Artikel

02-Apr-2017

Fr. Yoseph Didik Mardiyanto

Menangis karena Cinta

sumber: https://pendoasion.files.wordpress.com/2012/11/lazarus-dibangkitkan.jpg

Kelahiran manusia ditandai oleh dua hal sekaligus, yaitu senyuman juga tangisan. Senyum bahagia sang ibu yang telah menanti sedemikian lama, juga senyum bahagia keluarga yang mendapatkan ‘anggota baru’ dalam kumpulannya. Namun, orang yang membuat mereka ini tersenyum justru sedang menjerit dan menangis. Konon, suara tangis menjadi tanda utama sebuah kelahiran, maka orang akan bingung setengah mati kalau bayi yang dilahirkan belum sampai menangis. Senyum dan tangis, menyatu dan berpadu, dan menjadi pemandangan yang lumrah dalam sebuah kisah penantian akan kelahiran. Senyum dan tangis ini perlahan mulai menemukan tempatnya tersendiri, seiring dengan perkembangan manusia dari bayi menuju masa kanak-kanak. Kalau masa kanak-kanak, tak jarang orang tua justru akan gelisah ketika anaknya menangis tanpa henti, bahkan orang tua akan terang-terangan melarang anak-anak untuk menangis. Dalam hal ini, tangis bukan lagi sebagai sumber kebahagiaan. Namun, tangisan dianggap sebagai tolok ukur kedewasaan seseorang. Seseorang yang sering menangis dianggap cengeng dan kekanak-kanakan. Di dalam banyak kebudayaan, menangis sering dianggap sebagai tanda kelemahan, maka tidak mengherankan kalau orang diajari untuk menahan diri dan kuat untuk tidak menangis.

Namun, dalam bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini, sesuatu yang teramat ‘aneh’ terjadi, karena Yesus, yang adalah Tuhan, pun terharu dan menangis. Belum lagi, Yesus adalah seorang laki-laki, dan seorang laki-laki yang menangis, adalah sesuatu yang ‘aneh’ dan berlawanan dengan kepribadian seorang laki-laki. Namun, Yesus menangis bukan tanpa alasan. Pertama, karena kasihNya yang mendalam kepada saudaraNya, Lazarus yang telah mati, dan tangisan adalah bukti bahwa Ia amat mencintai saudaraNya ini.

Kedua, lepas dari urusan manusiawi, Yesus ‘menangis’ karena sedikit ‘terpaksa’ membangkitkan Lazarus untuk membuktikan adanya kebangkitan badan. Perlu diketahui bahwa orang-orang Yahudi waktu itu tidak mempercayai adanya kebangkitan badan dalam kehidupan kekal. Yesus menangisi orang-orang Yahudi, tokoh agama dan ahli kitab yang tegar hati dan tidak mudah percaya pada Nya dan ajaranNya. Tangisan Yesus terjadi karena mesti ‘menunda’ kematian saudaraNya demi pertumbuhan iman orang-orang Yahudi. Inilah wujud cinta yang tulusNya kepada umat manusia, bahkan kepada orang-orang yang tak menerima kehadiranNya, karena Yesus ingin semua manusia percaya kepadaNya dan memperoleh keselamatan.

Perihal tangis-menangis, tindakan ini bukan sekedar ungkapan perasaan, namun mesti diikuti dengan tindakan rasional, yang penuh harapan. Menangis tanpa membawa kesadaran dan pengertian, tak akan menyelesaikan sebuah permasalahan. Kalau kita selalu bilang bahwa kita menangis karena cinta, namun kehidupan berhenti, maka tangisan kita bukan karena cinta, namun sekedar ungkapan perasaan yang berlebihan. Menangis karena cinta menjadi berarti ketika membawa diri sendiri pada perubahan hidup yang lebih baik, serta membawa orang-orang di sekitar kita pada kebaikan yang sama. Menangis karena cinta pun memiliki unsur introspeksi menuju hakekat hidup sejati. Maka, di dalam tangisan seperti ini, selalu terungkap cinta kepada Allah, alam semesta, sesama dan diri sendiri. Dan kita berharap bahwa, pada penghujung langkah kita di dunia, Allah akan mengusap air mata duka cita menjadi dengan sukacita kehidupan abadi. Selamat menemukan sukacita dalam tangisan karena cinta. Tuhan memberkati.