Artikel

22-Jan-2017

Petrus JS

Perjumpaan Injili

sumber: https://margonolucas.files.wordpress.com/2015/01/yesus-tampil-di-galilea-dan-memanggil-murid-pertama.jpg

Hidup beriman adalah kesatuan antara bertobat, mengikuti Yesus, dan menjadi penjala manusia, terus-menerus tanpa henti. Sesungguhnya, menjadi Kristen berarti menjadi murid dan peng-ikut Yesus. Semakin menyerupai Yesus dalam cara berpikir, berperasaan, dan bertingkah laku.

Penjala Manusia

Kutipan Injil yang mulai hari ini diambil dari Injil Matius merupakan ringkasan seluruh Injil. Se-akan-akan ditayangkan ke hadapan kita apa yang akan kita dengarkan sepanjang tahun liturgi (tahun A) tentang Yesus, Kerajaan Allah, dan diri kita sendiri.

Allah menghendaki agar keselamatan dapat dianugerahkan kepada semua bangsa. Oleh karena-nya, Allah, melalui diri Putera-Nya, berkenan untuk Zebulon dan Naftali; suatu wilayah yang dikatakan oleh Nabi Yesaya sebagai tempat kediaman bangsa-bangsa lain yang berjalan dalam kegelapan.

Di sanalah, justru warta Kabar Gembira dimulai; Terang mulai menyinari kekelaman negeri. Dan di sana juga para murid Tuhan dipanggil untuk menjadi saksi mata akan pewartaan Kabar Gembira yang nantinya akan mereka lanjutkan. Sebagai para pewarta Kabar Gembira yang telah dirintis oleh Yesus, para murid perlulah memiliki kesatuan hati dan pikiran diantara mereka, agar karya keselamatan semakin diterima diberbagai bangsa dan dijauhkan dari segala perpecahan (Bacaan II).

Rasul Paulus juga menghadapi keadaan seperti itu di Korintus, pasti dalam kadar yang lebih tajam sebagaimana antara lain terungkap dalam kutipan suratnya yang hari ini dibacakan. Dalam bab pertama Surat kepada Jemaat di Korintus menggambarkan perpecahan yang dialami oleh jemaat. Ge-reja di Korintus yang semestinya bersatu, sehati sepikir, ternyata terpecah menjadi klik-klik atau kelompok yang berlawanan satu terhadap yang lain. Kepada orang-orang dari golongan inilah Paulus mengatakan bahwa Kristus, yang tidak terbagi-bagi (1Kor 1:13), mengutus dirinya untuk memberitakan Injil supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia; bukan dirinya sendiri, atau siapa pun yang penting, tetapi Kristus tersalib dengan segala keagungan kasih yang terwujud di dalamnya. Kasih Kristus inilah yang seharusnya membuat mereka menjadi sesama saudara, itulah sebabnya Paulus menyebut orang-orang Korintus saudara sampai dua kali (1Kor 1:10. 11), yang seia sekata, erat bersatu, sehati sepikir.

Mateus memulai kisah hari ini dengan menyebut tempat Yesus memulai kehidupan publikNya, dengan pewartaan demikian, “Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, .... Sejak waktu itulah Yesus memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”

Bertobat artinya meninggalkan “daerah kegelapan” tidak lagi “berjalan di dalam kegelapan” (Yes 9:1), melainkan hidup sebagai anak terang dengan perbuatan-perbuatan terang (bdk Ef 5:5-9).

Seorang yang sudah melepaskan diri dari ikatan masa lalunya dan dari segala tindakan kegelapan dosa yang membelenggu dirinya, menjadi bebas untuk mengikuti Yesus. Dia siap untuk melakukan apa saja yang dituntut Yesus daripadanya. Para murid begitu terpesona oleh pribadi Yesus. Mereka mau meninggalkan segala-galanya, keluarga, pekerjaan dan segera mengikuti Yesus dengan sukacita (Mat 4:18-22). Perjumpaan Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya dengan Yesus yang sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutilah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.”

Perjumpaan sederhana itu ternyata begitu penting dalam hidup Yesus di depan umum. Hidup Yesus di hadapan publik memang ternyata tak diwarnai oleh kejadian-kejadian hebat, tetapi di atas segalanya dibangun di atas rentetan perjumpaan kecil, sederhana, yang terjadi di tempat sederhana.

Sebuah indikasi sederhana tentang Kabar Gembira Injil Yesus Kristus yang kita bawa dalam hidup, bisa menghasilkan perubahan dalam sejarah. Kabar gembira akan menghasilkan buah dan mengubah hidup masyarakat, bukan ter-utama dalam gegap gempita tetapi dari perjumpaan antara orang dengan orang, antara komunitas dengan komunitas.

Jadi perjumpaan menjadi media penting bagi upaya melanjutkan kabar gembira. Kita ditanya hari ini, “Bagaimana kita mengisi dan mewarnai perjumpaan-perjumpaan kita? Apakah perjumpaan-perjumpaan itu menghantar orang kepada harapan hidup yang lebih baik, apakah ada dimensi iman di sana? Apakah perjumpaan-perjumpaan kita punya karakter Injili? Dan lebih penting lagi, “Apakah kita mau seperti Andreas mengayunkan langkah pertama untuk mengikuti Dia?” (Petrus JS)