Artikel

09-Apr-2017

Sr. Maria Wilfrida PRR

Ketaatan Orang Beriman

sumber: http://sp.beritasatu.com/media/images/original/20140413120352073.jpg

Suatu peristiwa yang luar biasa terjadi di nas ini yaitu sambutan dan sorak-sorai orang banyak ketika Yesus memasuki Yerusalem. Apa yang mendorong mereka menyambut Yesus? Kalau biasanya rakyat menyambut seorang panglima perang yang pulang setelah mengalahkan beribu musuh yang tidak mereka lihat sendiri, dalam bacaan ini mereka menyanjung riang Yesus sebagai seorang yang kebaikan-Nya telah mereka alami.

Bagi mereka kedatangan Yesus yang mengendarai keledai muda mengisyaratkan kerendahatian dan kelemahlembutan. Hal ini berbeda dari kedatangan pahlawan perang dalam `kendaraan agung’ berupa kuda dengan persenjataan lengkap yang mengisyaratkan keperkasaan. Penerimaan orang banyak terhadap Yesus saat itu bukan suatu upacara formalitas, melainkan peristiwa spontan yang timbul dari hati. Pujian yang mengelu-elukan Yesus langsung merujuk kepada kemuliaan nama-Nya sebagai Mesias.

Bacaan pertama merupakan nubuatan akan Yesus, Hamba yang taat.
Pada bagian ini, kita disuguhi teguran Allah kepada Israel yang tidak mau kembali dan taat kepada-Nya dan perjuangan serta ketaatan si hamba Allah dalam menjalankan panggilan Tuhan. Allah menegur Israel yang mengeluh dan mempersalahkan Allah atas penderitaan mereka di pembuangan. Hukuman Allah atas mereka terjadi karena mereka tidak mau taat kepada-Nya sebagai hamba Allah yang diutus untuk melaksanakan kehendak-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang gagal.

Tuhan Yesus adalah Hamba Allah yang berhasil. Walau ditolak bahkan dibunuh, Ia tetap setia menjalakan misi-Nya menyelamatkan manusia. Pelayanan-Nya berdampak kepada transformasi hidup orang yang dilayani-Nya. Anda dan saya adalah buah-buah pelayanan-Nya. Kita sekarang adalah hamba-hamba Allah yang dipanggil untuk menyaksikan karya Kristus itu kepada semua orang. Mari kita meneladani Tuhan Yesus dengan taat kepada Allah dan tidak gentar menghadapi penolakan serta tekanan dunia ini. Allah akan memelihara dan membela kita.Keberhasilan bukan ada pada kemampuan melayani melainkan pada ketaatan melakukan kehendak-Nya

Bacaan kedua Paulus mengajar kepada kita bahwa Kristus adalah teladan bagi kita semua. Setelah berbicara tentang kesatuan tubuh Kristus. Teladan Kristus itu adalah pengosongan diri-Nya. Ia mengosongkan diri. Mengapa disebut mengosongkan diri? Karena dalam sepanjang hidup dan masa pelayanan-Nya selama tiga setengah tahun di bumi, Dia yang sekalipun adalah Allah yang sejati, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Kristus menjadi sama dengan manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba.

Inilah cara Allah membawa manusia masuk dalam kepenuhan-Nya melalui penyangkalan dan pengorbanan-Nya agar orang mendapatkan berkat dan anugerah Tuhan. Semangat dan prinsip sama berlaku pula bagi warga gereja. Kristus telah membayar harga yang termahal yang dapat dilakukan dengan menyerahkan nyawa-Nya sendiri di atas kayu salib menjadi tebusan bagi banyak jiwa.

Siapa pun yang mengikuti kisah hidup dan pelayanan Yesus akan terusik dan bertanya mengapa sampai Ia sedemikian dibenci dan akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh bangsa-Nya sendiri. Ketika Yesus diadili oleh para pemuka agama yang terhormat itu, mereka tidak dapat menemukan satu pun kesalahan. Sekalipun kesaksian-kesaksian palsu diajukan tetap saja kebenaran Yesus yang justru semakin menonjol. Satu-satunya tuduhan yang dapat mereka lontarkan akhir-nya adalah ucapan Yesus tentang diri dan karya-Nya yang diputarbalikkan kebenarannya. Jadi, Yesus dihakimi bukan karena Ia bersalah, tetapi karena memang mereka tidak menginginkan-Nya. Penyebabnya antara lain karena ketidakcocokan konsep mesianis, kehadiran Yesus yang menyebabkan po-pularitas mereka menurun, dan pengaruh Yesus yang dapat mengganggu keamanan.

Sekilas kita melihat seolah-olah Yesus sedang dipermainkan. Para pemuka yang berkuasa itu seenaknya menginjak-injak kebenaran dan menghina Sang Mesias. Akan tetapi, yang sebenarnya terjadi tidak demikian. Mereka frustasi menghadapi Yesus karena cara apa pun yang mereka pakai hanya semakin membuat nyata siapa yang sesungguhnya benar, dan siapa yang sesungguhnya salah. Hal itu membuat mereka mengunakan cara-cara penyiksaan yang kejam dan merendahkan martabat, bahkan bersifat menghujat.

Orang Kristen masa kini menganggap Yesus menderita untuk menebus dosa umat-Nya. Pandangan ini benar tapi tidak lengkap. Yesus menderita dalam rangka menelanjangi dan mengalahkan kejahatan. Ketika kebenaran diadili, kebenaran seolah-olah dilecehkan. Sebenarnya pada saat itu kebenaranlah yang sedang mengadili kejahatan. Orang Kristen pun mendapat karunia untuk menderita karena kebenaran. Percayalah, saat itu kejahatan sedang dibongkar.

Kerajaan Allah nyata dalam hidup sebagai orang beriman ketika kita taat kepada Allah dan mengakuiNya sebagai Raja. Ketaatan kita kepada Allah terwujud melalui kerelaan hati untuk melakukan perintahNya. Ini bukan berarti terpaksa tetapi ada kemauan dari dalam diri untuk melaksanakannya. Ketika datang ke dunia, Yesus datang dalam kesederhanaan, penuh ketaatan kepada Bapanya, semua karena cinta kasihNya yang besar kepada manusia. Cinta itu membuatnya membiarkan diri, tanpa kuasa, mau melayani manusia sampai mengorbankan hidupNya untuk manusia.

Ketaatan inilah yang diharapkan untuk kita miliki sebagai orang beriman. Ini tidak berarti kita membiarkan diri mati sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Yang diharapkan adalah kita sadar akan panggilan kita sebagai orang beriman, dan berusaha hidup sebagai orang beriman yang baik yang bisa bersaksi tentang Allah yang kita imani yang rela menderita untuk kita. Mari kita beriman dan menghayati iman kita dalam hidup sehari – hari.