Artikel

03-Sep-2017

Fr. Ant. Hermawan Joko

BERANI MEMILIH DALAM & BERSAMA KRISTUS

sumber: https://4.bp.blogspot.com/-bzuyGsAL7Ck/WSaeRKpiHFI/AAAAAAAAO3U/WyhhSIRYisEOE2E3mkmkuLNJGAT0MN_yQCLcB/s1600/BKSN%2B2017%2B%2528Cover%2529.jpg

Ada yang bilang bahwa hidup itu adalah pilihan. Life is choice. Kenapa seperti itu? Karena hidup ini penuh dengan berbagai macam pilihan. Tentang pendidikan, profesi, bisnis, cinta, kepercayaan, dan bidang lainnya. Semuanya menuntut kita untuk memilih mana yang kita anggap sebagai yang terbaik. Sebagai contoh, keadilan pada awalnya menjadi alasan pak Ahok dan tim kuasanya memilih untuk mengajukan banding bagi keputusan pengadilan yang diterimanya. Namun, kita akhirnya terperangah dengan pilihan pak Ahok sekeluarga untuk membatalkan keputusan naik banding ke Pengadilan Tinggi. Tentu keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan banyak hal. Salah satu pertimbangannya adalah untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Suatu pilihan berat dengan mempertimbangkan kepentingan yang lebih besar. Ini adalah poin pertama renungan kita, yakni bagaimana kita harus mempertimbangkan suatu pilihan hidup.

Memilih sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan itu selalu membutuhkan pengorbanan. Hal ini terjadi karena setiap pilihan yang kita ambil selalu mengandung suatu konsekuensi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Inilah yang terkadang membuat kita takut untuk memilih, bahkan berlama-lama dan terombang-ambing dalam ketidakpastian hidup. Keadaan seperti ini tentu saja tidak nyaman dan pada titik batas tertentu, mau tidak mau kita harus menentukan pilihan. Celakanya, ketika kita tidak siap akan segala risiko dan konsekuensi yang timbul, maka kita bisa menjadi semakin terpuruk dan terpuruk. Lantas bagaimana kita harus bertindak? Setiap kali memutuskan suatu pilihan, hendaknya kita selalu sadar bahwa setiap pilihan yang kita ambil pasti membutuhkan pengorbanan.

Pengorbanan adalah suatu nilai hidup yang sangat dijunjung tinggi. Apalagi kita sebagai pengikut Kristus, tentu sudah paham dengan nilai pengorbanan yang setiap kali kita rayakan dalam Perayaan Ekaristi, yakni perayaan kurban Kristus bagi keselamatan manusia. Tidak hanya dalam agama kita saja, nilai pengorbanan juga dijunjung tinggi oleh saudara-saudari kita yang beragama Islam. Lihat saja suasana perayaan Idul Adha Korban yang saat ini terjadi! Makna korban dalam agama Islam memiliki dua dimensi yakni vertical dan horizontal. Arah vertical dari korban dimaknai sebagai bentuk ketakwaan dan keikhlasan umat kepada Allah. Sedangkan arah horizontal makna korban menyentuh dimensi sosial, yakni sadakah kepada mereka yang berkekurangan. Dalam hal ini makna korban memiliki kesamaan yang sama yakni sebagai bentuk persembahan diri kita kepada Allah dengan ikhlas, takwa, serta diwujudkan dengan sadakah/ berbagi kepada sesama. Paulus pun memberikan tekanan pada bentuk pengorbanan seperti itu ketika berbicara kepada jemaat di Roma; “… demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.

Di sini kita juga harus mengetahui keunikan makna ‘korban’ yang kita imani, yang membedakan makna korban dengan saudara-saudari kita yang lain. Kalau korban yang dilakukan oleh saudari-saudara kita yang lain merupakan bentuk pengorbanan dirinya sendiri dengan semangat sadakah, pengorbanan yang kita lakukan adalah pengorbanan dalam dan bersama Kristus. Artinya pengorbanan yang kita lakukan adalah persembahan terbaik kita sebagai ungkapan syukur oleh karena Kristus telah menebus dosa-dosa kita. Jadi, titik pusatnya bukan ada pada usaha manusia melainkan Kristuslah yang bertindak untuk menebus kesalahan manusia. Inilah ke-khas-an nilai pengorbanan Kristen. Jadi, pengorbanan yang terkadang sulit dan penuh penderitaan tidak kita alami sebagai perjuangan diri kita sendiri saja, tetapi pengorbanan demi persembahan diri kita kepada Allah BERSAMA dan DALAM KRISTUS. Inilah poin kedua renungan kita: pengorbanan dan persembahan diri kita kepada Allah dan sesama ada dalam dan bersama Kristus.

