Artikel

05-Feb-2017

Fr. Yoseph Didik Mardiyanto

Karena Rasa adalah Segalanya

sumber: http://image.slidesharecdn.com/garamdanterang-150429222107-conversion-gate02/95/garam-dan-terang-1-638.jpg?cb=1430346198

Kalau berkisah tentang ‘garam’, saya ingat suatu masa di Tahun Orientasi Rohani (TOR)di Jangli Semarang. Waktu itu, masa Prapaskah, dan sesuai aturan pantang dan puasa di masa Prapaskah, kami menentukan jenis pantang dan hari puasa yang harus kami jalankan di komunitas. Nah, salah satu hari, kami sepakat untuk berpantang garam. Artinya, sehari itu, kami akan makan makanan yang tidak dibumbui garam. Apa yang terjadi? Waktu itu, sebagian besar dari kami lebih memilih puasa penuh daripada harus makan tanpa garam. Tanpa garam, makanan menjadi hambar. Tanpa garam, kenikmatan seolah hilang tanpa bekas. Seperti yang kita ketahui, garam tersedia melimpah di lautan, dan kalaupun harus membeli, harganya tidak terlalu mahal. Namun di balik itu, garam memiliki pengaruh yang luar biasa, meski caranya teramat sederhana. Garam hanya perlu meleburkan diri dalam masakan dengan tenang dan takaran pas, tanpa hiruk pikuk dan meresap begitu saja. Garam memberi rasa, efektif dan tanpa banyak kata.

Yesus, dalam Injil hari ini, mengajak kita semua untuk menjadi garam (dan terang dunia). Kesekian kalinya, Yesus menggunakan barang-barang yang sangat familiar dalam hidup sehari-hari untuk menggambarkan ajaran-ajaranNya. Semua orang (besar kecil, tua muda, kaya miskin), pernah menggunakan garam dan mengenal rasa garam. Di rumah anda, barangkali tidak ada barang mewah nan istimewa, tapi minimal pasti ada garam. Barang ini kelihatannya sepele, namun sangat dibutuhkan orang. Ajakan Yesus untuk menjadi garam, bukan soal himbauan atau perintah, tapi sebuah penegasan, bahwa setiap orang itu bernilai dan memiliki arti bagi lingkungan dan masyarakat mereka. Namun, dinyatakan pula bahwa: “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia akan diasinkan? Tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang.” Garam itu berguna karena ada rasa asin, sehingga makanan menjadi berasa. Namun, untuk menjadi garam dunia, harus ada harga yang harus dibayar, karena diperlukan pengorbanan, seperti garam yang perlu melebur, meresap, dan tidak terlihat lagi wujudnya. Yang tertinggal hanya rasanya. Maka, penegasan Yesus ini juga berkaitan dengan identitas kristiani, yang mampu memberikan pengaruh moral di tengah masyarakat, dengan segenap perkataan dan tindakan, meski terkadang tidak terlihat, tidak dianggap dan tidak diberi penghargaan.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama, menggambarkan bahwa setiap anak Allah dipanggil untuk mewujudkan kebaikan Allah yaitu dengan mengenyangkan yang lapar, memberi tumpangan dan pakaian kepada orang miskin, terbuka pada saudara-saudara yang tidak sehati, membebaskan siapa pun dari beban (kuk) dan tidak melontarkan dusta serta fitnah. Ini pula yang menjadi wujud konkret dari menjadi ‘garam’ bagi dunia. Pada masa ini, banyak orang hidup dalam ketidakmenentuan, dan kalau kehidupan adalah hidup yang penuh rasa, kini banyak orang yang mendambakan kepenuhan rasa: rasa cinta, rasa aman, serta rasa lega; karena yang lebih sering kita dengar sekarang adalah rasa benci, rasa takut, serta rasa iri. Maka, mari kita menjadi garam, menjadi ‘rasa’ bagi dunia, karena rasa adalah segalanya. Selamat menjadi rasa bagi dunia yang tawar.

Tuhan Memberkati (Fr.Yoseph Didik Mardiyanto)