan baru, yaitu keselamatan yang menjadi cita-cita Allah. Bintang itu mengisyaratkan bahwa Allah telah memberikan kepada dunia dan bangsa manusia, Harta-Nya yang amat berharga, yaitu PutraNya sendiri. Kita mesti mengingat pernyataan nabi Yesaya: “Puer natus est nobis, et Filius datus est nobis” – “Seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah dianugerahkan bagi kita” (Yes 9:5a).

Marilah kita bersama ketiga orang Majus itu, masuk ke Betlehem agar menemukan Yesus. Kita mau menyembah dan bersujud kepadaNya. Sebab Dialah Raja Damai, Terang Dunia, Juru Selamat yang dijanjikan oleh Allah, yang akan memberikan sinar dan cahaya. Semoga berkat semangat Natal Tuhan Yesus berarti datangnya cahaya ke dalam pribadi yang sedang diliputi kegelapan dan berbagai persoalan kehidupan; datangnya sukacita ke dalam hati yang sedang berduka dan menderita; datangnya cinta ke dalam hati yang sedang merana; dan datangnya damai ke dalam hati yang kalut dan takut; datangnya semangat baru dan habitus baru ke dalam dunia yang terpuruk dan terancam hancur dan punah.

“Yesus dapat seribu kali lahir di Betlehem, tetapi jika Yesus tidak lahir kembali dalam hidup kita, komunitas dan keluarga kita, maka sia-sialah peristiwa Natal Yesus” (Angelus Silesius)