Jika kita berkorban dengan memandang Kristus, yakni bahwa pengorbanan kita ada dalam dan bersama Kristus, maka kita dipanggil untuk berbuat sesuatu. Kita tidak bisa diam saja terombang-ambing dengan ketidakjelasan, atau hanya berpangku tangan terlebih ketika melihat sesuatu yang tidak semestinya. Ingat bahwa perjuangan dan pengorbanan kita bersama dan dalam Kristus, sehingga kita perlu bertindak, berbuat sesuatu! Apa itu? St. Paulus mengatakan: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Dalam dan bersama Kristus … jiwa kita tidak bisa diam saja. Seperti pengalaman rohani nabi Yeremia yang mengungkap: “Dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”. Aku harus memilih dan melakukan sesuatu, meskipun pilihan itu sulit dan membutuhkan pengorbanan yang besar. Inilah yang kita sebut sebagai bentuk kepedulian dan itu menjadi poin ketiga renungan kita.

Nilai kepedulian di zaman sekarang semakin langka. Gaya hidup memaksa kita untuk tidak lagi peduli. Ingat bahasa gaul ‘kepo’? Bahasa ‘kepo’ itu mengkondisikan kita untuk tidak mau tahu keadaan orang lain. Tanya apa-apa dibilang kepo. Tanya kabar atau mau kemana, lagi apa, dikatakan kepo. So, kepo membuat orang malas bertanya dan diam. Kalau tidak disadari keadaan ini menggiring kita merasa nyaman dengan diam dan tidak perlu lagi tahu keadaan orang lain. Kita tidak perlu peduli dengan sekitar kita dan ketidakpedulian ini menjauhkan kita dari semangat berkorban. Keadaan seperti inilah yang tentang keras oleh Yesus. Ketika Petrus menegor Yesus oleh karena Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus tidak ingin Yesus menderita bahkan mati dibunuh. Padahal peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus adalah kehendak Allah Bapa demi kepentingan yang lebih besar, yakni keselamatan seluruh dunia. Yesus menegaskan bahwa mengikuti-Nya berarti harus bertindak dengan menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti-Nya. Jalan yang ditempuh Kristus bukanlah jalan kenyamanan diri. BUKAN! Tetapi jalan yang ditempuh Yesus adalah jalan ‘penderitaan’, jalan yang sulit bagi pemikiran manusia. Untuk itu Yesus mengecam Petrus dengan keras: “Enyahlah iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia".

Memang harus diakui bahwa peduli itu sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Namun, Yesus menekankan supaya kita memikirkan kepedulian itu dalam pikiran Allah jangan dengan pikiran manusia. Dalam hal ini jaminan kemenangan kita adalah Kristus. Artinya kepedulian yang kita lakukan dalam dan bersama Kristus tidak akan pernah sia-sia.

Maka sekali lagi, kita para murid Kristus tidak bisa diam saja. Kita harus berbuat sesuatu apalagi ketika di hadapkan pada pilihan-pilihan dalam kehidupan kita. Untuk itu kita perlu membekali diri dengan beberapa hal yang sudah kita renungkan di atas. Pertama, kita memilih sesuatu yang berdampak pada kepentingan yang lebih besar dan BUKAN atas dasar kepentingan diri sendiri. Ini berarti kita menyadari bahwa pilihan kita itu membutuhkan pengorbanan. Kedua, pengorbanan yang kita alami, kita arahkan bersama dan dalam Kristus sebagai bentuk persembahan diri kita kepada Allah dan sesama. Ketiga, Persembahan diri kita merupakan bentuk kepedulian yang harus dipertahankan dan dikembangkan setiap saat di tengah arus besar keegoisan dunia. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan kepeduliannya? (Fr. Ant. Hermawan Joko)