Artikel

25-Dec-2013

RD. R. Eeng G.

Sang Raja Damai Datang Untuk Mengasihi Kita

Ketika kita berada dalam keadaan sedih, kita jelas membutuhkan kehadiran orang yang dapat meghibur hati kita. Ketika sedang berduka cita karena seorang anggota keluarga meninggal, maka kehadiran sanak saudara, tetangga, dan sobat kenalan, selalu berarti besar sekali karena membuat kita tabah, tidak putus asa dan dengan lapang dada menyerahkannya kepada Allah Pencipta.Ketika seorang suami merasa gagal atau tersandung masalah ditempatnya bekerja, maka dukungan istri dan anak-anak pasti membuatnya tabah dan bangkit semangatnya. Begitu pula ketika seorang anak muda patah hati, ia membutuhkan orang tua atau teman yang rela mengerti dan memberinya dukungan semangat. Ketika keluarga kita mengalami goncangan atau kesulitan, kita selalu bersyukur apabila ada keluarga sahabat yang datang memberikan peneguhan atau kekuatan. Ketika iman kita goncang, kita mencari pastor atau suster yang dapat menemani kita dan memberikan pendampingan serta doa-doanya. Pengalaman-pengalaman seperti itu kiranya mau mengatakan bahwa kita selalu membutuhkan orang lain di samping kita, tinggal bersama kita, hadir dalam hati kita, tatkala kita berada berada dalam situasi problematik. Kehadiran orang lain menjadi sumber kekuatan, peneguhan, sukacita, dan bahkan cahaya yang menerangi hidup kita.

Pengalaman-pengalaman seperti itu juga bisa membantu kita untuk merasakan makna seruan nabi Yesaya, “Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab Tuhan telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem (Yes. 52:9). Yesaya membayangkan situasi hidup manusia yang berdosa seperti reruntuhan Kota Yerusalem.

Dosa memang menyebabkan makna hidup kita runtuh. Ketika berdosa, orientasi atau arah hidup kita sejati pun hilang. Dosa membuat hidup tak teratur, tanpa nilai atau makna. Dalam kondisi seperti itu seruan nabi Yesaya menggelegar, “Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama... Sebab Tuhan telah menghibur umat-Nya!”.

Bukan orang tua, teman atau sahabat yang datang menghibur atau memberikan kegembiraan, tetapi Tuhan sendirilah yang mendatangi kita! Dan itulah yang kita rayakan dengan penuh syukur pada Hari Natal ini.

Selanjutnya, seperti kita dengar lewat penulis Surat Ibrani pun mau meyakinkan kita tentang hal sama. Katanya,” Setelah pada zaman dahulu Allah berulangkali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr. 1:1-2).

Perkataan ini menjelaskan kepada kita tentang cara Allah berkomunikasi kepada kita manusia. Berabad-abad lamanya Ia menyapa manusia dengan perantaraan para nabi. Tetapi kini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan anak-Nya sendiri, Yesus Kristus. Dengan itu kita hendak diyakinkan bahwa puncak komunikasi Allah dengan manusia berdosa tidak melalui sabda dari jauh atau ketinggian. Pada hari Raya Natal kita merayakan iman kita bahwa Allah berbicara kepada kita melalui anak-Nya yang datang dan diam diantara kita, bahwa Allah menebus kita dari dekat, melalui hubungan personal atau relasi cinta kasih kita masing-masing.

Keyakinan yang sama itu pulalah yang menjadi inti pesan bacaan Injil pada hari ini. “ Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). ”Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh.1:14).Bahwa Anak Allah, Yesus Kristus, adalah Allah yang menciptakan, dan kini Ia datang, dan tinggal diantara manusia dan menjadi saudara kita. Ia adalah cahaya yang memberi terang bagi hidup kita. KehadiranNya yang penuh kasih karunia dan kebenaran memungkinkan kita manusia yang lemah dan berdosa untuk “menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh.1:16). Inilah makna Natal bagi kita, yaitu kanak-kanak Yesus, Allah mendatangi kita manusia, menunjuk jalan kepada kehidupan baru dalam Tuhan, dan atas cara itu Ia menyelamatkan kita dari dosa.

Namun hendaklah kita tidak melupakan cara Allah mendatangi kita manusia. Perayaan Natal yang kita rayakan ini mengingatkan kita bahwa Allah datang dan masuk dalam kehidupan kita melalui suatu keluarga di Nazareth, Maria dan Yusuf. Artinya secara primer tempat kehadiran Yesus di antara manusia ialah keluarga. Kita mengingat bagaimana Allah mempersiapkan Maria dan Yusuf bagi kelahiran Yesus. Maria dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus. Ketika Maria agak ragu-ragu untuk menerima anugerah pilihan itu, ia diyakinkan oleh malaikat Tuhan bahwa “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”. (Luk. 1:35). Karena perkataan itulah Maria percaya dan menyerahkan segenap hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan. Maria berkata,”Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Demikian pula Yusuf pun mengalami kebimbangan dalam hatinya untuk menerima Maria yang mengandung Yesus. Tetapi sekali lagi Tuhan menguatkan hatinya,”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang didalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20). Dengan begitu Tuhan turut bekerja mempersiapkan Maria dan Yusuf sebagai satu keluarga untuk kelahiran Yesus, Juruselamat umat manusia.

Hari Raya Natal merupakan saat yang tepat bagi setiap keluarga untuk berkumpul, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas segala yang telah dikerjakan Tuhan. Bagi keluarga-keluarga yang retak hubungannya, inilah saat untuk menyatukan hati kembali, saling memaafkan dan mengampuni, dan membaharui semangat kekeluargaan. Inilah juga saatnya untuk anggota-anggota keluarga untuk saling membagi sukacita dan kegembiraan, karena pada hari Natal ini Sang Raja Damai datang dan tinggal diantara kita. Semoga pada hari yang mulia ini kita terbilang sebagai “Anak-anak Allah” karena kita telah menerima Yesus dan percaya bahwa Dialah Anak Allah yang tinggal diantara kita, dalam hati kita yang terdalam dan dalam keluarga kita masing-masing. Penginjil Yohanes sekali lagi berkata kepada kita “Semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”. Selamat Hari Raya Natal, Tuhan memberkati kita !

 

RD. Robertus Eeng Gunawan

(Pastor Paroki)