Artikel

25-Dec-2013

A.P. Sukaton

BEKERJA ADALAH BERJUANG

Dalam sebuah perjalanan menuju ke kantor saya melihat seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk sambil menggelar nasi bungkus dagangannya.
Masih sibuk mengatur dagangannya, sudah banyak berdatangan calon pembeli nasi bungkusnya. Rupanya mereka sudah menunggu ibu penjual nasi bungkus itu. Terlihat diantara mereka pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi datang menyerbu dan berkerumun di sekitarnya, membuatnya sibuk melayani.

Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah. Hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah.
Dengan rasa penasaran saya bertanya, “Ibu menjual nasi bungkus ini harganya kok murah sekali? Lalu apa untungnya?
Wanita itu terkekeh menjawab, 
”Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun” demikian sederhana ia menjawab.
Tapi bukankah ia bisa menaikan harga sedikit?
Sekali lagi ia terkekeh, “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli?
Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?”, katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah… !
Betapa mulianya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja.
Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua diatas, 
”Yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh”
Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka.

Dikaitkan dengan AAP 2013:” Kedatangan Kristus menguatkan semangat bekerja”, sebagai umat Allah yang hidup dengan penuh karuniaNya dan diharapkan banyak berperan bagi sesama, maka sudah selayaknya kita berbuat seperti ibu penjual nasi bungkus tadi.
Bukankah sudah menjadi tugas kita, menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama? Menghadirkan Kerajaan Allah bagi sesame dengan perilaku kita?

Perlu perjuangan berat untuk bisa sampai pada tahap seperti Ibu penjual nasi tadi. Karena ketulusan melayani sudah menjadi semangatnya dalam berkarya. Dalam 2 Korintus 10:4 Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita sebagai umatNya sudah diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng. Maka sejatinya sebagai umat Allah yang berkarya, berkaryalah agar karya kita bisa membawa kebaikan bagi sesame. Itu perjuangan yang harus kita tempuh. 
Bila perjuangan itu tidak menghasilkan maka janganlah berhenti. 
Karena berhenti adalah kekalahan sejati yang tidak terlihat.
Bila perjuangan itu harus kalah maka janganlah bersedih.
Karena sikap menerima dengan hati terbuka adalah kemenangan sejati yang tak terukur.
Bila perjuangan itu belum menunjukan keberhasilan maka jangan berhenti berharap.
Karena harapan adalah bahan bakar untuk tetap berada pada koridor perjuangan.
Bila perjuangan itu terhenti maka wariskanlah semangat berjuang pada penerus kita.
Karena generasi penerus adalah laskar pembawa tongkat estafet selanjutnya.

Semoga perjuangan ini tidak berakhir sampai disini. Ad Maiorem Dei Gloriam.

By, Antonius P. Sukaton


sumber: http://thomas.keuskupanbogor.or.id/wpthomas/wpthomascetak/?id=70