Artikel

09-Jul-2017

RUAH

Tulus dan Rendah Hati

sumber: http://1.bp.blogspot.com/-_GQGP2m7SVg/VqndL9fh5NI/AAAAAAAAB7U/SCT1BW94gHE/s1600/yesus%2Bberdoa.jpg

Injil hari Minggu ini diawali dengan rumusan doa Yahudi yang khas. Yesus memuji dan bersyukur kepada Allah sebab misteri Allah diwahyukan kepada orang bodoh dan sederhana, tetapi tersembunyi bagi orang pandai dan para pakar agama. Alasannya, orang bodoh dan orang sederhana adalah orang-orang yang paling terbuka kepada Yesus.

Yesus telah datang dunia dalam rupa manusia biasa. Ia dibesarkan dalam keluarga Nazaret selama 30 tahun. Ia menjadi pekerja keras, rajin, penuh pengertian, penuh kasih dan suka membantu sesama. Maka, ketika tampil di depan umum, sikap-sikap dasar ini dibawa-Nya serta. Ia menjadi pelayan yang tak kenal lelah dan mengabdi dengan setia, lemah lembut dan rendah hati.

Yang paling merasakan kehadiran-Nya adalah orang-orang bodoh, orang-orang kecil dan orang-orang sederhana. Luar biasa bahwa mereka menjadi manusia yang berada di garis depan untuk menerima misteri Allah. Mereka adalah orang-orang yang boleh menerima kabar gembira, mengalami kebaikan, kasih dan kepedulian Allah, karena mereka datang kepada Yesus dengan hati dan bukan mengandalkan daya nalar semata. Memang inilah kekuatan orang kecil dalam penyebaran Kerajaan Allah. Mereka menjadi lahan Allah untuk menanamkan benih Kerajaan-Nya. Benih Kerajaan yang ditanam melalui orang-orang kecil ini bertumbuh dan berkembang menjadi pohon besar dan menghasilkan buah berlimpah.

Maka, dapat dipahami mengapa Yesus begitu bersyukur kepada Bapa-Nya sebab misteri agung Allah dinyatakan kepada orang kecil. Seandainya Yesus sebagai Putra Allah datang ke dunia, menjadi pemimpin yang pandai, raja dunia yang disembah oleh setiap insan, dan jutawan pembagi uang, tentu saja menjadi sangat lucu. Tetapi cara datang dan hadir sebagai orang kecil dan orang biasa, maka orang kecil dan sederhana dapat mendekati-Nya.

Kita sangat terhibur sebab kepada kita misteri Allah dinyatakan. Tetapi yang lebih penting kita perlu bertanya, mengapa kepada kita misteri ini dinyatakan? Apakah karena kita hebat? Apakah karena kita pandai? Apakah karena kita kaya? Kita harus berani menjawab dengan jujur dan rendah hati bahwa semua ini terjadi karena kita adalah orang kecil. Sebagai orang kecil kita merasa tidak mampu berjalan sendirian. Kita butuh penopang dan penopang itu ialah Allah yang membuat kita mendapat kekuatan ganda.

Dunia modern menuntut efisiensi, mental kerja, kelincahan berpikir dan kecepatan bertindak. Untuk itu diperlukan manusia kuat, tangan besi, hati keras, prestasi tinggi dan perencana besar. Benar! Tetapi bagaimana pun untuk membuat dunia menjadi baru, unsur hati, unsur jiwa berupa moral yang hidup, etika kerja, tanggung jawab terhadap Tuhan dan cinta kepada sesama harus tetap mendapat tempat yang layak. Jiwa dan kesederhanaan hati manusia terlalu mahal untuk dapat dibeli dengan uang dan harta. Nah, unsur-unsur ini ada pada orang kecil dan itulah kekuatannya. (RUAH 2014)