Artikel

28-May-2017

ktatik

Mengkomunikasikan Harapan dan Iman

sumber: http://www.mirifica.net/wp-content/uploads/2017/03/kwi11111.jpg

Ketika Nanda mengetahui bahwa ia menderita kanker, ia memiliki harapan yang besar bahwa ia akan sembuh dengan pengobatan yang akan dijalaninya dan dengan kegembiraan hatinya. Ia percaya, bahwa Tuhan akan selalu bersamanya, bahwa Tuhan akan mengangkat segala penyakitnya. Ia berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa-doanya dengan penuh harapan dan imannya.

Doa menjadi sarana komunikasi paling pri-badi orang beriman kepada Allah yang mewahyu-kan diri. Seperti halnya Yesus berkomunikasi dengan Allah melalui doa-doaNya. Yesus berdoa bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga mendoakan orang lain. (Yoh 17:1-11)

Kata-kata peneguhan dari Allah, “Jangan takut sebab Aku beserta-mu” (Yes 43:5) adalah sebuah kebenaran iman bahwa Allah tidak pernah meninggalkan manusia. Ia selalu ada bersama manusia. Memberikan kekuatan kepada manusia.

Iman didefinisikan sebagai suatu persetujuan akal budi yang kokoh kepada kebenaran, yang bukan berdasarkan perasaan, namun berdasarkan kesaksian saksi. Bila seseorang masih ragu-ragu akan kebenaran tersebut, maka bisa dikatakan bahwa ia belum sungguh-sungguh beriman.

Sedangkan, harapan adalah keinginan akan sesuatu. Dalam konteks spiritual, kata harapan mengarah pada kerinduan untuk mencapai Surga, hidup kekal bersama dengan Allah.

Harapan dibangun berdasarkan iman. Tanpa iman, manusia tidak akan mempunyai harapan yang kokoh. Sebaliknya dengan memiliki harapan yang didasarkan atas iman, maka manusia mampu menghadapi segala tantangan apapun guna mencapai hidup kekal di Surga.

Harapan dan iman inilah yang dipunyai Nanda untuk menyembuhkan dirinya dari penyakit yang dideritanya saat ini. Dengan segala harapan dan iman yang dimilikinya, ia merangkumkannya dalam doa dan melalui tulisan-tulisan di media bahkan media sosial untuk memberinya semangat dan juga memberikan harapan bagi orang lain yang sedang menderita sama dengan dirinya. Sementara, ia juga menjauhkan dirinya dari segala berita yang membuatnya menjadi sedih, membuatnya jadi membenci orang lain, dan pengaruh buruk lainnya.

Keyakinan seperti demikian kadang memudar dalam diri orang beriman saat ini. Kita yang diterpa dengan berbagai persoalan, belum lagi ditambah dengan media yang mengkerdilkan semangat mengobarkan iman dan harapan, akhirnya membuat iman dan harapan kita pun memudar.

Sebagaimana pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sedunia minggu ini, “Jangan Takut Aku Besertamu. Komunikasikan Harapan dan Iman”, kita diminta untuk bersama bangkit menghayati, menghidupkan, dan mengkomunikasikan harapan dan iman. Kita diminta untuk memberitakan hal-hal yang membahagiakan, memberikan harapan, dan menyejukkan.

Kita diminta untuk menghargai dan mensyukuri hadirnya sarana-sarana komunikasi yang semakin canggih dan berdaya guna tinggi. Allah sebagai Sang Komunikator Sejati dan Ulung “membutuhkan” sarana-sarana komunikasi modern untuk hadir sebagai keselamatan, dan Pembebas bagi manusia. Perjumpaan merupakan bentuk “dialog kehidupan” setiap pribadi maupun komunitas, perlu dialaskan pada komunikasi yang intensif dengan Tuhan sebagai sumber rahmat.

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini siapa pun bisa menjadi “corong” untuk orang lain. Tidak perlu menjadi seorang jurnalis handal untuk bisa menulis, bahkan di media sosial miliknya pun ia bisa menjadi penulis handal.

Sayangnya, dominasi media saat ini, bukan hanya media sosial tapi bahkan media yang dianggap ternama pun, tidak semua memberitakan yang bermanfaat bagi konsumen. Dominasi media menghadirkan berita buruk bahkan melecehkan/merendahkan harkat dan martabat manusia, bahkan menyakitkan. Pada akhirnya ini membuat mereka memiliki rasa takut, cemas, gelisah, bingung bahkan bertanya-tanya.

Meski sebagian orang melihat dari sisi sebaliknya, sebagai pembelajar-an untuk tidak berperilaku yang sama. Namun, ada juga yang melihatnya justru sebagai tambahan informasi. Pada akhirnya semua berita tersebut jauh dari memberikan harapan dan iman bagi pembacanya.

Lalu, kenapa kita tidak memberitakan harapan dan iman di dalam media sosial tersebut? Mengapa tidak kita sampaikan saja berita baik? Berita baik yang disampaikan kepada pembaca, sebaiknya menjadi bahan refleksi bagi kita tentang hakikat diri Allah yang Maha Cinta. Allah yang selalu bersama dengan kita dan menuntun setiap orang yang berkehendak baik dalam mewujudkan imannya dalam kata dan kesaksian hidup.

Sebagai orang beriman, kita diingatkan agar tidak mudah terkecoh dengan judul yang bombastis dari sebuah berita. Karena kita cenderung ha-nya membaca judul tanpa membaca isinya, dan langsung saja men-share, langsung membagikannya di halaman media sosial kita. Dengan mudahnya kita membagikan kepada khalayak tanpa berusaha untuk memahami, menghayati, dan mengecek kebenaran berita tersebut.

Hendaknya kita gunakan media yang kita miliki, termasuk media sosial, untuk mengabarkan berita baik, hal-hal yang positif, secara bijaksana. Tidak mudah membagikan atau men-share berita yang belum tentu terbukti kelaikannya. Kita tidak perlu takut untuk membagikan kebaikan dan kebenaran, sehingga siapa pun yang membacanya semakin diteguhkan imannya. (ktatik)