Artikel

23-Apr-2017

Petrus JS

Ya Tuhanku dan Allahku

sumber: https://sangsabda.files.wordpress.com/2016/04/800px-hendrick_ter_brugghen_-_the_incredulity_of_saint_thomas_-_wga22166.jpg?w=570&h=447

Pada hari Minggu Paskah Kedua tanggal 30 April 2000, mendiang Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasikan (= menyatakan santa) Suster Faustina Kowalska. Melalui catatan-catatan dalam buku harian Suster Faustina (1905-1938) sangat mengagungkan devosi kepada Kerahiman Ilahi. Paus Yohanes Paulus II seorang pendukung dan penganjur kerja keras devosi itu, menetapkan hari Minggu Paskah Kedua sebagai pesta liturgi yang wajib dirayakan Gereja di seluruh dunia. Pesta Kerahiman Ilahi merupakan penegasan dan pengakuan resmi Gereja terhadap devosi.

Hari Minggu Paskah Kedua tepat sekali dirayakan Gereja sedunia sebagai Pesta Kerahiman Ilahi. Pengalaman Thomas yang meragukan kebangkitan Yesus se-sungguhnya merupakan pengalaman kita juga. Pengalaman ketakberdayaan dan keterbatasan manusia di satu pihak dan Kerahiman Ilahi di pihak lain. Thomas mewakili siapa saja yang ingin melihat lebih dahulu sebelum mau percaya.

Melihat kemudian percaya. Itulah pikiran Thomas dan pikiran banyak orang. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25).

Bukankah kita pun sering berpikir seperti Thomas? Sesudah Yesus wafat, para murid tidak berani keluar rumah. Mereka ketakutan dan mengurung diri dalam rumah dengan “pintu-pintu yang terkunci” (Yoh 20:19). Delapan hari sesudah peristiwa kebangkitan, mereka masih juga ketakutan dan tetap mengurung diri.

Thomas, salah seorang murid, tetap tidak percaya kendati teman-temannya kompak bersaksi bahwa mereka melihat Tuhan hidup. Luka batin akibat ketakutan dahsyat menyusul kematian Yesus itu menjadikan dirinya peragu. Kerahiman Ilahi nyata ketika Yesus sendiri mendatangi murid-murid yang lumpuh tak bedaya karena ketakutan. Yesus membebaskan mereka dari ketakutan yang membelenggu.

Dalam keadaan pintu-pintu terkunci, tiba-tiba Yesus berdiri di tengah-tengah mereka. Ia memperlihatkan tangan dan lambung-Nya. Itulah tanda pengenal diri-Nya. Sebelum wafat tangan-Nya dipakukan pada kayu palang dan lambung-Nya di-tembusi tombak (Yoh 19:34). Melalui penampakan itu para murid diundang untuk memastikan bahwa betul itu Yesus, Yesus yang hidup. Mereka diajak untuk memperhatikan luka-luka itu dengan saksama. Bukankah luka-luka itulah bukti bahwa Yesus diperlakukan dengan kejam? Mereka diajak untuk tidak melupakan pengalaman masa lalu yang menakutkan itu. Mereka justru harus melihat masa lalu itu dengan cara pandang baru. Kebangkitan Yesus tidak menghapus pengalaman yang telah lewat, khususnya sengsara dan wafat di kayu salib. Kebangkitan itu justru mengubahnya menjadi bermakna dan mempunyai arti baru.

Kepercayaan akan Kebangkitan Yesus Kristus itulah mendasari kita menjadi orang kristiani sejati. Dan selanjutnya terus-menerus turut dalam karya pewartaan dan kesaksian akan keselamatan abadi. Kesadaran itulah yang menjadikan kita sanggup mengatakan ya, karena kita mengimani kebangkitan Yesus. Oleh karena kebangkitan Yesus Kristus, Allah telah melahirkan kita kembali dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.

Kenyataannya, idak jarang kita takut dan cemas dalam menghadapi berbagai per-soalan. Entah itu bencana alam, sakit, kehilangan pekerjaan, ditolak oleh orang atau kelompok lain, dan akhirnya karena kematian. Seribu satu masalah menghantui hidup kita setiap hari. Singkatnya persoalan-persoalan yang merepotkan kita. Karenanya, kita cenderung menjadi tak berdaya, ketakutan dan malahan terpuruk. Tetapi dengan kaca mata kebangkitan Yesus kita dapat melihat semuanya itu dengan cara pandang baru: dari kematian lahirlah hidup yang lebih indah dan langgeng abadi.

Allah tak pernah alpa sesaat pun dalam memberikan kuat kuasa Rohnya bagi siapa saja. Dengan cara pandang Allah, kita melihat hidup kita bagaikan sebuah permadani yang indah. Dilihat dari belakang permadani itu justru kusut dan semrawut, kacau balau! Dipandang dari sisi Allah, semuanya indah, terang dan menyejukkan. Syaratnya apa? Pandanglah Yesus yang bangkit itu.

Marilah kita pandang luka-luka-Nya yang terbuka menganga. Dari sana mengalir air kerahiman ilahi, kasih Allah tanpa batas. Serahkan diri kepada-Nya tanpa syarat. Sujud kepada-Nya dengan penuh keyakinan, berpasrah tanpa syarat. Akui: Yesus sebagai penguasa atas segala kejahatan, dosa dan kematian, pemberi, pemelihara dan penguasa hidup kita. Beryukurlah kepada Tuhan, karena baiklah Dia! Senantiasa untuk berseru dengan penuh keyakinan tanpa ragu lagi seperti Thomas: Ya Tuhanku dan Allahku. (#petrusjs)