Artikel

04-Jun-2017

Fr. Didik Mardiyanto

Mempersiapkan Hati untuk Menerima Curahan Roh Kudus

sumber: http://3.bp.blogspot.com/-ZrekGKbR59A/VWFgkW23hiI/AAAAAAAAD0c/7WtMFYe5KiM/s1600/pentakosta.jpg

Selama sembilan hari Novena Roh Kudus, beberapa gereja mengadakan misa harian pada sore hari. Dan, bisa dibilang, kehadiran umat dalam misa sekaligus Novena Roh Kudus, menjadi lebih banyak dari biasanya. Dari situ, sebenarnya gambaran Roh Kudus sebagai sumber semangat, sudah tampak tanpa harus menunggu Hari Raya Pentakosta.

Roh Kudus sering digambarkan sebagai (lidah-lidah) api. Api sendiri dalam kehidupan manusia, adalah sesuatu yang sedemikian dekat dengan kehidupan. Beberapa peristiwa kehidupan, digambarkan dengan api. Anda yang pernah merasakan jatuh cinta, tentu mengenal penggambaran ‘api asmara’, yang panas dan menggelora. Kalau Anda ibu rumah tangga, api adalah faktor penting untuk menyelesaikan tugas masak-memasak, karena tanpa api yang berkobar, pembuatan makanan tidak akan terselesaikan.

Dan, bagi orang-orang yang bekerja di bidang kerajinan logam, api adalah hal yang utama untuk memurnikan logam tersebut dari campuran-campuran yang tidak berguna. Dari beberapa kegunaan tersebut, kita tak perlu banyak menerka-nerka lagi, mengapa Roh Kudus diidentikan dengan nyala atau kobar api. Roh Kudus mampu mengobarkan, menyelesaikan pekerjaan dan memurnikan.

Kalau umat yang setiap hari ke Gereja dan mendoakan novena Roh Kudus, pertama-tama hendak mempersiapkan hati untuk turunnya Roh Kudus yang dicurahkan di Hari Raya Pentakosta. Peristiwa turunnya Roh Kudus, bukan sebuah peristiwa tunggal, yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang dialami oleh para murid. Peristiwa kebangkitan, menjadi saat bagi para murid untuk mempercayai bahwa Yesus benar-benar hidup.

Peristiwa kenaikan Tuhan, menjadi saat bagi para murid untuk menerima penugasan dan penerusan akan karya Tuhan dalam waktu-waktu selanjutnya. Dan hari ini, dalam peristiwa Pentakosta, para murid menerima curahan Roh Kudus, yang akan menerangi dan mengkuduskan Gereja sepanjang masa. Curahan Roh Kudus memberikan pengertian akan segala ajaran Yesus, dan mengobarkan kasih para murid untuk menjadi saksi-saksi-Nya ke seluruh dunia.

Pada akhirnya, kalau api yang membara itu mampu membuat logam yang terbakar itu menjadi semakin murni dan mengkilap, Roh Kudus pun bersifat memurnikan. Maka, harapannya adalah bahwa orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus, semakin dapat memurnikan hati, peka terhadap perbuatan-perbuatan dosa dan semakin memiliki kemampuan untuk menghindarinya.

Namun, kerapkali, betapa pun usaha kita, kita pun bisa jatuh dalam kesalahan dan dosa yang sama, tidak hanya sekali namun berkali-kali. Sembari memadahkan: _“Ya Roh Kudus, datanglah, dari surga, sinarkan pancaran cahayaMu. Kau penghibur ulungku, Kau sahabat jiwaku, penyejukku yang lembut. O cahaya yang cerah, datang dan penuhilah hati kaum beriman. Yang cemar bersihkanlah, yang kersang siramilah, yang terluka pulihkanlah. Limpahilah umatMu yang percaya padaMu: sapta karuniaMu…..Suluh hati, datanglah, Bapa kaum yang lemah, pemberi anugerah. Kau segarkan yang lelah, Kau tenangkan yang resah, Kau melipurkan yang sendu. Tanpa kekuasaanMu, hampa daya umatMu, hanya noda adanya. Yang keras, lunakkanlah. Yang beku, cairkanlah. Yang sesat, arahkanlah. Dan curahkan anugerah: “akhir hidup bahagia, sukacita tak henti”_, kita mohonkan supaya hati kita senantiasa dikobarkan oleh api kasih Tuhan, sehingga mampu menjernihkan hati dan pandangan, senantiasa mengusahakan kesatuan dan menghindari kesesatan. Roh Kudus akan datang, meski hati kita kadang belum siap sepenuhnya.

Selamat mempersiapkan diri untuk menerima curahan Roh Kudus. Tuhan memberkati. (Fr. Didik Mardiyanto)