Artikel

14-May-2017

RD. Yustinus Joned Saputra

Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

sumber: https://www.google.co.id/search?hl=en&authuser=0&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1252&bih=562&q=akulah+jalan+kebenaran+dan+hidup&oq=akulah+jalan+kebenaran+dan+hidup&gs_l=img.3...930.5730.0.6035.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0....0...1.1.64.img..0.0.0.DEtO2P6DERc#imgrc=RhVxqNKXqKhMgM:

“Jangan gelisah hatimu” (Yoh 14:1). Sabda Yesus ini mesti kita baca dan kita mengerti dalam situasi ketika sabda ini diucapkan Yesus, yaitu dalam saat-saat terakhir menjelang perpisahanNya dengan para murid. Mereka cemas, gelisah dan tidak menduga akan berpisah dengan Yesus, Sang Guru mereka. Yesus berkata: “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Di sini Yesus mewahyukan kepada para murid-Nya bahwa orang yang percaya kepada Allah, juga harus percaya kepada-Nya.

Dalam kesempatan itu Yesus mewahyukan rahasia pribadi-Nya yang terdalam kepada para murid; dan kepada kita. Hal itu bisa kita baca dalam dialog Yesus dengan para Rasul. Yesus memberitahukan bahwa Yesus akan “menyediakan tempat” bagi kita semua (Yoh 14:2). Kata “tempat” dimaksudkan “kebagiaan surgawi yang tersedia bagi semua orang yang percaya kepada-Nya”. Di “tempat” itulah orang-orang akan mengalami persatuan yang erat dan mesra dengan Yesus. “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Ayat ini sering dihubungkan dengan kedatangan Yesus pada saat parousia, yaitu saat akhir jaman.

Menjawab pertanyaan Thomas yang meminta supaya diberi tahu jalan menuju tempat ke mana Yesus akan pergi, Yesus mengatakan kalimat yang sering kita dengar: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Bapa, Yesus satu-satunya kebenaran yang mesti dipahami dan diterima manusia; dan Yesus adalah hidup sejati, yang harus dicari setiap orang. Persekutuan hidup dengan Tuhan itulah yg memberikan kebahagiaan dan keselamatan.

Dengan kata lain, kebahagiaan dan keselamatan yang sejati itu mesti dicari dalam Yesus; tidak bisa lepas dari Yesus dan karya pelayanan-Nya. Sekarang sudahkah kita percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup?:

Yesus menjawab pertanyaan Filipus yang meminta supaya ditunjukkan Bapa, kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami ” (Yoh 14:9).

Kita melihat bahwa hidup beriman atau mengimani Yesus bagi para murid pun merupakan suatu hal yang tidak mudah. Para murid memerlukan waktu untuk berkembang dan memahami apa yang harus diimani.

Melihat Yesus secara fisik, secara jasmaniah ternyata tidak menjamin adanya iman kepada Yesus. Kita lihat dari kenyataan bahwa tidak semua orang yang hidup dan bertemu dengan Yesus di Nazaret dan di tempat lain beriman kepada Yesus. Bahkan para murid yang hidup dan bersama Yesus hampir selama tiga tahun, iman mereka ternyata tidak datang secara otomatis. Iman itu membutuhkan keterbukaan hati dan budi, pikiran dan perasaan serta sikap dari para murid.

Memang tepat sabda yang pernah diucapkan Yesus kepada Thomas: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya, Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Saudara, kalau kita mau dan percaya kepada-Nya, maka kita akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Yesus, bahkan yang lebih besar daripada itu (bdk. Yoh 14:12). Apakah kita sadar akan kebenaran dan keagungan kasih karunia yang diberikan Tuhan kepada kita masing-masing, yaitu IMAN?