Artikel

03-May-2017

Tatik

Tim Komsos Paroki St. Thomas mengikuti Wokshop Pembuatan Film Pendek Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor

sumber: https://www.flickr.com/photos/142728433@N02/34420189665/in/album-72157681242087671/

Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Bogor mengadakan Workshop Pembuatan Film Pendek pada 29 April s.d 1 Mei 2017, dan Bertempat di Wisma Bojong Gede, bakal Gereja Sta. Faustina Kowalska, Desa Tonjong, Tajurhalang Bojong Gede, Bogor.

Tim Komsos Paroki St. Thomas diwakili oleh tiga orang, ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Selama 3 hari 2 malam sebanyak 37 Komsoser (kami menyebut para komsos dengan sebutan Komsoser) dari 16 Paroki dan 1 Kuasi Paroki di Keuskupan Bogor (6 Paroki berhalangan hadir), belajar bersama Reno Permana. Para Komsoser ini dibagi menjadi 3 kelompok setelah sebelumnya disuguhkan 2 buah film, serta sedikit teori bagaimana sebuah proses produksi film, dan sinematografi dasar.

Setelah itu, setiap kelompok diharapkan membuat sebuah film pendek dengan tema bebas, yang akan ditayangkan dengan durasi 5 – 10 menit. Meskipun tema yang diambil bebas, tetapi harus ada pesan yang disampaikan kepada penontonnya.

“Belajar membuat film itu tidak bisa hanya dengan duduk sambil mendengarkan teori saja. Tetapi harus langsung dipraktikkan. Sambil praktik, sambil belajar bagaimana mengambil sebuah gambar, yang bisa saja harus diambil berulang-ulang. Setelah itu digabung dalam sebuah proses editing,” papar mas Reno.

Ternyata tidak mudah menuangkan banyak ide dari teman-teman yang luar biasa ke dalam sebuah skenario. Penulis skenario pun bisa mengalami kebuntuan ketika cerita ternyata melebar ke mana-mana. Dari skenario inilah kami menuangkannya ke dalam visualisasi gambar bercerita.

Saat syuting pun diwarnai dengan berbagai gaya dari teman-teman cameramen. Ada teman yang harus naik ke meja pantry demi mendapatkan angle yang tepat, ada pula yang harus berulang kali mandi atau mencuci motor, ada yang berulang kali menyapu sampah-sampah daun, bahkan ada seorang teman yang rela terpeleset kulit pisang, demi mendapatkan gambar yang bagus. Dan saat syuting pula, kami diarahkan oleh Reno bagaimana mengambil detil sebuah gambar agar maksud dari film tersebut bisa tersampaikan kepada penonton.

Di tengah-tengah pembelajaran kami, Perayaan Ekaristi pun tetap menjadi kerinduan kami untuk berkumpul. RD Yustinus Joned Saputra dalam kotbahnya menyampaikan bahwa komsoser harus menjadi corong pewartaan dari masing-masing Paroki. Kami diminta untuk terus menjadi penyampai kabar baik bagi umat di Paroki kami masing-masing bahkan di Keuskupan Bogor.

Kami pun dibimbing oleh Heri Hidayat bagaimana melakukan editing sebuah film. “Akan lebih mudah bagi editor film bila gambar yang diambil ada detil-detilnya,” jelasnya. Para editor film dari 3 kelompok didamping oleh Reno dan Heri dalam proses editingnya. Dengan demikian tidak hanya mendapatkan teori saja, tapi kami langsung mempraktikkannya.

RD Mikael Endro Susanto, sebagai tuan rumah, menyampaikan terima kasih kepada kami karena salah satu kelompok telah membuat film dokumenter tentang Wisma Bojong Gede. Film dokumenter tersebut bisa menjadi salah satu alat untuk mencari dana bagi pembangunan Gereja St. Faustina Kowalska. Dan RD Endro juga berharap kami pun memberitahukan secara mulut ke mulut tentang tempat itu.

Pada akhirnya tiga film pendek pun tersaji dari hasil belajar kami. Diharapkan setelah ini para komsoser bisa bergabung untuk membuat film-film pendek demi penunjang bahan AAP/APP dan berita-berita, untuk Keuskupan Bogor.

Sampai jumpa di lain kesempatan, Komsoser. (Tatik)