Artikel

29-Jan-2017

RD Albertus Kurniadi

Berbahagialah

sumber: http://i961.photobucket.com/albums/ae97/gusmendem/bloch-sermononthemount-resized.jpg

Mendengar kata berbahagia membuat kita mencari dan merenungkan apa itu bahagia,bahagia dari apa dan karena apa?

Pertanyaan sederhana namun saling terkait dengan hidup manusia, terkait pula denganperjuangan manusia. Berbahagia berarti keadaan setelah manusia memperjuangkan semuanya itu secara paripurna. Bisa juga, orang dikatakan berbahagia karena apa yang diharapkannya itu sedikit demi sedikit tergapai. Orang yang berbahagia adalah orang yang setiap langkah hidupnya selalu mengarahkan budinya pada Allah sumberkehidupan.

Ada harga dari berbahagia.

Berbahagia merupakan sebuah ungkapan yang menggambarkan suasana hati manusia karena suatu alasan. Berbahagia membuat manusia memancarkan energi positif kepada yang lain sehingga membawa suasana gembira yang mempengaruhi hidup sesama yang ada disekitarnya. Pancaran hidup ini dapat ditangkap melalui perjumpaan manusia maupun dalam tindakan sehari-hari.

Rumusan berbahagia yang disampaikan oleh Yesus pada hari Minggu ini menyimpan pesan yang mendalam. Pesan itu tersirat dalam pesan Yesus yang membuat manusia merenungkan diri dalam kata miskin.Orang modern yang serba membutuhkan penjelasan logis, berpikir mana mungkin yang miskin disebut berbahagia. Secara kasat mata kata miskin ini menjadi kata yang menggambarkan situasi tak berada, ada yang kurang dalam hidupnya.

Penilaian berdasarkan apa yang kita lihat, mana mungkin mereka yang miskin berbahagia? Dalam keseharian, penilaian tentang miskin tak berbahagia adalah ukuran yang keliru. Mengapa? Dalam pencarian kita maupun perjumpaan dengan yang miskin, kita tersadarkan bahwa yang miskin sering kali menampilkan diri apa adanya sehingga tampak dari keseharian mereka selalu gembira. Gembira karena memiliki waktu yang banyak untuk berkumpul dengan anggota keluarga, memiliki waktu yang banyak untuk berkomunikasi dengan tetangga kanan-kiri, memiliki waktu yang banyak untuk melakukan banyak pekerjaan secara berkelanjutan.

Situasi miskin ini membuat kita membuka diri terhadap situasi hidup yang ada. Ada orang yang akhirnya berkata, “Apa yang bisa saya bantu untuk bapak?”. Kata “bisa saya bantu untuk bapak” berarti semangat orang ini adalah untuk meringankan tangan membantu, memberi tawaran untuk menerima apa yang diperintahkan kepadanya.

Kata “miskin” bukan berarti ekonomis semata melainkan memiliki dimensi rohani. Kata “miskin” bila dilihat dari kacamata rohani berarti orang yang berpikir panjang. Mana mungkin kalau orang ingin menawarkan bantuan tidak berpikir panjang, bukan berarti peragu, bahkan tak berani untuk ambil keputusan. Di sinilah letak miskin, yakni memiliki watak yang wening, dalam arti memiliki sifat yang merenungkan secara mendalam sampai menemukan sebuah nilai yang obyektif, yang bisa dipakainya dalam mengambil keputusan.

Dikatakan demikian karena setiap orang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri ,setiap orang membutuhkan waktu untuk diisi oleh yang lain, setiap orang membutuhkan waktu untuk jujur dengan dirinya sendiri. Situasi seperti ini dapat terlaksana bila manusia berhadapan dengan situasi miskin, situasi menemukan objektivitas dalam dirinya.

Tahun baru untuk berbahagia.

Tahun baru identik dengan harapan, keheningan, dan suasana wening. Hal ini terjadi karena tahun baru biasa dihiasi dengan pengharapan dan doa. Tahun baru menjadi saat di mana kita menemukan satu keheningan batin yang terdalam karena apa yang telah kita kerjakan sepanjang tahun 2016 merupakan perziarahan penuh dinamika hidup yang tak terbayangkan sebelumnya. Dinamika itu menghantarkan kita pada keyakinan bahwa Allah selalu membawakan kedamaian, sukacita, dan pertolongan yang tepat.

Tahun 2017 menjadi tahun yang membuat kita menaruh budi yang wening pada Allah sumber pertolongan kita. Walau membutuhkan kesabaran ekstra untuk menemukan rahmat Allah yang menerangi langkah laku kita.