Artikel

15-Jan-2017

Fr.Yoseph Didik Mardiyanto

Bukan Sekadar Memberitakan, Namun Sungguh Menghidupi Kebenaran

sumber: http://www.suarawajarfm.com/wp-content/uploads/2016/01/Pembabtisan.jpg

Setiap agama pada hakekatnya membawa setiap pemeluknya menuju pada kebaikan hidup. Lebih dari itu, setiap agama membawa pemeluknya pada kebenaran yang sejati. Maka, kalau hendak melihat kualitas hidup beragama seseorang, bisa dilihat dari kebaikan dan keutamaan hidup yang dilakukan orang tersebut.

Benar bahwa banyak orang memberitakan agama, namun kualitas hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran yang diberitakan atau diwartakan. Nah, ini soal kesinambungan antara ucapan dan tindakan. Kesesuaian antara ucapan dan tindakan inilah yang menunjukkan keutuhan pribadi seseorang, dimana orang tersebut bisa menampilkan diri dengan tulus, jujur, dan tidak munafik.

Kalau kita cermati, di Indonesia, ada orang-orang yang pintar dan fasih ‘menyuarakan’ kebenaran hidup, tak peduli dia adalah pemimpin agama, pemimpin negara, pejabat daerah dan seterusnya. Namun, ketika reputasi orang-orang tersebut perihal ucapannya mulai diragukan, orang tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahanan citra dirinya, supaya orang tetap percaya dengan apa yang diucapkannya.

Bahasa kerennya: ‘menghalalkan segala cara’, asal orang tetap percaya. Ini yang disebut dengan: pencitraan, yang tak lain dan tak bukan, ‘saudara kandung’ dari: kemunafikan. Namun, apakah ini tindakan yang tepat? Bukankah orang akan menjadi semakin tidak percaya jika melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan. Mewartakan kebenaran, namun melakukan ketidakbenaran.

Injil hari ini mengkisahkan Yohanes Pembaptis yang terpanggil untuk menjadi ‘jalan pembuka’ bagi kehadiran Yesus, dan menjadi pewarta bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Banyak yang tidak secara mudah menerima dan memahami kabar yang diwartakannya. Dan, kemudian Yesus datang dan mulai tampil di tengah bangsa Israel, reputasi Yohanes Pembaptis perlahan mulai pudar dan menurun. Yohanes Pembaptis, barangkali juga berpikir bahwa dirinya akan kehilangan reputasi dan kepercayaan dari banyak orang. Namun, dia tetap menghayati panggilannya di hadapan Allah dengan konsisten, sesuai porsi dan tanggungjawabnya. Tak perlu mencari pembenaran apalagi pencitraan. Dan bahkan ketika Yohanes Pembaptis mati, orang pun bahkan memberi kesaksian bahwa segala perkataan yang diucapkan Yohanes Pembaptis tentang Yesus, adalah benar. Di sini, Yohanes Pembaptis memiliki integritas yang teruji.

Hidup kita, adalah hidup sebagai panggilan untuk memberitakan kebenaran yang datang dari Allah, namun kita sadar bahwa apa yang kita wartakan tentang Yesus, tidak sejalan dengan apa yang kita lakukan dan hidupi dalam keseharian. Ketika ucapan tak sinambung dengan tindakan, pencitraan adalah jawaban terakhir yang diajukan. Ya, sekali lagi, hanya demi sebuah reputasi. Namun, Yohanes Pembaptis mengajarkan kita untuk tidak sekadar memberitakan kebenaran, namun juga menghidupi kebenaran itu sendiri. Inilah integritas kristiani sejati.

Selamat berhari Minggu. Berkat Tuhan melimpah untuk kita semua. (Fr.Yoseph Didik Mardiyanto)